Perang Sabil vs Perang Salib IV ; PERANG DIPONEGORO (PERANG JAWA)

Sebelum kita melangkah lebih jauh untuk membicarakan sekitar ‘Perang Jawa’,sebaiknya kita berbicara serba sedikit tentang pelaku-pelaku utama dari perang Jawa tersebut, untuk mendapat gambaran mengenai corak perang yang menggoncangkan eksistensi kekuasaan kolonial Belanda di Indonesia.

Pangeran Diponegoro, menurut Babad Diponegoro yang ditulisnya sendiri di Penjara Menado, menceritakan bahwa ia sejak muda telah mengabdi pada agama, mengikuti

jejak dan hidup moyangnya yang sangat taat pada agama. Moyangnya itu tinggal di Tegalrejo. Untuk menghindari diri dari pengaruh kraton Yogyakarta, ia tinggal bersama neneknya di Tegalrejo.

Di tempat ini, selain memperdalam pengetahuannya tentang Islam, ia juga secara tekun untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan syari’at Islam. Hal ini menyebabkan ia kurang senang mengikuti kakeknya Sultan Yogyakarta dan karenanya jarang sekali datang di kraton, kecuali pada waktu perayaan Grebeg, seperti perayaan Maulud Nabi Muhammad SAW, Hari Raya Idul Fithri dan Idul Adha dimana kehadirannya diharuskan.

Pada waktu ia berumur 20 tahun telah berhasrat hidup sebagai fakir (sufi), sehingga seringkali keliling mengunjungi masjid, di mana ia dapat bergaul dengan para santri. Dibagian lain dari bukunya itu, Diponegoro bercerita, ketika ia sedang berada di gua Secang, ia dikunjungi oleh seorang berpakaian haji yang mengaku dirinya utusan Ratu Adil, yang meminta pada Diponegoro untuk menemuinya di puncak gunung yang bernama gunung Rasamani, seorang diri.

Diponegoro segera mengikuti utusan itu hingga sampai di puncak gunung. Di sana ia berjumpa dengan Ratu Adil yang memakai serban (ikat kepala model Arab) hijau dan jubah (pakaian khas Arab yang panjang dengan lengan tangan lebar pula) dari sutera; dengan celana dari sutera juga. Ratu Adil mengatakan kepada Abdul Hamid (Diponegoro) bahwa sebabnya ia memanggil Diponegoro adalah karena ia mewajibkannya untuk memimpin prajuritnya untuk menaklukkan Pulau Jawa. Kalau ada orang yang menanyakan padanya, kata Ratu Adil, “siapa yang memberi kuasa padanya?” Diponegoro harus menjawab, bahwa: “yang memberi kuasa padanya adalah Al-Qur’an”.

Di bagian lain Diponegoro menceritakan, bahwa pada suatu waktu, ketika ia duduk dibawah pohon beringin, ia mendengar suara yang mengatakan bahwa ia akan diangkat menjadi Sultan Erucakra, Sayidina Panatagama, Khalifah daripada Rasulullah.

Oleh karena itu Diponegoro dalam memimpin “Perang Jawa” ini senantiasa diwarnai oleh ajaran Islam dan bahkan berusaha agar syari’at Islam itu tegak di dalam daerah kekuasaannya.

Hal ini dapat dilihat dari surat Diponegoro yang ditujukan kepada penduduk Kedu, yang ditulis dalam bahasa Jawa, antara lain berbunyi “Surat ini datangnya dari saya Kanjeng Gusti Pangeran Diponegoro bersama dengan Pangeran Mangkubumi di Yogyakarta Adiningrat kepada sekalian sahabat di Kedu, menyatakan bahwa sekarang kami sudah minta tanah Kedu. Hal ini harus diketahui oleh semua orang baik laki-laki maupun perempun, besar atau kecil tidak usah kami sebutkan satu demi satu. Adapun orang yang kami suruh bernama Kasan Basari. Jikalau sudah menurut surat undangan kami ini, segeralah sediakan senjata, rebutlah negeri dan ‘betulkan agama Rasul’. Jikalau ada yang berani tidak mau percaya akan bunyi surat saya ini, maka dia akan kami penggal lehernya…” Kamis tanggal 5 bulan Kaji tahun Be (31 Juli 1825).

Kiai Mojo adalah seorang ulama terkenal dari daerah Mojo Solo. Ia adalah seorang penasehat keagamaan Diponegoro yang memberikan corak dan jiwa Islam kepada perjuangan yang dipimpinnya. Disamping penasehat Diponegoro, ia juga memimpin pasukan bersama-sama anaknya di daerah Solo.

Sebelum ‘perang Jawa’ pecah, ia telah berkenalan erat dengan Diponegoro, sehingga tatkala perang dicetuskan ia bersama anaknya Kiai GazaIi dan para santrinya bergabung dengan pasukan Diponegoro.

Alibasah Abdul Mustafa Prawiradirja (Sentot) adalah putera Raden Rangga Prawiradirja III yang gugur di dalam pertempuran melawan pasukan Belanda. Ibu Prawiradirja (nenek Alibasah) adalah puteri Sultan Hamengku Buwono I. Jadi apabila dilihat dari silsilah keturunannya, ia adalah keturunan kraton Yogyakarta yang mempunyai hubungan darah dengan Diponegoro. Dilihat dari namanya, ia adalah seorang muslim.

Pada saat ‘perang Jawa’ pecah, Alibasah masih muda sekali yaitu berumur 16 tahun. Sebagai remaja yang penuh semangat perjuangan yang diwarisi dari ayahnya, pengaruh agama Islam juga sangat besar dari tokoh utama perang Jawa, yaitu Diponegoro dan Kiai Mojo.

Dilihat dari para pelaku utama dalam Perang Jawa ini dapat disimpulkan bahwa Islam memegang peranan penting dalam memberikan motivasi dan inspirasi untuk menentang kezaliman dan tirani yang bertitik kulminasi dengan meletusnya perang tersebut.

Kesimpulan ini sejalan dengan tulisan W.F. Wertheim yang antara lain menyatakan bahwa faktor baru muncul pada abad ke-19, di mana daerah-daerah di Indonesia rakyat tani banyak yang masuk Islam. Hal ini memperkuat posisi para kiai, karena sekarang mereka dapat mengandalkan untuk mendapatkan dukungan kuat dari rakyat.

Para penguasa kolonial Belanda terus menerus konfrontasi dengan sultan-sultan Indonesia mendorong mereka untuk mempersatukan diri dengan para kiai serta mengibarkan bendera Istam, sultan-sultan itu dapat mengobarkan pemberontakan umum. Ini dapat disaksikan dalam perang Jawa, perang Bonjol, perang Aceh. Lebih daripada itu keadaan perang ternyata menambah prestise dan kekuatan para ‘ekstremis’ di antara kiai itu untuk menggunakan senjata “Perang Sabil”.

Sebagaimana telah diuraikan di muka bahwa Sultan Hamengku Buwono II dinobatkan pada tanggal 2 April 1792. Dalam masa kesultanannya, Gubernur Jenderal H.W. Daendels telah mengeluarkan peraturan yang mensederajatkan pejabat-pejabat Belanda seperti Residen Surakarta dan Yogyakarta dengan sultan dalam upacara-upacara resmi.

Selanjutnya Daendels menuntut Patih Danureja II (kaki tangan Belanda) yang dipecat oleh sultan supaya dikembalikan kepada posisi semula. Tetapi sebaliknya Raden Rangga Prawiradirja III, yang menjadi bupati-wedana Mancanegara Yogyakarta, yang senantiasa menentang campur tangan Belanda, untuk diserahkan kepada Belanda guna mendapat hukuman.

Tuntutan Daendels ini ditolak oleh Sultan Hamengku Buwono II, sehingga ia mengirimkan pasukan Belanda untuk menundukkan sultan. Pertempuran terjadi antara pasukan Belanda dengan pasukan sultan; tetapi kekalahan berakhir bagi pasukan sultan, di mana Raden Rangga Prawiradirja gugur dalam pertempuran, dan Sultan Hamengku Buwono II pada bulan Januari 1811 diturunkan dari tahta dan digantikan oleh puteranya Adipati Anom menjadi Sultan Hamengku Buwono III atau Sultan Raja.

Sultan Hamengku Buwono III ini adalah ayah dari Diponegoro. Pertentangan antara Sultan Hamengku Buwono II (paman Diponegoro) dengan Sultan Hamangku Buwono III (ayahnya sendiri), turut melibatkan Diponegoro yang pada saat itu telah cukup dewasa yaitu berumur 26 tahun (lahir tahun 1785). Dan ia secara politik berpihak kepada Sultan Hamengku Buwono II atau disebut Sultan Sepuh.

