Membaca metode mengajar seperti melihat perilaku pembaca Grup WA

Tatkala kita membuka aplikasi medsos, seperti whatsapp, facebook, twitter dsb,  kemudian terupload disana sebuah postingan berupa artikel, kisah,  pengalaman, cerita,  pesan moral, tausiah,  ataupun semisalnya, yang mana cerita tersebut mengandung muatan positif,  inspiratif,  memotivasi,  bahkan contoh teladan yang baik.  Dimana postingan tersebut sarat dengan ide, informasi yang menimbulkan  imaginasi yang menunutun,  membimbing,  dan mengarahkan pada hal hal,  sikap, bahkan tindakan yang luhur dan terpuji.

Tujuan atau obsesi dari sang pengupload memposting konten tersebut bisa saja,  hanya sekedar pesan berantai (referal shared) dari grup sebelah, atau adanya interest edukatif, social care,  perasaan humanis,  dsb.

Tujuan dengan terkirimnya pesan akan tercapai manakala munculnya beragam respon terhadap isi konten yang diupload.

Dalam posisi ini sang penguploadnya merasa penasaran bagaimana respon yang muncul dari pembaca yang telah ceklis biru (membaca pesan yang telah disampaikan).

Beragam respon yang muncul dari pembaca yang berstatus ceklis biru tersebut,  ada yang merespon secara ikonik (symbol emoticon dsb), kalimat pendek tanda setuju, atau bahkan silent sama sekali (no respon).

Bilamana respon dari pesan yang diupload telah muncul, apakah pesan moral yang terkandung dalam konten tersebut akan memiliki arti yang jauh lebih bermakna.?   Bermakna dalam arti pesan moral tersebut bagi si pembaca diinternalisasi dalam sikap hidupnya.

Jawabannya belum tentu, karena sang pemberi respon belum tentu memiliki prosedur dalam dirinya bagaimana cara membaca dan menyikapi pesan moral yang diterima nya.

Dan bagaimana dengan pembaca yang silent,  apakah dia di stempel menjadi orang yang apatis, an-moralis,  dan skeptis. Jawabannya juga belum tentu.

Lalu bagaimana cara mendeteksi sikap orsinil dari pembaca dengan menangkap respon yang munculkan.

Salah satunya adalah dengan menentukan titik terjauh, tingkatan tertinggi dalam taksonomi kognitif pembaca,  yaitu stage analisis dan sintesis.

Dalam mekanisme membangun perubahan perilaku kognitifisme dikenal tahapan prosedur mulai dari : mengetahui, mengerti, memahami,  analisis dan sistesis.

Artinya jika konten muatan edukatif telah tersampaikan, kemudian bagaimana feedback dari pembaca ? apakah hanya sekedar mengirim ikon saja,  atau kalimat pendek tanda setuju,  atau bahkan hanya ceklis biru saja.

seyogianya jika ingin pesan edukatif ini berhasil,  harus ada respon yang muncul berupa tanggapan operasional yang bersifat analitik.

karena kemampuan analitik muncul setelah melewati stage tahu,  mengerti,  dan paham.

dengan demikian sang pengupload dapat mengetahui pembaca mana yang memiliki ketertarikan dan minat yang besar terhadap konten pesan,  dapat dilihat dengan respon balasannya.

####

Nah,  barangkali guru ibarat sang pengupload pesan,  dan  sang pengamat respon balasan pembaca.

sejauhmana sang pengupload dan sang pengamat dapat kompak memahami standar proses dalam mengukur keberhasilan pesan moral dalam kegiatan pembinaan.

guru harus menetapkan titik terjauh atau tingkatan tertinggi dari tingkatan kognitif yang ingin dicapai.  Setiap pesan atau konten materi yang diupload oleh guru harus ditetapkan titik terjauh respon pembacanya (warga peserta didiknya).

peran guru menjadi penting dalam membaca respon peserta didiknya, apakah sudah sampai pada tahap tertinggi (internalisasi) dalam bentuk analitik skill..?

….by. kangmas