Mencegah Lupa…Diujung Kemajuan.….

Terminologi Agama dalam makna Ad-din adalah suatu ketentuan (peraturan) yang diturunkan Allah kepada para Nabi dan Rosul-Nya, untuk keselamatan dan kebahagiaan segenap umat manusia pada jamannya.
Peraturan tersebut mengandung tuntunan dan petunjuk, pelajaran dan pendidikan, ilmu dan amal, contoh teladan dan ibarat, dan segala sesuatu yang lainnya, dalam tiap lapangan dan tingkatan.
Peraturan yang mengatur hal yang kecil hingga yang besar, dari keperluan pribadi hingga kepentingan sosial, dari hal gaib maupun yang dhohir, mulai dari yang fana hingga yang kekal, dan mulai dari yang mikrokosmos hingga yang makrokosmos.
Apa yang dimaksud tersebut adalah segala sesuatu peraturan yang Allah yang diberlakukan untuk umat manusia untuk mengatur hidupnya. Yang mana manusia akan menghadapi ke kahadirat-Nya, untuk membuat perhitungan dan timbangan atas segala amal perbuatan yang dikerjakan semasa hidup di dunia.
Maka, manusia adalah makhluk Allah yang dianugerahi akal dan pengetahuan, faham , dan pengertian, yang mana dengan itu semua dapat dipergunakan untuk melakukan sesuatu selama hayat dikandung badan, semasa hidup didunia.
Kehidupan manusia didunia ini bergerak maju selangkah demi selangkah. Meninggalkan zaman lampau, untuk menghampiri masa depan. Cepat atau lambat waktu berlalu, tidak berhenti dari masa ke masa, abad ke abad, sejak manusia pertama diturunkan Allah ke muka bumi, hingga saat ini.
Aspek kehidupan manusia bergerak menuju sebuah kemajuan, kecanggihan, kecerdasan, ketinggian dan keluhuran serta kesempurnaan. Salah satu bukti kemajuan,ketinggian serta kesempurnaan yang dicapai manusia adalah ilmu dan pengetahun (wetenschap). Ilmu pengetahuan merupakan suatu kumpulan pengalaman, penjelajahan dan pendapat dalam kecerdasan akal manusia sepanjang masa .
Ilmu diuji dan disempurnakan dengan praktik, bukti dan kenyataan, melalui sebuah usaha dan eksperimen. Kemudian munculah hasil dari proses pengujian dan pembuktian tersebut sebuah kesimpulan dalam bentuk dan sifat-sifat tertentu, yang bisa dilihat, diraba, dicoba dan diteliti.
Kumpulan hasil kemajuan dan kecerdasan akal inilah melahirkan apa yang dinamakan teknologi (metode atau cara). Inilah bentuk kemajuan dan ketinggian akal manusia yang mampu melahirkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kemajuan ilmu dan teknologi dewasa ini telah melampaui masa yang pesat dan sangat tinggi sekali. Seolah-olah dengan ilmu dan teknologi, manusia menjadi kuasa, dengannya manusia bisa menguasai alam semesta ( darat, laut dan udara). Tidak terbayangkan sebelumnya, manusia bisa pergi dan dapat menjelajahi ke ruang angkasa.
Ilmu pengetahuan menjadi pangkal dan dasar manusia dalam berbuat dan berfikir. Manusia tidak dapat menghindarkan dan melepaskan diri dari keberadaan ilmu pengetahuan. Kemajuan ilmu pengetahuan telah jauh meliputi dan menguasai diri manusia. Hingga menjadikan manusia sangat tergantung kepadanya.
Hal inilah yang menjadi asbabun-nuzul manusia mulai dipemainkan oleh hasil produk sendirinya sendiri yaitu ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada jaman ketinggin ilmu pengetahuan ini (jaman modern) manusia telah mulai lupa terhadap eksistensinya sebagai makhluk Allah, yang memiliki kewajiban berbakti kepada yang menciptakannya.
Dengan kemajuannya, orientasi dan tujuan hidup manusia mulai menunjukan gejala pergeseran. Manusia pada jaman ini sudah menunjukan gejala memper-Tuhan-kan kepada sesuatu yang diperolehnya dengan berfikir, dan benda yang dihasilkan dengan ilmu pengetahuan tersebut.
Inilah faham modernitas (materialisme) yang sedang mewabah dalam diri manusia saat ini. Mereka silau dengan kecemerlangan dunia dan hasil pengetahuan yang dihasilkannya, dan lupa kepada Sang Pembuat Dunia dan Pencipta Manusia. Lupa kepada Sang Pembuat, maka akan lupa kepada perintah dan kewajibannya berbakti kepada Allah SWT.