Kemarahan Sultan Sepuh dan Diponegoro, bukan hanya Daendels secara sewenangwenang menurunkannya dari tahta kesultanan Yogyakarta, tetapi juga daerah-daerah seperti Kedu, Bojonegoro dan Mojokerto yang selama ini berada dibawah kekuasaan kesultanan Yogyakarta dirampas oleh Belanda.

Peran Daendels sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang kejam dan rakus berakhir pada tanggal 16 Mei 1811, dan digantikan oleh J.W. Jansens. Jabatan Jansens sebagai Gubernur Jenderal hanya beberapa bulan saja, sebab setelah itu pasukan Inggris menyerbu Belanda, di mana akhirnya Belanda menyerah kalah di Kali Tuntang, Salatiga, Jawa Tengah. Peralihan kekuasaan antara Belanda kepada Inggris, dipergunakan sebaik-baiknya oleh Sultan Sepuh (Sultan Hamengku Buwono II) untuk merebut kembali kesultanan Yogyakarta. Usaha ini berhasil dan bahkan Sultan Sepuh memerintahkan agar Patih Danureja II dihukum mati, karena persekongkolannya dengan Belanda.

Kehadiran Thomas Stamford Raffles sebagai Gubernur Jenderal penguasa kolonialInggris di Indonesia, mengokohkan kekuasaan Sultan Sepuh dengan jalan tetap mengakui Sultan Sepuh sebagai Sultan Hamengku Buwono II yang berkuasa di daerahYogyakarta dan menetapkan Sultan Hamengku Buwono III menjadi Adipati Anom.

Tetapi tatkala Raffles meminta daerah-daerah Kedu, Bojonegoro dan Mojokerto sebagaiwarisan dari Daendels, Sultan Sepuh menolaknya; tetapi Adipati Anom (SultanHamengku Buwono III) menerimanya bahkan membantu Inggris. Pertentangan ini menjadi alasan bagi Raffles untuk mengirimkan pasukan guna menundukkan SultanSepuh (Sultan Hamengku Buwono II), dan berhasil. Sultan sepuh ditangkap dandibuang ke Penang, Adipati Anom diangkat oleh Inggris menjadi Sultan Hamengku Buwono III pada tanggal 28 Juni 1812.

Untuk memberikan imbalan jasa kepada para pembantu Adipati Anom dalammengalahkan Sultan Sepuh, maka Pangeran Natakusuma diberikan sebagian daerah kesultanan Yogyakarta menjadi seorang yang merdeka dengan Gelar Paku Alam I; dan

Tan Jin Sing, seorang kapten Cina, diberikan pula tanah dan pangkat dengan gelarRaden Tumenggung Secadiningrat (Maret 1813).

Hal ini tentu saja suatu pukulan hebat bagi kesultanan Yogyakarta dan bagi para

bangsawannya, karena kehilangan sumber penghidupannya; tanah-tanah lungguh makin

susut dan banyak yang hilang.

Seperti halnya Daendels, maka Raffles-pun menjual tanah-tanah pemerintah kepada

orang-orang swasta, seperti orang-orang asing Eropa dan Cina, untuk memperoleh

penghasilan bagi penguasa kolonial Inggris. Disamping itu Raffles banyak membawa

perubahan dan pembaharuan di dalam mengatur masalah-masalah agraria, antara lain

mengadakan pajak tanah. Para petani diharuskan menyerahkan sepertiga dari hasil

buminya kepada penguasa, baik dalam bentuk natura maupun uang.

Selanjutnya pada tanggal 3 Nopember 1814 Sultan Hamengku Buwono III wafat dalam

usia 43 tahun; ia digantikan oleh puteranya Pangeran Adipati Anom yang bernama Jarot

sebagai Sultan Hamengku Buwono IV. Sultan ini adalah adik Diponegoro dari lain ibu.

Karena usia sultan masih sangat muda, maka dibentuklah sebuah ‘Dewan Perwalian’

dengan Pangeran Natakusuma (Paku Alam I) sebagai wakil sultan. Dalam priode ini,

pada tanggal 19 Agustus 1816 John Fendall sebagai wakil pemerintah kolonial Inggris

di Indonesia menyerahkan kekuasaan kepada Van der Capellen, Gubernur Jenderal

Belanda sebagai wakil pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Sultan Hamengku Buwono IV tidak lama berkuasa, sebab pada tanggal 6 Desember

1822 wafat; ia digantikan oleh puteranya yang masih kanak-kanak (lahir tanggal 25

Januari 1820), bernama Menol untuk menjadi Sultan Hamengku Buwono V. Karena

Sultan Bamengku Buwono V masih kecil, maka dibentuk ‘Dewan Perwalian’ yang

terdiri atas: Kanjeng Ratu Ageng (nenek perempuan Sultan), Kanjeng Ratu Kencana

(ibu Sultan), Pangeran Mangkubumi (anak Sultan Hamengku Buwono II atau paman

Diponegoro) dan Diponegoro sendiri.

Dewan perwalian, yang hampir sepenuhnya ditentukan oleh penguasa kolonial Belanda,

yang menyimpang dari ketentuan-ketentuan agama dan adat, maka Diponegoro menolak

menjadi wali model penguasa kolonial Belanda. Penolakan ini dijadikan dasar untuk

memfitnah Diponegoro oleh penguasa kolonial Belanda dan para kolaborator dari

kalangan istana bahwa Diponegoro berambisi untuk menjadi sultan.

Peran penguasa kolonial Belanda dan Inggris yang seenaknya mengotak-atik pemegang

tampuk pimpinan kesultanan Yogyakarta, mengurangkan daerah kekuasaannya dengan

jalan merampas dari wilayah kekuasaan sultan serta membebani rakyat dengan berbagai

tanam paksa dan pajak-pajak yang tinggi, adalah masalah yang susun susul-menyusul,

yang menumbuhkan kebencian dan kemarahan Diponegoro dan rakyat yang mempunyai

harga diri dan cinta terhadap kejujuran dan keadilan serta benci kepada setiap kezaliman

dan tirani, baik yang dilakukan oleh bangsa asing maupun bangsa sendiri.

Perasaan kesal dan marah tambah membengkak dengan tampilnya golongan Cina

sebagai pemegang kunci yang menentukan di dalam kehidupan ekonomi dan sosial,

baik di daerah kekuasaan kolonial Belanda maupun di daerah kesultanan, bahkan

sampai ke kraton.

Dominasi Cina di dalam bidang ekonomi dan sosial, yang mulai sejak Sultan Agung

Mataram (1613-1646) sampai dengan Sultan Hamengku Buwono III (1812-1814),

dimana sebagian orang kapten Cina secara resmi diberikan sebagian daerah kekuasaan

sultan dengan pangkat Raden Tumenggung Secadiningrat (Maret 1813), adalah bentukbentuk

kekuasaan Cina yang begitu mencolok di dalam kehidupan kesultanan Mataram

dan dinasti penerusnya. Penguasaan kota-kota pelabuhan dengan syahbandarsyahbandar

yang berhak memungut bea-cukai dikuasai Cina, penyewaan tanah yang

jatuh ke tangan Cina, para tengkulak yang dimonopoli oleh Cina, baik di daerah

kekuasaan kolonial Belanda maupun sultan, menambah kemiskinan rakyat hingga

menjadi melarat dan sengsara.

Padahal sejak kehadiran Penguasa kolonial Belanda di Indonesia sampai saat

keruntuhan Mataram, Cina senantiasa membantu dan bekerjasama dengan penguasa

kolonial Belanda menghancurkan kesultanan Mataram. Letusan perang Jawa ini hanya

tinggal menunggu waktu yang tepat saja lagi. Api penyulut cukup sebatang korek api,

tetapi lalang kering kerontang yang kena sulutan korek api itu akan meledak menjadi

kebakaran yang sulit untuk dipadamkan.

Moment yang tepat itu ternyata sederhana sekali, yaitu pada pertengahan tahun 1825,

tepatnya pada awal Juli 1825, Patih Danureja IV, kolabolator Belanda yang setia, telah

memerintahkan pejabat-pejabat kesultanan Yogyakarta untuk membuat jalan, di mana

antara lain menembus tanah milik Diponegoro dan neneknya di Tegalrejo. Penggunaan

tanah milik Diponegoro untuk jalan tanpa sepengetahuan Diponegoro sebagai pemiliknya.

