AGAMA DAN ILMU PENGETAHUAN (MANUSIA)

Bismillahirrahmanirrahim……

 Agama dalam makna Ad-din adalah suatu ketentuan (peraturan) yang diturunkan Allah kepada para Nabi dan Rosul-Nya, untuk keselamatan dan kebahagiaan segenap umat manusia pada jamannya. Peraturan tersebut mengandung tuntunan dan petunjuk, pelajaran dan pendidikan, ilmu dan amal, contoh teladan dan ibarat, dan segala sesuatu yang lainnya, dalam tiap lapangan dan tingkatan. Mulai hal yang kecil hingga yang besar, mulai keperluan pribadi hingga kepentingan sosial, alam gaib maupun yang dhohir, mulai dari yang fana hingga yang kekal, mulai dari yang mikrokosmos hingga yang makrokosmos.

Apa yang dinamakan agama tersebut adalah segala sesuatu peraturan yang Allah yang diberlakukan untuk umat manusia untuk mengatur hidupnya, yang mana manusia akan menghadapi ke kahadirat-Nya, untuk membuat perhitungan dan timbangan atas segala amal perbuatan yang dikerjakan semasa hidup di dunia.

Maka, manusia adalah makhluk Allah yang dianugerahi akal dan pengetahuan, faham , dan pengertian, yang mana dengan itu semua dapat dipergunakan untuk melakukan sesuatu selama hayat dikandung badan, semasa hidup didunia.

Hidup dan kehidupan manusia didunia ini bergerak maju selangkah demi selangkah, meninggalkan zaman lampau, menghampiri masa depan. Cepat atau lambat waktu berlalu tidak berhenti dari masa ke masa, abad ke abad, sejak manusia pertama diturunkan Allah ke muka bumi, hingga saat ini.

Proses kehidupan manusia bergerak menuju sebuah kemajuan, kecanggihan, kecerdasan, ketinggian dan keluhuran serta kesempurnaan, dalam segala aspek kehidupan. Salah satu bukti kemajuan dan ketinggian serta kesempurnaan yang dicapai manusia adalah ilmu dan pengetahun (wetenschap). Yang merupakan suatu kumpulan pengalaman, penjelajahan dan pendapat dalam kecerdasan akal manusia sepanjang masa, itulah ilmu pengetahuan.

Ilmu diuji dan disempurnakan dengan praktik, dengan bukti dan kenyataan, melalui sebuah usaha dan eksperimen. Kemudian munculah hasil dari proses pengujian dan pembuktian tersebut sebuah kesimpulan dalam bentuk dan sifat-sifat tertentu, yang bisa dilihat, diraba, dicoba dan diteliti. Kumpulan hasil kemajuan dan kecerdasan akal inilah melahirkan apa yang dinamakan technologi (teknik atau cara). inilah bentuk hasil usaha dari kemajuan dan ketinggian akal manusia yang mampu melahirkan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kemajuan ilmu dan teknologi dewasa ini telah melampaui masa masa yang pesat dan sangat tinggi sekali. Seolah olah dengan ilmu dan teknologi menjadikan manusia menjadi maha kuasa, yang dengan ilmu dan teknologi bisa menguasai alam semesta ( darat, laut dan udara). tidak terbayangkan dulu manusia bisa pergi ke ruang angkasa, dengan ilmu pengetahuan dan teknologi  manusia dapat menjelajahi angkasa raya.

ilmu pengetahuan  menjadi pangkal dan dasar manusia dalam berbuat dan berfikir, manusia tidak dapat melespaskan dan menghindarkan diri dari keberadaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ilmu pengetahuan telah jauh meliputi dan menguasai diri manusia, hingga menjadikan manusia sangat tergantung kepada ilmu pengetahuan dan teknologi . Hal inilah yang menjadi sebab awal manusia mulai dipemainkan oleh hasil produk nya sendiri yaitu ilmu pengetahuan dan teknologi  yang diketemukannya sendiri. Manusia pada jaman ketinggin ilmu pengetahuan ini (jaman modern) sudah mulai lupa terhadap eksistensinya sebagai makhluk Allah, yang memiliki kewajiban berbakti kepada yang menciptakannya.

Dengan kemoderenannya, orientasi dan tujuan hidup manusia mulai menunjukan gejala pergeseran, manusia pada jaman modern ini sudah menunjukan gejala memper-Tuhan-kan kepada sesuatu yang diiperolehnya dengan berfikir (ilmu pengetahuan ), benda yang dihasilkan dengan ilmu pengetahuan tersebut.

