Psikologi kepribadian manusia dalam memandang waktu..

Dalam tinjauan psikologi kepribadian kebiasaan manusia dalam memandang waktu astral-travelterbagi dalam tiga katagori, yakni lampau (past),  sekarang (present) dan masa depan (future).

Sayangnya tidak semua orang menyadari bahwa setiap individu memiliki cara yang berbeda dalam memandang waktu. Apakah ia lebih cenderung ke masa lalu,  sekarang atau masa depan.  Cara seseorang memandang waktu refleksi dari caranya memandang dan menjalani kehidupan.

Kecendrungan seseorang dalam memandang waktu ini disebut dengan istilah temporal bias. Disebut bias karena dalam berbagai aspek kehidupan yg dijalani akan cenderung dipandang dari kacamata waktunya tersebut (lampau, sekarang atau masa depan).

  1. Orang yg memiliki cara pandang waktu masa lalu biasanya susah sekali untuk move on (gagal move on). Semua kejadian masa lalu baik yg positif maupun yg negatif akan selalu di kenangnya.  Memorinya kerap digunakan untuk memainkan kembali kejadian yg telah usai.  Kekalahan,  kehilangan,  kegagalan,  seakan akan tak lekang menghampiri.
  1. Orang yg mempunyai personalitas “saat ini” mereka hanya berfikir apa yg terjadi saat ini adalah sesuatu yg harus dijalani dan dinikmati saja.  Tidak ada kepedulian terhadap sesuatu yg akan terjadi pada esok hari dan lusa. Sangat minimal untuk memikirkan tentang konsekuensi di kemudian hari.  Mereka terkadang mengalami kesulitan dalam merumuskan langkah langkah baru manakala berhadapan dengan problem yg dihadapi saat ini. Karena keyakinan dalam dirinya bahwa esok tidak akan ada perubahan yg berarti. Tak ada lagi harapan untuk bisa diubah,  karena masa depan sudah tertutup.
  1. Mereka yg mempunyai temporal bias masa depan,  adalah orang yg mempunyai visi dan misi secara jelas. Sebagian manusia memang sulit untuk melihat yang akan terjadi di masa depan.

Bagi seorang leader sangat jelas bahwa cara pandang visi ke depan sangat diperlukan.  Seorang leader yg tangguh bisa membaca arah perubahan masa depan bukan hanya untuk jangka waktu 1 tahun,  minimal 20 tahun bahkan sampai 50 tahun.

Banyak lembaga, organisasi,  sangat memerlukan type mereka ini.  Hanya saja hanya sedikit  yg bisa memiliki kemampuan temporal bias seperti ini.

Manakah yang cocok sebagai solusi ? Tidak ada satu pun jawaban yg cocok.  Yang paling baik adalah ketika seseorang mengkombinasikan cara pandang temporal bias ini secara seimbang. Fleksibel,  kapan harus mengambil cara berfikir masa lalu,  kapan harus menggunakan kacamata sekarang,  dan piawai melihat peluang masa depan.

Karena setiap seorang leader harus mempertimbangkan masa lalu,  melihat kenyataan saat ini dan cakap dalam mengantisipasi perubahan yang akan terjadi.

Dalam manajemen operasi baik perusahaan, organisasi,  lembaga pemerintahan,  bahkan lembaga sosial keagamaan pun,  kepiawaian dalam memformulasikan persoalan yg dihadapi sejatinya harus menyeimbangkan aspek value yg terkandung dalam setiap fase waktu,  baik di masa lalu,  saat ini dan masa depan.

Jika negara dalam situasi saat ini sedang banyak hutang,  maka dengan menambah hutang  lagi jelas bukan seorang pemimpin negara yg visioner.  Karena hanya akan mewariskan kebangkrutan bagi generasi yang akan datang.

Begitu juga jika dalam setiap persoalan operasi sebuah organisasi berjalan mandeg,  dan tidak melalukan suatu langkah yg dramatis buat merubah keadaan maka hal ini hanya akan mengakibatkan perulangan kegagalan.

Jika suatu langkah operasional sudah dianggap tidak berhasil maka akan konyol namanya jika mengulanginya lagi.  Jika target operasional dengan strategi tertentu tidak berhasil maka sejatinya harus mengganti strategi baru, dengan pertimbangan kondiisi masa depan tentunya.

Di dunia hanya ada satu penelitian yang melihat tentang otak mana yang bekerja ketika manusia berfikir dengan cara  pandang terhadap waktu ini.

Terlepas dari ketiga jenis temporal bias tersebut,rupanya bagian otak yang bekerja dalam hal ini adalah bagian otak yang berada tepat di belakang dahi prefrontal cortex (PFC).  PFC berperan penting dalam mengatur kacamata waktu yang dimiliki manusia.

Untuk kita umat islam,  tentu ini sebuah hikmah,  mengapa kita diperintah bersujud 5 kali dalam dehari, 150 kali dalam sebulan,   1800 kali dalam setahun.

Meletakan PFC dalam sholat kurun waktu 5 kali sehari ,  150 kali dan 1800 kali adalah kehendak YANG MAHA KUASA untuk mencerdaskan umat islam dalam memenej urusan berkaitan dalam cara pandang dlm mengelola persoalan.  Dengan frekuensi sujud sebanyak itu flekaibilitas dalam mengatur kacamata orientasi persoalan lebih mudah untuk di mapping dan di pecahkan.

Dengan memiliki kemampuan temporal bias semacam ini maka kepandaian dan kepiawaian dalam mengelola target operasi urusan kegiatan apapun termasuk tugas pokok dan fungsi manusia baik dalam ibadah,  sosial dsb niscaya bisa lebih baik dan maksimal.

Kemarin adalah masa lalu,  sekarang adalah hari Ini,  dan selanjutnya adalah masa depan. Kita tingkatkan fleksibilitas kacamata waktu dengan sujud dan kita tingkatkan kualitas operasional demi mengejar cita cita yang telah di tetapkan.

Tetaplah melihat segalanya dengan optimis dan jangan lah berhenti belajar dan berusaha, semoga Alloh memberikan kelapangan dan kemudahan dalam menggapai..segala urusan-Nya.

Amiin…