Oleh karena itu Diponegoro memerintahkan pegawai-pegawainya untuk mencabut

tonggak-tonggak yang dipancangkan sebagai tanda pembuatan jalan oleh Patih

Danureja IV. Tindakan Diponegoro ini diikuti oleh protes keras dan menuntut supaya

Patih Danureja dipecat dari jabatannya. Tetapi A.H. Smisaert, selaku Residen Belanda

di Yogyakarta menolak dan menekan sultan untuk tetap mempertahankan Patih

Danureja IV.

Suasana tegang ini dikeruhkan oleh informasi yang menyatakan bahwa penguasa

kolonial Belanda akan menangkap Diponegoro. Mendengar berita ini, rakyat yang telah

dendam dan marah terhadap penguasa kolonial Belanda berkumpul menyatakan setia

untuk membela dan mempertahankan Diponegoro, jika rencana penangkapan itu terjadi.

Ketegangan ini menimbulkan kegelisahan

Langkah pertama yang ditempuh oleh Diponegoro adalah mengeluarkan seruan kepada

seluruh rakyat Mataram untuk sama-sama berjuang menentang penguasa kolonial

Belanda dan para tiran, yang senantiasa menindas rakyat. Seruan itu antara lain

berbunyi: “Saudara-saudara di tanah dataran! Apabila saudara-saudara mencintai saya,

datanglah dan bersama-sama saya dan paman saya ke Selarong. Siapa saja yang mencintai

saya datanglah segera dan bersiap-siap untuk bertempur.” Seruan ini disebarluaskan

di seluruh tanah Mataram, khusuanya di Jawa Tengah dan mendapat sambutan

hampir sebagian besar lapisan masyarakat. Dan daerah Selarong penuh sesak, dipenuhi

oleh pasukan rakyat!

Seruan ini disambut baik oleh Kiai Mojo, seorang ulama besar dari daerah Mojo-Solo;

yang datang bersama barisan santrinya menggabungkan diri dengan pasukan

Diponegoro; ia menyerukan ‘perang sabil’ terhadap pihak penguasa kolonial Belanda.

Jejak Kiai Mojo dengan santrinya, diikuti oleh para ulama dan santri-santri dari Kedu

dibawah pimpinan Pangeran Abubakar; juga Muhamad Bahri, penghulu Tegalrejo.

Perang sabil menentang penguasa kolonial Belanda-Kristen meledak membakar hampir

seluruh tanah Mataram, bahkan sampai ke Jawa Timur dan Jawa Barat. Tampilnya

Alibasah Abdul Mustafa Prawiradirja (Sentot) dan sebagian para bangsawan di

kalangan penguasa kolonial Belanda dan kraton Yogyakarta. Akhimya diutuslah

Pangeran Mangkubumi (paman Diponegoro) ke Tegalrejo untuk memanggil

Diponegoro ke kraton. Semula Diponegoro bersedia datang ke kraton, apabila ada

jaminan dari Pangeran Mangkubumi bahwa ia tidak akan ditangkap. Tetapi karena

Mangkubumi sendiri tidak berani menjamin dan bahkan ia sendiri tidak akan kembali

lagi ke Yogyakarta, maka Diponegoro memperkuat diri dengan pasukan rakyat yang

telah melakukan bai’ah (janji setia perjuangan).

Melihat kegagalan Pangeran Mangkubumi ini untuk memanggil Diponegoro, Residen

A.H. Smisaert mengutus kembali dua orang bupati yang dikawal dengan sepasukan

militer. Sebelum utusan Belanda ini sampai, Diponegoro dan Pangeran Mangkubumi

yang sedang berunding menjadi terhenti, karena mendengar letusan senjata dan

tembakan meriam yang ditujukan ke arah rumah Diponegoro. Serangan Belanda

terhadap tempat kediaman Diponegoro, mengakibatkan Diponegoro dan Pangeran

Mangkubumi yang disertai kawalan pasukan rakyat mengungsi ke daerah Selarong,

guna selanjutnya melancarkan peperangan untuk mengusir penguasa kolonial Belanda

dari daerah kekuasaan kesultanan Yogyakarta khususnya dan Jawa umumnya. Peristiwa

ini terjadi pada tanggal 20 Juli 1825 dan disebut sebagai permulaan “Perang Jawa”.

Yogyakarta seperti antara lain Pangeran Ngabehi Jayakusuma, putera Sultan Hamengku

Buwono II dan pangeran Mangkubumi melengkapi “Perang Jawa” yang dahsyat.

Strategi perang gerilya yang dipergunakan oleh Diponegoro dengan taktik “serang

dengan tiba-tiba pasukan musuh kemudian menghilang-bersembunyi”, merupakan

strategi dan taktik yang dapat melumpuhkan pasukan kolonial Belanda; setidaktidaknya

pada awal perang Jawa.

Berita pecahnya perang Jawa sangat mengejutkan pihak Gubernur Jenderal Van der

Capellen di Batavia. Karenanya pada tanggal 26 Juli 1825, ia telah memutuskan untuk

mengirimkan pasukan dari Batavia langsung di bawah pimpinan Letnan Jenderal

Hendrik Marcus De Kock, pimpinan tertinggi militer Hindia Belanda. Pada tanggal 29

Juli 1825 Let. Jend. De Kock telah tiba di Semarang untuk memimpin langsung operasi

militer terhadap pasukan Diponegoro.

Pasukan kolonial Belanda yang dipimpin oleh Kapten Kumsius dengan kekuatan 200

prajurit, yang dikirim dari Semarang, di daerah Pisangan dekat Magelang disergap oleh

pasukan Diponegoro di bawah pimpinan Mulya Sentika. Hampir seluruh pasukan

Belanda berhasil dimusnahkan dan seluruh perlengkapan dan persenjataannya dirampas.

Kekalahan pertama, menyebabkan Belanda mengirimkan pasukan yang lebih besar dari

Semarang dan dipimpin oleh Kolonel Von Jett untuk langsung menyerang Selarong,

markas besar pasukan Diponegoro. Tetapi serangan ini gagal, karena pasukan

Diponegoro telah mengosongkan Selarong. Tatkala pasukan Belanda meninggalkan

Selarong, di perjalanan, di tempat-tempat yang atrategis, pasukan Belanda diserang;

sehingga menimbulkan kerugian yang cukup besar.

Ibukota Yogyakarta di kepung oleh pasukan Diponegoro, sehingga pasukan kesultanan

Yogyakarta dan Belanda terjepit, bahkan Sultan Hamengku Buwono V bersembunyi di

benteng Belanda untuk menyelamatkan diri. Pada tanggal 28 Juli 1825, Belanda

mengirimkan pasukan komando gabungan antara pasukan Belanda dan Mangkunegara

dari Surakarta untuk menembus barikade pasukan Diponegoro di Yogyakarta, guna

menyelamatkan pasukan Belanda dan Sultan Hamengku Buwono V yang terkurung.

Tetapi pasukan komando gabungan Belanda Mangkunegara di bawah pimpinan Raden

Mas Suwangsa di Randu Gunting dekat Kalasan disergap oleh pasukan Diponegoro

dibawah pimpinan Tumenggung Surareja. Sergapan ini berhasil dengan baik dan Raden

Mas Suwangsa, pimpinan komando gabungan itu sendiri tertangkap dan dibawa ke

Selarong, markas besar pasukan Diponegoro.

Operasi militer Belanda yang senantiasa mengalami kekalahan, maka Let. Jend. De

Kock menempuh jalan diplomasi, dengan jalan mengirim surat kepada Diponegoro;

surat pertama tertanggal 7 Agustus 1825 dan surat kedua tertanggal 14 Agustus 1825.

Isi surat-surat itu menyatakan keinginan Belanda untuk berunding dan bersedia

memenuhi tuntutan-tuntutan Diponegoro dan Pangeran Mangkubumi, dengan syarat:

pertempuran dihentikan. Surat Let. Jend. De Kock diperkuat oleh surat Susuhunan

Surakarta, tertanggal 14 Agustus 1825. Surat-surat baik dari De Kock maupun dari

Susuhunan

Surakarta, semuanya dijawab oleh Diponegoro, dengan menekankan bahwa Perang

Jawa ini terjadi karena kesalahan Belanda yang bertindak otoriter dan zalim, yang

dibantu oleh pasukan militer Susuhunan Surakarta. Perdamaian yang diajukan oleh

Belanda dan Susuhunan Surakarta ditolak; kecuali pasukan kolonial Belanda angkat

kaki dari bumi Mataram. Jalan diplomasi gagal.