Inilah faham modernitas (materialisme) yang sedang mewabah dalam diri manusia saat ini. Manusia silau dengan kecemerlangan dunia dan hasil pengetahuan yang dihasilkannya, dan lupa kepada yang Pembuat dunia dan Pencipta manusia. Lupa kepada Sang Pembuat, maka akan lupa kepada perintah dan kewajibannya berbakti kepada Allah SWT.

Setinggi-tingginya bangau terbang, jatuhnya ke kubangan juga, tegasnya setinggi-tingginya ilmu pengetahuan dan teknologi  yang telah dicapai manusia menembus ruang angkasa, tetapi apa yang ditemukannya, di perolehnya, dan ditelitinya serta di yakininya hanya benda,alam yang kosong belaka. Tidak tahu dan tidak taat kepada Allah alias buat kepada yang Maha Pencipta patut disayangkan.

ilmu pengetahuan dan teknologi  yang semestinya mampu diperalat oleh manusia, malah sebaliknya memperalat pendirian dan sikap manusia, menjadi sesembahan dan tujuan hidup manusia. Perlombaan manusia dalam menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi  telah membuktikan membawa kehancuran dan kemadharatan.

Sejarah menunjukan kemajuan pengetahuan dan teknologi  telah membawa kehancuran dan penderitaan umat manusia ; bom nuklir sekutu yang membumi hanguskan Negeri Jepang adalah bukti nyata. Bagiamana kesombongan dan kecongkakan manusia telah menghilangkan rasa solidaritas dan kasih sayang atas sesamanya. Ini lah realitas bahwa betapa sempitnya pandangan manusia dan terlampau berat sebelah dalam mempergunakan pengetahuan dan teknologi  yang dikuasainya.

Apa gerangan yang akan terjadi atas semua itu ? sebagian besar belahan dunia akan menghadapi kehancuran dan kerusakan karena nafsu angkara murka manusia yang mendiami bumi ini. Nafsu angkara murka yang anti Tuhan yang sekarang sedang bersemayam dalam dada manusia yang menganut faham materialisme.

Dengan tamsil (contoh) ini saja telah dapat pada suatu kesimpulan bahwa umat manusia yang mendewakan ilmu pengetahuan dan  barang temuanya sendiri, suatu saat kelak akan membunuh diri manusia sang pembuat ilmu pengetahuan (senjata makan tuan).

Dengan lautan faham modernitas, dan materialisme, sejengkal demi sejengkal telah menyeret manusia untuk mulai menafsirkan dan menyesuaikan agama dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi  yang dimilikinya.

Dalam hal ini kita harus pandai membatasi diri, jangan terjerumus pada kesimpulan “islam harus sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ”. mereka mengharapkan islam harus sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi  (wetenschap). seharusnya wetenschap yang menyesuaikan dengan islam, wetenschap dipergunakan untuk memperluas, memperdalam dan menyempurnakan amal dan pelaksanaan ajaran islam. Jadi kesimpulan islamitisch wetenschap, atau wetenschap islamis, (islam yang diper-wetenschap-kan) adalah kesimpulan yang salah dan menyesatkan.

Islam pada dasarnya mempunyai sifat-sifat yang constant (tetap), sedangkan ilmu manusia sennatiasa berubah-ubah (variatif), berkurang atau bertambah, menurutu ukuran waktu dan jaman nya. Artinya kalau perlu islam boleh bertentangan dengan kehendak pengetahuan dan pemhaman manusia. Tapi pengetahuan manusia tidak boleh bertentangan dengan kehendak ajaran islam. yang constant tetaplah konstan (tetap) yang berubah harus menyesuaikan kepada aturan yang tetap. Jangan dibalik-balik.

Bukan bermaksud hendak meminggirkan peran ilmu pengetahuan dan teknologi  dalam perikehidupan manusia, akan tetapi bagaimana perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi  yang dicapai manusia dapat memberikan kemasalahatan dan keselamatan. Menuntut ilmu wajib hukum nya, ajaran islam telah menetapkan garis yang tetap terhadap kewajiban menuntut ilmu. Akan tetapi ilmu yang diperoleh umat manusia harus mampu menghantarkan manusia menjadi makhluk yang mulia dengan jalan melaksanakan ilmu dan amalnya dalam koridor ajaran islam.

Admin.kms.2018/04