Setinggi-tingginya bangau terbang, jatuhnya ke kubangan juga. Setinggi-tingginya ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah dicapai manusia. Tetapi apa yang ditemukannya, diperolehnya, dan ditelitinya serta di yakininya hanya benda dan alam yang kosong belaka. Yang pada akhirnya menyebabkan tidak tahu dan tidak taat kepada Allah yang Maha Pencipta patut disayangkan.
Ilmu pengetahuan yang semestinya mampu diperalat oleh manusia, malah sebaliknya memperalat pendirian dan sikap manusia. Menjadi sembahan dan tujuan hidup manusia. Perlombaan manusia dalam menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi telah membuktikan membawa kehancuran dan kemadharatan.
Sejarah menunjukan kemajuan pengetahuan telah membawa kehancuran dan penderitaan umat manusia. Bom nuklir sekutu yang membumi hanguskan Negeri Jepang adalah bukti nyata. Bagiamana kesombongan dan kecongkakan manusia telah menghilangkan rasa solidaritas dan kasih sayang atas sesamanya.
Inilah realitas bahwa betapa sempitnya pandangan manusia dan terlampau berat sebelah dalam mempergunakan pengetahuan yang dikuasainya.
Apa gerangan yang akan terjadi atas semua itu ? Sebagian besar belahan dunia akan menghadapi kehancuran dan kerusakan karena nafsu manusia yang mendiami bumi ini. Nafsu yang anti Tuhan yang sekarang sedang bersemayam dalam dada manusia yang menganut faham materialisme.
Dengan tamsil ini saja telah sampai pada kesimpulan, bahwa umat manusia telah mendewakan ilmu pengetahuan dan barang temuanya sendiri. Yang suatu saat nanti akan membunuh diri manusia sang pembuat ilmu pengetahuan itu sendiri (senjata makan tuan).
Dengan lautan faham modernitas, dan materialisme, sejengkal demi sejengkal telah menyeret manusia untuk mulai menafsirkan dan menyesuaikan agama dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang dimilikinya.
Dalam hal ini kita harus pandai membatasi diri, jangan terjerumus pada kesimpulan “Islamharus sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ”. mereka mengharapkan Islamharus sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (wetenschap). Seharusnya wetenschap yang menyesuaikan dengan islam, wetenschap dipergunakan untuk memperluas, memperdalam dan menyempurnakan amal dan pelaksanaan ajaran islam. Jadi kesimpulan islamitisch wetenschap, atau wetenschap islamis, (Islamyang diper-wetenschap-kan) adalah kesimpulan yang salah dan menyesatkan.
Islam pada dasarnya mempunyai sifat-sifat yang constant (tetap), sedangkan ilmu manusia senantiasa berubah-ubah (variatif), berkurang atau bertambah, menurut ukuran waktu dan jamannya. Dalam aksioma dikenal dengan konstanta dan variabel. Variabel adalah peubah yang belum diketahui nilainya dengan jelas. Konstanta adalah nilai yang tetap dan tidak memiliki variabel. Sesuatu yang berubah-ubah (variabel) tentu memiliki ketidakpastian. Pertanyaanya apakah yang sesuatu yang variatif dapat dijadikan acuan dan tolok ukur?
Dalam konteks ini, ilmu manusia yang sifatnya variatif, jika head to head dengan ajaran Islam yang bersifat konstan, manakah yang layak untuk dijadikan acuan dan pedoman. Mestikah aturan yang konstan mengikuti yang variatif, atau sebaliknya aturan yang variatif mengikuti yang konstan.
Hatta, Islam boleh bertentangan dengan kehendak pengetahuan dan pemhaman manusia. Tapi pengetahuan manusia tidak boleh bertentangan dengan kehendak ajaran Islam. Yang constant tetaplah konstan (tetap) yang berubah harus menyesuaikan kepada aturan yang tetap. Jangan dibalik-balik.
Bukan bermaksud hendak meminggirkan peran ilmu pengetahuan dan teknologi dalam perikehidupan manusia, akan tetapi bagaimana perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dicapai manusia dapat memberikan kemasalahatan dan keselamatan. Menuntut ilmu wajib hukumnya, ajaran Islam telah menetapkan garis yang tetap terhadap kewajiban menuntut ilmu. Akan tetapi ilmu yang diperoleh umat manusia harus mampu menghantarkan manusia menjadi makhluk yang mulia dengan jalan melaksanakan ilmu dan amalnya dalam koridor ajaran islam.


Refleksi diawal September 2018
Oleh : Dandan Hendayana,