Karena tidak ada jalan lain, De Kock sebagai panglima tertinggi pasukan Hindia

Belanda, mengerahkan pasukannya dari berbagai daerah Batavia: Bone, Madura, Bali,

Ambon dan lain-lain untuk dipusatkan di sekitar Yogyakarta; guna menembus barikade

pasukan Diponegoro. Baru pada tanggal 25 September 1825, De Kock dengan pasukan

komando gabungan yang besar sekali berhasil memasuki Yogyakarta menyelamatkan

pasukan Belanda yang terkepung dan Sultan Hamengku Buwono V.

Pertempuran antara pasukan Belanda dengan pasukan Diponegoro tidak hanya terjadi di

sekitar Yogyakarta, tetapi juga menjalar dan terjadi di Magelang, Semarang,

Pekalongan, Banyumas, Bagelen dan daerah Kedu seluruhnya. Pertempuran makin hari

makin meluas, menjalar ke daerah Jawa Timur seperti Madiun, Ngawi dan Pacitan.

Pertempuran yang luas itu memang melumpuhkan dan melelahkan pasukan kolonial

Belanda dan para kolaborator; bahkan serangan kedua ke markas besar Selarong; tidak

berhasil menangkap dan melumpuhkan pasukan Diponegoro.

Pada tahun-tahun pertama (1825 -1826) pasukan Diponegoro memperoleh banyak

kemenangan. Dengan pasukan-pasukan berkuda, mereka dapat bergerak capat dan

mobile dari satu daerah ke daerah lain, dari satu pertempuran ke pertempuran lain dan

selalu lolos dari kepungan pasukan musuh yang jauh lebih besar jumlahnya.

Tetapi sejak tahun 1827 pasukan kolonial Belanda mulai unggul, selain karena besarnya

bala-bantuan yang didatangkan dari daerah-daerah, tetapi juga merubah strategi

pertempuran yang selama ini ditempuh. Let. Jend. De Kock, selaku panglima tertinggi

Hindia melaksanakan “sistem benteng” dalam operasi militernya. Pasukan Belanda

mendirikan benteng-benteng di wilayah yang telah dikuasai kembali. Antara benteng

yang satu dengan benteng yang lain dibuat jalan sehingga pasukan dapat bergerak

dengan cepat. Dengan sistem benteng itu, pasukan Diponegoro tidak lagi dapat bergerak

dengan leluasa; hubungan antar pasukan menjadi sukar. Tiap pasukan terpaku pada

daerah operasinya masing-masing. Gerakan mobile dan cepat yang selama ini menjadi

ciri pasukan Diponegoro menjadi lumpuh.

Daerah-daerah yang dikuasai kembali oleh Belanda didirikanlah benteng-benteng

seperti di Minggir, Groyak, Bantul, Brosot; Puluwatu, Kejiwan, Telagapinian,

Danalaya, Pasar Gede, Kemulaka, Trayema, Jatianom, Delanggu, Pijenan.

Di daerah-daerah pertempuran sebelah timur, benteng-benteng itu terdapat di Rembang,

Bancar, Jatiraga, Tuban, Rajegwesi, Blantunan, Blora, Pamotan, Babat, Kopas dan lainlain.

Di daerah-daerah pertempuran sebelah barat, benteng-benteng didirikan di Pakeongan,

Kemit, Panjer, Merden dan lain lain.

Sistem benteng ini memang dapat melumpuhkan pasukan Diponegoro, apalagi setelah

Sultan Sepuh yang telah berusia 70 tahun diangkat kembali menjadi Sultan Yogyakarta,

yang secara psikologi sangat mempengaruhi pasukan Diponegoro.

Oleh karena itu, berkat usaha Van Lawick von Pabst, Residen Yogyakarta, maka pada

tanggal 21 Juni 1827, Pangeran Natapraja dan Pangeran Serang Sutawijaya

beserta para pengikutnya lebih kurang 850 orang menyerah kepada Belanda dan

diperlakukan dengan baik.

Penyerahan Pangeran Natapraja dan Pangeran Serang adalah pukulan yang besar sekali

bagi perang Jawa. Sebab dengan menyerahnya kedua orang pemimpin ini, maka daerah

rawan dan daerah pertempuran di sebelah timur kehilangan pimpinan. Seperti telah

dimaklumi bahwa kedua orang inilah yang memimpin pasukan Diponegoro di medan

pertempuran sebelah timur, mengancam Semarang dan Demak.

Walau demikian, pukulan hebat ini tidak menyebabkan pasukan Diponegoro berputus

asa. Di kota Gede Yogyakarta telah terjadi pertempuran yang seru antara pasukan

Diponegoro di bawah pimpinan Mas Tumenggung Reksasentana melawan pasukan

kolonial Belanda. Pertempuran ini terjadi karena usaha Belanda untuk menggiring

pasukan Diponegoro untuk berada di daerah antara Sungai Progo dan Sungai

Begowonto.

Pertempuran terus berlangsung, tetapi usaha diplomasi juga dijalankan oleh Belanda,

apalagi setelah kedua Pangeran tersebut menyerah.Usaha diplomasi menunjukkan hasil

yang menggembirakan, dengan diselenggarakannya perundingan antara pasukan

Diponegoro di bawah pimpinan Kiai Mojo dan Pangeran Ngabehi Abdul Rahman

dengan pasukan Belanda di bawah pimpinan Stavers pada tanggal 29 Agustus 1827 di

Cirian-Klaten.

Perundingan ini tidak membuahkan suatu hasil apapun bagi kedua belah pihak.

Tuntutan-tuntutan yang diajukan oleh Kiai Mojo dianggap terlalu berat oleh pihak

Belanda, sebaliknya syarat-syarat yang diajukan oleh Belanda, termasuk janji-janji

untuk memberikan kekuasaan yang luas kepada Diponegoro, tidak dapat diterima oleh

Kiai Mojo.

Perundingan yang gagal pada bulan Agustus 1827, mengakibatkan pada bulan

September 1827 berkobar lagi pertempuran antara pasukan Diponegoro dengan pasukan

kolonial Belanda di daerah-daerah Klaten, Puluwatu, Kemulaka dan Yogyakarta.

Operasi militer Belanda yang besar ini langsung dipimpin oleh Jenderal Van Geen.

Pada tanggal 10 Oktober 1827 diadakan kembali gencatan senjata untuk mengadakan

perundingan perdamaian antara kedua belah pihak, bertempat di Gamping. Pihak

Belanda di pimpin oleh Letnan Roeps, seorang opsir Belanda yang pandai berbahasa

Jawa, sedangkan di pihak Diponegoro dipimpin oleh Tumenggung Mangun Prawira.

Tetapi perundingan inipun gagal, sebab tuntutan mengenai pelaksanaan syari’at Islam,

seperti pernah diajukan pada perundingan pertama, sangat ditentang delegasi Belanda.

Kegagalan perundingan kedua ini, diikuti oleh operasi militer Belanda secara besarbesaran

di bawah pimpinan Kolonel Cochius dan Sollewijn menyerang daerah-daerah

sebelah selatan Yogyakarta, Plered, Tegalsari, Semen dan-lain. Pada tanggal 25 Oktober

1827 pasukan Belanda di bawah Mayor Sollewijn menyerbu markas perjuangan

Diponegoro di Banyumeneng, tetapi Diponegoro dengan pasukan-pasukannya berhasil

menghindar. Tetapi dalam perjalanan pulang pasukan Sollewijn berhasil dijebak dan

diserang oleh pasukan Diponegoro, sehingga memporak-porandakan pasukan Belanda;

dan hanya dengan susah payah pasukan Sollewijn dapat menyeberangi sungai Progo,

terus masuk ke kota Yogyakarta.

Pertempuran yang terjadi setelah kegagalan perundingan kedua ini, bukan hanya terjadi

di sekitar Yogyakarta saja, tetapi juga terjadi dan berkecamuk di daerah-daerah Kedu,

Banyumas, Bagelen, Bojonegoro, Rembang, Tuban. Hanya dengan susah payah,

pasukan Belanda bisa bertahan dan menyelamatkan diri.

Pertempuran yang timbul berkecamuk lagi ini, mendorong Jenderal De Kock untuk

mengerahkan bala bantuan, termasuk dari negeri Belanda sendiri. Dan memusatkan

markas besarnya di kota Magelang pada tanggal 13 Maret 1828; dengan menempatkan

markas besarnya di Magelang, maka pasukan Belanda dapat beroperasi lebih mobile,

karena tempat itu sangat strategis untuk menjangkau daerah-daerah Semarang di utara,

Surakarta di timur, Yogyakarta di selatan dan Banyumas di barat. Strategi ini cukup

berhasil, karena daerah Kedu hampir seluruhnya dapat diamankan oleh pasukan

Belanda.

