Berfikir dialektik paradoksal kompleks, unik sekaligus membingungkan

Gaya Berfikir bangsa kita,….Unik Sekaligus Membingungkan.

Salah seorang tokoh yang punya pengaruh besar bangsa ini pernah mengatakan;  “Bangsa kita adalah bangsa yang perasa” 

(asal usul dari   sebutan itu saya kurang tahu…asalnya darimana…tapi sedikitnya saya ingin mencoba menerka seperti apa cara berfikir bangsa ini…?

39b622d8b88283e1a072b737bf102ccb

Dalam terminologi ( istilah) cara berfikir, dikenal dengan istilah rasional dan irasional. Ya….hanya ada dua metode cara berfikir…yaitu berdasarkan logika ( rasional) dan sebaliknya tidak berdasarkan logika (irasional). Gaya berfikir yang pertama ini sarat dan rigid dengan prosedur dan kaidah. Sehingga memerlukan pendalaman dan penguasaan yang kaidah kaidah cara berfikir yang rumit dan kompleks. Karena memang cara ini mendasarkan alam pikirnya pada konsep dan hukum hukum alam yang nyata, dan diterima oleh umum, melalui sebuah pembuktian. Sehingga hasilnya pun lebih ajeg dan kongkret

Sementara cara yang kedua lebih mengedepankan aspek diluar nalar dan logika, semisal emosi dan perasaan. Seringkali cara berfikir ini kelihatannya dianggap tidak masuk akal ( anggapan dari   kaum rasional). Karena yang lebih dikedepankan adalah ” rasa” bukan fakta. Sehingga output dihasilkan dengan cara ini bersifat relatif ( lagi lagi    anggapan dari   kaum rasional).

Kebanyakan bangsa di dunia lebih cenderung memggunakan metode pertama, karena   alasan-alasan tadi seperti disebut diatas. Mungkin sebagian bngsa lain di bumi ada yang menggunakan metode kedua ( saya kurang tahu…bangsa mana dan siapa..)

Akan tetapi khusus bagi bangsa kita, cara berfikirnya menjadi unik, yaitu dengan cara menggabungkan dua metode tersebut . Atau dengan kata laim membuat irisan antara metode pertama dengan metode kedua.

Metode berfikir seperti ini nampaknya bersifat eksklusif…dan menjadi kekhususan tersendiri.

Ciri dari metode berfikir eksklusif seperti ini adalah menerima kenyataan sebagai bukti kebenaran, tetapi tidak bisa menerima secara keseluruhan. Begitu juga sebaliknya menolak kenyataan sebagai bukti kesalahan, tetapi tidak bisa membuang secara keseluruhan.

Gaya berfikir seperti ini di sebut dengan dialektik paradoksal kompleks.

Yaitu ” menerima sebagian tidak utk keseluruhan, dan menolak sebagian tidak utk keseluruhan”

Sebagai contoh misalnya gaya berfikir Soekarno ( dalam catatatan autobiografinya yang ditulis Cindy Adam) mengatakan bahwa ” saya adalah orang kiri, tapi saya bukan komunis”.

Definisi dan konteks dari orang kiri yang dimaksud Soekarno adalah orang dengan paham komunis. Tapi Soekarno mengakui bahwa dia bukan komunis.

Inilah fenomena dialektika paradoksal kompleks yang saya maksud.

Dia bermaksud mengatakan menerima ajaran komunis, tapi tidak menerima secara keseluruhan. Karena Soekarno faham bangsa ini membenci faham atheisme komunisme. Tapi Soekarno tidak menolak faham komunisme secara utuh, karena dia membutuhkan faham sosialisme komunismenya. Artinya Soekarno menerima faham komunisme di satu sisi, dan menolak faham komunisme di sisi lain ( hehe…bingung kan..)

Soekarno menerima sebagian dan menolak sebagian. Soekarno mengambil sebagian dan tidak membuang sebagian faham komunisme nya.

Celakanya….jika faham gaya berfikir ini di bawa dalam ajaran dan ideologi islam…bisa bahaya…

Menerima sebagian dan menolak sebagian.

Percaya dan menerima  bahwa islam adalah agama yang selamat dan menyelamatkan.

Tetapi tidak sepenuhnya menerima islam sebagai agama yang menyelematkan, karena belum sepenuhnya membuang faham diluar islam. Artinya menerima sebagian dan menolak sebagian.

Sementara panggung nalar logika islam hanya mengenal dua katagori menerima totalitas dan menolak totalitas juga.

Kalo beriman , berimanlah dengan total…

Kalo menolak, ingkarlah dengan total juga ..

Gak bisa berada dlm gray area….(daerah abu abu…).

Penulis ; admin_kms 2018