Metode beramal sholeh yang sempurna

Bismillahirrahmanirrahim……

Jalan yang sempurna dalam melaksanakan amal perbuatan yang sholeh menurut islam adalah dengan 2 (dua) jalan :

  1. Amal al-hadits alal hadits,yakni amal manusia dalam badan jasmaniahnya (jasadiyah) kepada alam atau keadaan yang dihadapinya.
  2. Amal al-hadits alal qodim,yakni amal manusia dalam badan rohaninya terhadap Allah SWT.

Kedua jalan itu berbeda tapi tidak terpisah. Satu sama lain saling membutuhkan, sehingga tidak dapat dijalankan satu persatu. Jika kita menghendaki amal yang sempurna, maka sewajibnya lah kedua jalan amal tersebut dilaksanakan bersama-sama.

Untuk mengetahui Amal al-hadits alal hadits, haruslah kita mengetahui 3 (tiga) hal :

  1. Orang yang menjalankan (manusia), terutama jasmani (jasad) atau subjek atau Fail
  2. Sesuatu yang dapat dilakukan, yaitu sesuatu yang dilihat; dimakan,diminum,dibaca, dsb, yang dinamakan Objek atau Maf’ul.
  3. Perbuatan yang dilakukan, yaitu Fi’il atau predikat

Ketiga hal tersebut (Fail,Maf’ul, dan Fi’il) harus berdiri diatas hukum syara yang nyata yaitu ; wajib, sunnat, mubah, makruh dan haram. Sehingga suatu amal perbuatan menjadi amal sholeh yang sempurna, jika ketiga hal tersebut sudah cukup kuat dan sah dijalankan sepanjang sesuai dengan hukum syara. Hukum wajib atas Fail dan halal atas Maf’ul maka akan wajib menjalankannya, wajib atas Fi’il nya.

Jika kita telah mengetahui jalan Amal al-hadits alal hadits, maka perlulah kita mengetahui dan mengerti jalan Amal al-hadits alal qodim, yang juga terdiri atas 3 hal :

  1. Manusia yang menjalankan atau berbuat sesuatu, subjek. Tapi disini bukan dalam artian jasmani, melainkan rohani. Yakni jiwa manusia yang bertanggung jawab atas tiap tiap amal yang dilakukan atau ditinggalkan. Bagian rohani manusia yang berbakti kepada Allah SWT itu yang dinamakan “Abid
  2. Dzat yang menjadi maksud dan tujuan Abid itu berbakti. Maka Dzat yang wajib dibakti itu dinamakan Ma’bud yang disini maksudnya ialah Allah SWT.
  3. Karena perbaktian itu dilakukan oleh Abid kepada Ma’bud-nya, maka Fi’il atau predikat disini dinamakan “Ibadah”.

Dengan demikian maka jelaslah bahwa pada dhohirnya yang nampak hanya Fail bagian jasmani, tapi pada hakikatnya jasad manusia itu hanyalah satu perkakas/alat belaka. Sebab diam dan geraknya Fail bagian jasad tersebut tergantung kepada bagian rohaninya (Abid). Misalnya “seseorang membaca Al-Qur’an”. jika ditanya siapa Failnya ? jawabnya Failnya ialah mulut. Lalu Siapa atau apa maf’ul nya ? jawab maf’ul nya ialah Al-Qur’an. Dan siapa atau apa Fiil nya atau manakah perbuatannya ? jawab fiil nya adalah “bacaan yang keluar dari mulutnya”.

Jika ditanya siapakah Abidnya ? Jawab “ Ruh Manusia”. Tanya “siapakah Ma’bud nya ? jawab “ Allah SWT”. Tanya “ manakah ibadahnya ?” Jawab “ Membaca Al-Qur’an dengan lillahi ta’ala.

Jadi suatu perbuatan dapat dianggap “amal yang sholeh “ kepada Allah SWT, jika cukup syarat dan rukunnya seperti yang disebut diatas. Amal perbuatan yang demikian itulah yang wajib dilaksanaan oleh umat islam.

Sekarang misalnya jika suatu amal perbuatan yang nampaknya dianggap baik, Failnya baik, maf’ul nya baik dan fiil nya juga baik, seperti bacaan Al-Qur’an tersebut diatas. Akan tetapi jika Abid-nya tidak tahu siapa Ma’bud yang sebenarnya, maka amal yang diperkirakan baik dan benar menurut hukum syara, bisa salah dan keliru bahkan sesat.

Kalau membaca Al-Qur’an untuk menyembah syaitan (iblis), tentulah tidak wajib hukum nya, meskipun yang dibacanya adalah ayat suci, bukan termasuk amalan yang sholeh.

Sebaliknya, suatu amal perbuatan Amal al-hadits alal qodim, tidak boleh melalaikan dan meninggalkan Amal al-hadits alal hadits. Sebab suatu amal ibadah tidak dianggap sah jika tida ada persaksiannya (Fail,Maf’ul, dan Fi’il).

Didalam melaksanakan amal perbuatan tidak boleh meninggalkan salah satunya, baik bagian jasadnya maupun rohaninya. Itulah ajaran islam memberikan tuntunan dalam beramal sesuai dengan perintah Allah dan sesuai dengan contoh dan Sunnah Nabi Muhammad SAW.

Dengan melihat metode cara beramal tersebut diatas, sebagian ulama membagi tiga golongan manusia dalam beramal :

  1. Golongan muta’awilah ; golongan yang cakap dan cukup untuk melaksanakan amal ibadah  Amal al-hadits alal hadits (Fail,Maf’ul, dan Fi’il) . Akan tetapi tidak memahami dalam ibadah Amal al-hadits alal qodim,(Abid,Ma’bud, dan ibadah). golongan ini dapat dikatakan orang yang menjalankan perintah islam tetapi tidak mempunyai iman yang penuh kepada Allah SWT.
  2. Golongan muta’akhirah ; kebalikan dari muta’awilah, orang yang penuh kepercayaannya   kepada Allah SWT, Amal al-hadits alal qodim, (Abid,Ma’bud, dan ibadah). Akan tetapi tidak memahami dalam ibadah Amal al-hadits alal hadits (Fail,Maf’ul, dan Fi’il). golongan ini dapat dikatakan orang yang mempunyai iman yang penuh kepada Allah SWT, tetapi tidak menjalankan syariat Nabi Muhammad SAW.
  3. Golongan muta’wasithah ;  golongan orang yang mempunyai iman yang penuh kepada Allah SWT, Amal al-hadits alal qodim, (Abid,Ma’bud, dan ibadah), dan menjalankan syariat Nabi Muhammad SAW, Amal al-hadits alal hadits (Fail,Maf’ul, dan Fi’il).

Golongan muta’wasithah imannya kepada Allah SWT meresap kuat meliputi ruh, hati dan af’al nya. Islamnya menjalar kuat keseluruh badan jasadnya, panca inderanya, dsb. Sehingga iman yang kuat menjadi pendorong terhadap amal perbuatan yang dikerjakannya.

Persatuan iman dan islam, iman yang penuh kepada Allah SWT, Amal al-hadits alal qodim, (Abid,Ma’bud, dan ibadah), dan menjalankan syariat Nabi Muhammad SAW, Amal al-hadits alal hadits (Fail,Maf’ul, dan Fi’il). kedua jalan ini tidak bisa dipisahkan.

Admin.kms.2018/04