Keunggulan Belanda di bidang militer, diikuti dengan kemenangan di bidang diplomasi,

dimana pada tanggal 28 April 1828, Pangeran Natadiningrat beserta isteri, ibu dan kirakira

20 orang pasukannya menyerah kepada Letnan Kolonel Sollewijn. Penyerahan

Natadiningrat ini sangat menggembirakan Belanda, karena sampai waktu itu; bolehlah

dikatakan tidak ada keluarga terdekat Diponegoro dan Pangeran Mangkubumi yang

menyerah kepada Belanda. Pangeran Natadiningrat adalah putera kesayangan Pangeran

Mangkubumi yang diharapkan oleh Belanda dapat membujuk ayahnya sendiri untuk

menyerah kepada Belanda dan meninggalkan Diponegoro.

Selain itu, pasukan Diponegoro di daerah Rembang di bawah pimpinan Tumenggung

Sasradilaga, yang semula berhasil memukul mundur pasukan Belanda, lambat-laun

mulai terjepit dan akhirnya pada tanggal 3 oktober 1828 menyerah pula kepada

Belanda.

Kemudian operasi militer Belanda berhasil mempersempit daerah operasi pasukan

Diponegoro dengan jalan menggiringnya ke daerah antara sungai Progo dan sungai

Bogowonto. Usaha berhasil, setelah pertempuran sengit dengan pasukan Diponegoro di

daerah Belige di bawah pimpinan Pangeran Bei pada tanggal 31 Maret 1828. Dengan

daerah gerak yang makin sempit, sangat memungkinkan pasukan Belanda yang besar itu

dapat mengurung pasukan Diponegoro. Apalagi banyak pasukan bekas anak buah

Diponegoro yang menyerah kepada Belanda diikut-sertakan dalam operasi militer ini.

Dalam posisi terus terdesak dan terjepit, pasukan Diponegoro bukan hanya kekurangan

persenjataan, tetapi juga kekurangan suplai bahan makanan. Tambah ironis, dalam

situasi semacam itu di kalangan pimpinan pasukan Diponegoro terjadi perpecahan;

sehingga dengan tiba-tiba pada tanggal 25 Oktober 1828 Kiai Mojo dengan pasukannya

menyatakan keinginannya untuk berunding dan mengadakan gencatan senjata dengan

Belanda.

Pada tanggal 31 oktober 1828 perundingan berlangsung di Mlangi antara Kiai Mojo

dengan delegasi Belanda di bawah pimpinan Letnan Kolonel Wiranegara, komandan

pasukan kraton Yogyakarta. Perundingan dengan pengawalan yang ketat oleh pasukan

Betanda, berakhir gagal. Perundingan kedua dilanjutkan lagi pada tanggal 5 Nopember

1828, dengan pengawalan ketat oleh pasukan Belanda di bawah pimpinan Letnan

Kolonel Le Bron de Vexela; juga berakhir dengan kegagalan.

Ketika perundingan gagal, Kiai Mojo beserta pasukannya kembali ke tempat semula,

tetapi senantiasa diikuti oleh pasukan Letnan Kolonel Le Bron de Vexela. Dengan tibatiba

pasukan Le Bron menyerang pasukan Kiai Mojo, tetapi gagal karena semua prajurit

Kiai Mojo telah siap mati syahid. Letnan Kolonel Le Pron tak kehabisan akal untuk

dapat menangkap Kiai Mojo. Tipu muslihat yang licik dan keji dipergunakan oleh Le

Bron dengan mengajak berpura-pura untuk melanjutkan perundingan di Klaten. Kiai Mojo dengan pasukannya menyetujui tawaran ini. Kiai Mojo dengan pasukannya

memasuki kota Klaten dengan nyanyian-nyanyian agama seolah-olah sebuah pasukan

yang menang perang dari medan pertempuran.

Setelah sampai Klaten, Kiai Mojo diajak oleh Letnan Kolonel Le Bron de Vexela masuk

ke sebuah gedung, sedangkan pasukannya beristirahat di luar. Dengan serta-merta Kiai

Mojo ditangkap dan pasukannya yang sedang lengah disergap oleh pasukan Belanda

yang lebih besar dan kuat persenjataannya. Dalam kondisi tak berdaya, Kiai Mojo

beserta pasukannya tertangkap dan tertawan; tidak kurang dari 50 pucuk senapan dan

300 buah tombak yang dapat dilucuti dari pasukan Kiai Mojo. Bersamanya tertangkap

pula para ulama yang turut menjadi pimpinan pasukan di medan pertempuran, seperti

antara lain Kiai Tuku Mojo, Kiai Badren, Kiai Kasan Basari.

Kiai Mojo beserta stafnya dibawa ke Surakarta; dari sana terus ke Salatiga tempat

kediaman Jenderal De Kock. Dari Salatiga Kiai Mojo dengan teman-temannya dibawa

ke Semarang untuk kemudian dikirim ke Batavia. Tertangkapnya Kiai Mojo dan stafnya

dipergunakan sebaik-baiknya untuk bisa membujuk pasukan Diponegoro yang lainnya,

yang masih melakukan perang gerilya.

Pada awal Januari 1829, Komisaris Jenderal Du Bus telah mengirimkan Kapten Roeps

dan seorang staf Kiai Mojo untuk mengadakan perundingan dengan Diponegoro di

markas besarnya di Pengasih. Pada akhir Januari 1829 mereka dapat diterima di markas

perjuangan Diponegoro dan pembicaraan dimulai antara delegasi Belanda dengan

delegasi Diponegoro. Tetapi di saat pembicaraan sedang berlangsung, tiba-tiba terdengar

suara dentuman meriam dari pasukan Belanda yang dipimpin oleh Mayor Bauer.

Mendengar letusan meriam, serentak pasukan Diponegoro mau membunuh delegasi

Belanda yang sedang berada di tengah-tengah meja perundingan. Berkat kebijaksanaan

Alibasah (Sentot) delegasi Belanda itu dapat selamat dan memerintahkan agar pasukan

Belanda mengundurkan diri, jika jiwa para delegasi Belanda ingin selamat.

Pada bulan Februari 1829 Belanda mengadakan gencatan senjata secara sepihak. Sebab

Jenderal De Kock mencoba membujuk Alibasah, panglima muda remaja yang sangat

ditakuti oleh Belanda. Jenderal De Kock mengirimkan surat kepada Alibasah, yang

isinya antara lain menjamin kebebasan bepergian bagi Alibasah dengan pasukannya di

daerah kekuasaan Belanda tanpa ada gangguan. Bahkan De Kock mengirimkan

beberapa pucuk pistol kepada Alibasah sebagai tanda kenang-kenangan dan keinginan

mau berdamai.

Taktik licik Belanda ini mempengaruhi pimpinan pasukan Diponegoro, apalagi setelah

beberapa tokoh pasukan Diponegoro seperti Tumenggung Padmanegara, Pangeran

Pakuningrat diberikan kebebasan bepergian di daerah kekuasaan Belanda pada bulan

Ramadhan.

Dalam kesempatan gencatan senjata ini Jenderal De Kock menggunakan waktu untuk

terus mengirim surat kepada beberapa tokoh pasukan Diponegoro seperti Alibasah dan

Pangeran Pakuningrat, yang isinya tidak lain menyanjung-nyanjung tokoh-tokoh

tersebut dan keinginan Belanda untuk bekerjasama dengan mereka.

Setelah gencatan senjata berjalan tiga bulan tanpa mendapat hasil yang memuaskan bagi

Belanda, maka pertempuran dan operasi militer dilanjutkan. Terjadilah pertempuran

sengit di antara kedua belah pihak, sampai Komisaris Jenderal Du Bus diganti oleh

Johannes Van Den Bosch sebagai penguasa tertinggi Hindia Belanda di Indonesia, danJenderal Mercus De Kock diganti oleh Jenderal Mayor Benyamin Bischop sebagai

pimpinan tertinggi militer Hindia Belanda, pada bulan Mei 1829. Tetapi karena Jenderal

Benyamin Bischop sakit-sakitan pada tanggal 7 Juli 1829 meninggal dunia, maka

praktis pimpinan tertinggi militer Hindia Belanda masih tetap berada di tangan Jenderal

De Kock.

Pada akhir bulan Mei 1829 pasukan kolonial Belanda mencari dengan seksama tempat

pangeran Mangkubumi yang menjadi kepala urusan rumah tangga pasukan Diponegoro.

Maksudnya tidak lain agar dapat menangkap para anggota keluarga tokoh-tokoh

pasukan Diponegoro, untuk dapat memancing tokoh-tokoh itu supaya bisa menyerah.

Pada tanggal 21 Mei 1829 tempat persembunyian Pangeran Mangkubumi dengan para

keluarga tokoh-tokoh pasukan Diponegoro di desa Kulur diserbu oleh pasukan Belanda

di bawah pimpinan Mayor Bauer dan Kapten Ten Have. Hasilnya nihil, karena

rombongan Pangeran Mangkubumi telah pergi bersembunyi ke tempat lain. Usaha

pengejaran akan dilakukan, tetapi dengan tiba-tiba pasukan Di ponegoro di bawah

pimpinan Alibasah menyerang pasukan Belanda tersebut, sehingga terpaksa

menghadapinya dan dengan demikian rombongan Pangeran Mangkubumi lepas dari

kejaran Belanda.

Operasi militer untuk menangkap Pangeran Mangkubumi tidak berhasil; diikuti dengan

diplomasi untuk mengajak berunding. Belanda menggunakan putera Pangeran

Mangkubumi yang telah menyerah yaitu Pangeran Natadiningrat untuk bisa membujuk

Pangeran Mangkubumi agar menghentikan pertempuran dengan Belanda, dengan alasan

usia telah lanjut dan Belanda berjanji untuk memberikan jabatan yang terhormat dengan

tempat dan gaji yang besar. Usaha ini tampak akan berhasil, sebagaimana dilaporkan

oleh Residen Van Nes pada tanggal 28 Juni 1829; tetapi hasilnya ternyata gagal.

Kegagalan ini mendorong untuk melakukan operasi militer besar-besaran ke pusat

pertahanan pasukan Diponegoro di desa Geger. Pada tanggal 17 Juli 1829 pasukan

kolonial Belanda di bawah pimpinan Kolonel Cochius; Letnan Kolonel Sollewijn dan

Mayor Cox van Spengler dibantu dengan pasukan Mangkunegara menyerang desa

Geger. Dengan kekuatan yang tidak seimbang, markas Geger dapat direbut oleh

pasukan Belanda dan beberapa pimpinan pasukan Diponegoro gugur sebagai syuhada,

antara lain Sheikh Haji Ahmad dan Tunenggung Banuja.

Operasi militer terus ditingkatkan oleh Belanda terhadap “kantong kantong”

persembunyian pasukan Diponegoro, sehingga pada akhir Juli 1829 putera Diponegoro

yakni Diponegoro Anom dan Raden Hasan Mahmud tertangkap oleh pasukan Letnan

Kolonel Sollewijn. Tertangkapnya putera Diponegoro ini dipergunakan untuk

melemahkan semangat perjuangan Diponegoro dengan cara mengancam akan

membunuh Diponegoro Anom oleh Belanda. Jiwa puteranya akan selamat jika

Diponegoro menghentikan pertempuran. Hal ini terlihat dari surat Jenderal De Kock

tertanggal 6 Agustus 1829. Tetapi usaha ini tidak berhasil melemahkan semangat

tempur Diponegoro.

Dalam usaha konsolidasi, karena Alibasah dan Pangeran Bei sakit keras, maka

Diponegoro telah mengangkat pimpinan pasukan infantri kepada Syeikh Muhammad

dan Baisah Usman, sedangkan pasukan kavaleri dipimpin oleh Pangeran Sumanegara.

Selesai konsolidasi, pasukan Diponegoro melakukan serangan terhadap pasukan

Belanda di bawah pimpinan Mayor Bauer dan Kapten Ten Have di Serma pada tanggal

3 Agustus 1829. Dalam pertempuran sengit ini, banyak korban yang jatuh di kedua

belah pihak, antara lain Syekh Muhammad dan Hasan Usman.

Untuk meningkatkan efektifitas operasi militer, Jenderal De Kock telah memindahkan

markas besarnya dari Magelang ke Sentolo. Dengan demikian pasukan Belanda akan

lebih dekat dengan pusat-pusat pertempuran yang dilakukan oleh pasukan Diponegoro.

Bersamaan dengan operasi militer Belanda yang ditingkatkan, Panglima Alibasah dan

Pangeran Bei telah sembuh, sehingga dapat aktif kembali memimpin pasukan

Diponegoro yang telah kehilangan dua orang panglimanya yaitu Syeikh Muhammad

dan Basah Usman. Pertempuran sengit tidak dapat dihindarkan lagi, di saat pasukan

Diponegoro melintasi sungai Brogo menuju Pajang diserang oleh pasukan Belanda.

Kedua belah pihak yang bertempur mati-matian, mengakibatkan banyak jatuh korban,

diantaranya seorang perwira Belanda mati terbunuh yaitu Letnan Arnold.

Seiring dengan operasi militer yang ditingkatkan, usaha diplomasi licik juga dilakukan.

Pada tanggal 7 Agustus 1829 Letnan Kolonel Sollewijn datang ke Kreteg untuk

membujuk keluarga Pangeran Mangkubumi untuk menyerah dengan janji jaminan dari

Belanda. Akhirnya Raden Ayu Anom (isteri kedua Pangeran Mangkubumi) beserta

anak-anaknya dan pengawalnya sebanyak 50 orang menyerah kepada Belanda.

Dengan posisi pasukan Diponegoro yang makin terjepit karena daerah operasinya makin

diperkecil oleh Belanda, kelelahan dan kekurangan bahan makanan dengan perang yang

telah berjalan lima tahun, akhirnya satu demi satu pasukan Diponegoro menyerah

kepada Belanda. Pada tanggal 5 September 1829 Tumenggung Wanareja dan

Tumenggung Wanadirja bersama dengan 44 orang pasukannya menyerah. Pada tanggal

6 September 1829, atas bujukan Tumenggung Surianegara yang sengaja ditugaskan oleh

Jenderal De Kock, menyerah pulalah Tumenggung Suradeksana dan Sumanegara

kepada Belanda di Kalibawang. Pada tanggal 9 September 1829, Pangeran Pakuningrat

bersama dengan pasukannya sebanyak 40 orang menyerah lagi kepada Belanda.

Pada tanggal 21 September 1829 atas nama pemerintah Hindia Belanda, Jenderal De

Kock mengeluarkan pengumuman tentang ‘hadiah besar’ bagi setiap orang yang dapat

menangkap hidup atau mati Diponegoro. Pengumuman itu antara lain berisi:

“Barangsiapa yang berani menyerahkan Diponegoro hidup atau mati kepada penguasa

Hindia Belanda, akan dinilai oleh Gubernur Jenderal Htndia Belanda sebagai seorang

yang sangat besar jasanya. Kepada orang itu akan diberikan hadiah berupa uang kontan

sebesar £ 50.000,- (lima puluh ribu pounds) dan diberikan gelar kehormatan dengan gaji

dan tanah yang cukup luas”.

Pengumuman yang menyayat hati ini belum lagi kering, pada akhir September 1829

telah gugur Pangeran Bei bersama dua orang puteranya yaitu Pangeran Jayakusuma dan

Raden Mas Atmakusuma.

Bulan September 1829 benar-benar bulan yang menyedihkan bagi Diponegoro, sebagai

pemimpin tertinggi Perang Jawa. Pada tanggal 25 September 1829 Mayor Bauer

bersama Raden Mas Atmadiwirja (putera Pangeran Mangkubumi), Tumenggung

Reksapraja beserta rombongan mencari Pangeran Mangkubumi, tetapi hasilnya nihil.

Tetapi Belanda tidak berputus asa. Jenderal De Kock mengutus Pangeran Natadiningrat,

putera Pangeran Mangkubumi yang telah menyerah, untuk membujuk ayahnya. Maka

pada tanggal 27 September 1829 Pangeran Natadiningrat berhasil membujuk ayahnya

untuk menyerah kepada Belanda. Keesokan harinya, tanggal 28 September 1829

Pangeran Mangkubumi dibawa oleh puteranya ke Yogyakarta. Di pertengahan jalan (diMangir) rombongan Pangeran Mangkubumi telah dijemput oleh Residen Van Nes dan

pejabat-pejabat kesultanan Yogyakarta.

Pengaruh dari menyerahnya Pangerang Mangkubumi sangat besar bagi pasukan

Diponegoro, karena secara berturut-turut telah menyerah pula pangeran Adinegara,

Kanjeng Pangeran Aria Suryabrangta, Pangeran Suryadipura, Pangeran Suryakusuma,

Kanjeng Pangeran Dipasana, semuanya adalah mempunyai hubungan famiIi dengan

Diponegoro sendiri. Menyerahnya secara berturut-turut orang-orang di sekitar

Diponegoro, benar-benar dapat melumpuhkan pasukan Diponegoro.

Apalagi usaha untuk menarik Alibasah, panglima pasukan Diponegoro yang disegani

masih terus dilanjutkan. Melalui Pangeran Prawiradiningrat, yang menjadi bupati

Madiun dan saudara Alibasah sendiri, Belanda telah berusaha untuk menaklukkannya.

Sejak tanggal 23 Juli 1829 usaha ini telah dilakukan walaupun pada permulaannya

gagal, karena syarat-syarat yang diajukan oleh Alibasah cukup berat; yaitu:

(a) Memberikan uang jaminan sebesar £ I0.000.-

(b) Menyetujui pembentukan sebuah pasukan di bawah Pimpinan Alibasah sendiri yang

berkekuatan seribu orang dan dilengkapi dengan persenjataan dan pakaian seragam;

(c) Memberikan 400 – 500 pucuk senjata api;

(d) Pasukan Alibasah ini langsung dibawah komando pemerintah Hindia Belanda, dan

bebas dari kekuasaan sultan atau pembesar bangsa Indonesia;

(e) Mereka bebas menjalankan agamanya,

(f) Tidak ada paksaan minum Jenever atau arak;

(g) Diizinkan pasukannya memakai surban.

Tawar-menawar syarat-syarat ini dilakukan pada tanggal 17 Oktober 1829 di Imogiri,

antara delegasi Alibasah dengan delegasi Belanda, yang hasilnya masih memerlukan

waktu untuk diputuskan oleh penguasa tertinggi Hindia Belanda di Batavia.

Dalam surat yang ditulis Jenderal De Kock kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda

di Batavia, tertanggal 20 Oktober 1829, antara lain berisi: “…saya telah menulis surat

kepada Residen dan Kolonel Cochius bahwa mereka harus sedapat mungkin berusaha

menyenangkan hati Alibasah, karena adalah hal yang penting sekali apabila orang

seperti Alibasah dapat kita tarik ke pihak kita dan turut membela kepentingan kita …..

seperti yang hendak saya nyatakan dengan hormat, bahwa karena sebab-sebab itulah

saya berpendapat bahwa adalah sangat penting apabila Alibasah sudah berada di pihak

kita, makin lama makin mengikat dia pada kepentingan kita. Sungguhpun hal ini harus

disertai beberapa pengorbanan dari pada kita.”

Surat Jenderal De Kock ini mendapat jawaban dari pemerintah Hindia Belanda di

Batavia tertanggal 25 Oktbber 1829, antara lain berbunyi: “Pemerintah pada dasarnya

setuju dengan keinginan Jenderal (Jenderal De Kock) bahwa dari pihak kita harus dipergunakan

segala apa yang mungkin dapat dipakai, selama hal itu dapat sesuai dengan

kebesaran pemerintah dan berusaha sedapat mungkin mencegah kembalinya Alibasah

ke pihak pemberontak.

Melihat isi surat-surat pemerintah Bindia Belanda ini dapat disimpulkan bahwa Belanda

bersedia memenuhi syarat-syarat yang diajukan oleh Alibasah. Oleh karena itu kepada

Residen Yogyakarta diperintahkan untuk segera menyerahkan uang sebanyak £ 5.000,-

dan 200 pucuk senjata untuk dipergunakan pasukan Alibasah serta pasukannya itu

langsung dibawah komando Jenderal De Kock, walau secara yuridis masih berada

dibawah wewenang sultan. Syarat-syarat lainnya seluruhnya dipenuhi.

Untuk pelaksanaan penyerahan Alibasah dengan pasukannya, pada tanggal 23 Oktober

1829 Jenderal De Kock datang ke kota Yogyakarta untuk menyambutnya; dan pada

tanggal 24 Oktober 1829 Alibasah dengan pasukannya memasuki kota Yogyakarta dan

diterima oleh Jenderal De Kock dengan upacara militer yang meriah.

Dengan menyerahnya Pangeran Mangkubumi, Alibasah dan puluhan Pangeran dan

Tumenggung serta tertangkapnya Kiai Mojo dan gugurnya ratusan tokoh-tokoh Perang

Jawa, maka secara praktis Diponegoro tinggal sendirian. Pengalaman pahit dan getir

yang dialami oleh Diponegoro sebagai pimpinan tertinggi perang Jawa, karena

banyaknya sababat-sahabat meninggalkannya atau meninggal dunia. Dalam kondisi

yang demikian, ia harus menentukan pilihan: meneruskan pertempuran sampai mati

syahid di medan laga atau menyerah kepada musuh sampai mati di dalam penjara.

Kedua alternatif itu sama-sama tidak menyenangkan!

Setelah menyerahnya Alibasah dengan pasukannya, operasi militer Belanda terus

ditingkatkan guna memberikan pukulan terakhir terhadap pasukan Diponegoro yang

tinggal sedikit lagi itu. Tekanan-tekanan pasukan Belanda kepada posisi pasukan

Diponegoro yang terus-menerus ditingkatkan, banyak pula tokoh-tokoh Perang Jawa

yang menyerah, antara lain pada bulan Desember 1829; salah seorang komandan

pasukan Diponegoro yang masih ada yaitu Jayasendirga; Tumenggung Jayaprawira dan

beberapa tumenggung lainnya beserta pasukannya bertekuk lutut kepada Belanda.

Adapula yang karena kondisi kesehatan, akhirnya wafat di puncak gunung Sirnabaya

Banyumas seperti Pangeran Abdul Rahim (saudara Diponegoro sendiri).

Memasuki tahun 1830, musibah yang menimpa pasukan Diponegoro masih terus saja

bertambah. Pada tanggal 8 Januari 1830, putera Diponegoro yaitu Pangeran

Dipakusuma tertangkap oleh pasukan Belanda; pada tanggal 18 Januari 1830 berikutnya

Patih Diponegoro menyerah kepada Belanda.

Usaha untak menghentikan Perang Jawa dengan damai yang licik terus dilakukan.

Dengan menggunakan bekas tokoh-tokoh Perang Jawa seperti Alibasah dan Patih

Danureja dalam usaha perdamaian licik membawa hasil yang menggembirakan bagi

Belanda. Sebab pada tanggal 16 Februari 1830 telah terjadi pertemuan pertama antara

Diponegoro dengan Kolonel Cleerens, wakil pemerintah Hindia Belanda dalam rangka

perdamaian di Kamal, sebelah utara Rama Jatinegara daerah Bagelen.

Pertemuan perdamaian tidak dapat dilangsungkan, karena Diponegoro menuntut

perundingan itu harus dilakukan oleh seorang yang mempunyai posisi yang sama

dengan dia; setidak-tidaknya seperti Jenderal De Kock. Padahal Jenderal De Kock pada

saat itu sedang berada di Batavia.

Untuk menunggu kedatangan Jenderal De Kock, maka Diponegoro dengan pasukannya

terpaksa harus menginap di Kecawang sebelah utara desa Saka. Selama tenggang waktu

perundingan, gencatan senjata dilakukan oleh kedua belah pihak. Desa Kecawang masih

terlalu jauh, apabila perundingan akan dilangsungkan di sana. Oleh karena itu; untuk

memudahkan jalan perundingan Diponegoro dengan pasukannya harus pindah ke

Menoreh yang tidak begitu jauh dari Magelang, markas besar pasukan Belanda.

Pada tanggal 21 Februari 1830 rombongan Diponegoro telah tiba di Menoreh. Tetapi

sampai 5 Maret 1830 Jenderal De Kock belum juga datang ke Magelang padahal bulan

Ramadhan telah tiba. Berkenaan dengan bulan suci ini; Diponegoro tidak mau

mengadakan perundingan dengan Belanda karena ia akan memusatkan dirinya untuk

melakukan ibadah puasa selama sebulan. Kontak pertama antara Diponegoro dengan

Jenderal De Kock terjadi pada tanggai 8 Maret 1830, sebagai perkenalan dan

selanjutnya jadwal perundingan akan dilangsungkan sesudah bulan Ramadhan.

Menjelang hari raya Idul Fithri, Diponegoro telah menerima hadiah dalam bentuk

seekor kuda tunggang yang sangat baik dan uang sebesar f 10.000.- Kemudian diikuti

dengan pembebasan putera dan isteri Diponegoro yang ditahan di Semarang dan

membolehkan mereka berkumpul dengan Diponegoro di tempat penginapan

perundingan di Magelang.

Pada tanggal 25 Maret 1830, Jenderal De Kock telah memberikan perintah rahasia

kepada Letnan Kolonel Du Perron dan pasukannya untuk memperketat pengawalan dan

penjagaan kota Magelang dengan mengerahkan pasukan Belanda dari beberapa daerah

di Jawa Tengah. Instruksinya, apabila perundingan gagal, Diponegoro dan delegasinya

harus ditangkap!

Pada tanggal 28 Maret 1830 perundingan akan dilangsungkan di gedung Keresidenan

Kedu di Magelang. Sebelum jam 07.00 pagi Tumenggung Mangunkusuma datang

kepada Residen Kedu untuk memberitahukan bahwa sebentar lagi Diponegoro dengan

staf nya akan tiba. Pemberitahuan ini menyebabkan Letnan Kolonel Du Perron

menyiap-siagakan pasukannya, sesuai dengan perintah Jenderal De Kock. Jam 07.30

pagi Diponegoro dengan stafnya dikawal oleh seratus orang pasukannya memasuki

gedung keresidenan. Delegasi Diponegoro diterima langsung oleh Jenderal De Kock

dengan staf nya. Perundingan dilakukan di tempat kerja Jenderal De Kock. Pihak

Diponegoro disertai dengan tiga orang puteranya yaitu Diponegoro Anom, Raden Mas

Jonad, Raden Mas Raab, ditambah dengan Basah Martanegara dan Kiai Badaruddin.

Sedangkan di pihak Jenderal De Kock disertai oleh Residen Valk, Letnan Kolonel

Roest, Mayor Ajudan De Stuers dan Kapten Roeps sebagai juru bicara.

Letnan Kolonel De Kock van Leeuwen, Mayor Perie dan opsir-opsir Belanda lainnya

ditugaskan untuk melayani dan mengawasi pemimpin-pemimpin pasukan Diponegoro

yang berada di kamar yang lain. Sedangkan Letnan Kolonel Du Peron tetap berada di

luar gedung keresidenan untuk setiap saat dapat melakukan penyergapan, sebagaimana

telah diperintahkan oleh Jenderal De Kock.

Kolonel Cleerens yang mula-mula sekali berhasil melakukan kontak dengan

Diponegoro dan berhasil merencanakan pertemuan perdamaian serta telah memberikan

jaminan diplomasi penuh kepada Diponegoro dan stafnya tidak diikutsertakan bahkan

tidak berada di kota Magelang tempat perundingan dilaksanakan. Dengan demikian jika

terjadi pengkhianatan maka secara moral Cleerens tidak terlibat langsung, karena

memang tidak hadir.

Babak pertama Jadwal perundingan, menurut Diponegoro sebagai pendahuluan untuk

menjajagi materi perundingan pada babak selanjutnya; tetapi menurut Jenderal De Kock

harus langsung memasuki materi Perundingan. Pembicaraan materi perundingan

menjadi tegang, karena De Kock bersikeras untuk langsung membicarakan materi

perundingan. Suasana tegang dan panas itu, sampai-sampai Diponegoro terlontar

ucapan: “Jika tuan menghendaki persahabatan, maka seharusnya tidak perlu adanyaketegangan di dalam perundingan ini. Segalanya tentu dapat diselesaikan dengan baik.

Jikalau kami tahu bahwa, tuan begitu jahat, maka pasti lebih baik kami tinggal terus saja

berperang di daerah Bagelen dan apa perlunya kami datang kemari.”

Ketika pihak Jenderal De Kock terus mendesak tentang tujuan penerangan yang telah

dilakukan oleh Diponegoro selama lebih lima tahun ini, maka akhirnya ia memberi

jawaban dengan tegas dan gamblang, yaitu antara lain: “Mendirikan negara merdeka di

bawah pimpinan seorang pemimpin dan mengatur agama Islam di pulau Jawa”.

Mendengar jawaban ini Jenderal De Kock terperanjat, karena ia tidak mengira bahwa

Diponegoro akan mengajukan tuntutan semacam itu. Sewaktu De Kock memberi

jawaban bahwa tuntutan semacam itu adalah terlalu berat dan tak mungkin dapat

dipenuhi, Diponegoro tetap teguh pada tuntutannya.

Tanda-tanda perundingan babak pertama akan menemui jalan buntu, dan Belanda

khawatir jika perundingan ditunda sampai besok, berarti kesempatan buat Diponegoro

dan pasukannya untuk mengadakan konsolidasi guna menghadapi segala kemungkinan.

Sesuai dengan rencana Belanda bahwa perundingan adalah semata-mata methoda untuk

menangkap Diponegoro dan stafnya, maka dengan angkuhnya Jenderal De Kock

berkata: “Kalau begitu, tuan tidak boleh lagi kembali dengan bebas.”

Mendengar ucapan ini, Diponegoro dengan marah menjawab : “Jika demikian, maka

tuan penipu dan pengkhianat, karena kepada saya telah dijanjikan kebebasan dan boleh

kembali ke tempat perjuangan saya semula, apabila perundingan ini gagal.”

Jenderal De Kock berkata lagi: “Jika tuan kembali, maka peperangan akan berkobar

lagi.” Diponegoro menjawab: “Apabila tuan perwira dan jantan, mengapa tuan takut

berperang?”

Tiba-tiba Jenderal De Kock menginstruksikan kepada Letnan Kolonel Du Perron dan

pasukannya untuk menyergap Diponegoro dan stafnya serta seluruh pengawalnya

dilucuti. Dalam posisi tidak siap tempur, Diponegoro dan pasukannya dengan mudah

ditangkap dan dilucuti.

Dengan cepat Diponegoro dimasukkan ke dalam kendaraan residen yang telah disiapkan

oleh Belanda dengan pengawalan ketat oleh Mayor Ajudan De Stuers dan Kapten Roeps

berangkat menuju Ungaran. Dari sana kemudian Diponegoro dibawa ke Semarang

untuk selanjutnya dibawa ke Batavia. Pada tanggal 3 Mei 1830 Diponegoro beserta

stafnya dibawa ke tempat pembuangannya di Menado. Tidak kurang dari 19 orang yang

terdiri dari keluarga dan stafnya ikut dalam pembuangan di Menado. Pada tahun 1834

Diponegoro beserta keluarga dan stafnya dipindahkan ke kota Makasar. Dan pada

tanggal 8 Januari 1855 Diponegoro wafat dalam usia kira-kira 70 tahun, setelah

menjalani masa tawanan selama dua puluh lima tahun.

Perang Jawa yang dahsyat dan penuh patriotisme telah digerakkan dan dipimpin oleh

tokoh-tokoh pejuang Islam, yang hampir sebagian terbesar berideologi Islam dan

bertujuan berdirinya negara merdeka yang berdasarkan Islam. Fakta-fakta sejarah yang

terungkap, baik latar belakang yang mewarnai para tokoh Perang Jawa, masa

peperangan yang memakan waktu lima tahun lebih, yang diisi dengan menegakkan

syari’at Islam di dalam kehidupan pasukan Diponegoro sampai pada saat perundingan

dengan Belanda serta tujuan yang akan dicapai, semuanya adalah bukti yang kuat

bahwa Diponegoro dan pasukannya telah melakukan perjuangan politik Islam untuk

mendirikan negara Islam di tanah Jawa.

Kegagalan yang diderita oleh Diponegoro dan pasukannya, bukan karena tujuan dan

methodanya yang salah, tetapi karena kekuatan yang tak seimbang, baik manpower,

persenjataan, perlengkapan dan pengkianatan bangsa sendiri yang sebagian besar

membantu Belanda-Kristen yang kafir; disamping tipu muslihat yang licik dan keji yang

dilakukan oleh penguasa kolonial Belanda-Kristen.

Tipu muslihat yang licik dan keji, yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang

bermoral rendah dan jahat, ternyata telah menjadi watak kepribadian penguasa kolonial

Barat-Kristen di Indonesia, baik Portugis-Kristen Katholik maupun Belanda-Kristen

Protestan.

 

Sumber : PERANG SABIL versus PERANG SALIB  Ummat Islam Melawan Penjajah Kristen Portugis dan Belanda

Oleh: ABDUL QADIR DJAELANI/Anggota DPR RI Penerbit: YAYASAN PENGKAJIAN ISLAM MADINAH AL-MUNAWWARAH

Jakarta 1420 H / 1999 M