Perang Sabil vs Perang Salib VI ; PERANG BANJAR

Sultan Tahmidillah I (1778 – 1808) mempunyai anak tiga orang, yang berhak menggantikannya sebagai sultan, yaitu Pangeran Rahmat, Pangeran Abdullah dan Pangeran Amir. Dalam perebutan kekuasaan, Pangeran Nata salah seorang saudara Sultan Tahmidillah I, berhasil membunuh Pangeran Rahmat dan Abdullah.

Keberhasilan ini disebabkan bantuan Belanda yang diberikan kepada Pangeran Nata.

Oleh karena itu Pangeran Nata diangkat oleh Belanda menjadi sultan dengan gelar Sultan Tahmidillah II.

Tampilnya Sultan Tahmidillah II menjadi sultan Banjar mendapat tantangan dan perlawanan dari Pangeran Amir, salah seorang putera Sultan Tahmidillah I yang selamat dari pembunuhan Sultan Tahmidillah II. Dalam pertarungan antara Sultan Tahmidillah II yang sepenuhnya dibantu oleh Belanda, dengan Pangeran Amir, maka akhirnya

Pangeran Amir dapat ditangkap oleh Belanda dan di buang ke Ceylon.

Kemenangan Sultan Tahmidillah II atas Pangeran Amir harus dibayar kepada Belanda dengan menyerahkan daerah-daerah Pegatan, Pasir, Kutai, Bulungan dan Kotawaringin.

Pangeran Amir mempunyai seorang putera bernama Pangeran Antasari, yang lahir pada tahun 1809. Sejak kecil Pangeran Antasari tidak senang hidup di istana yang penuh intrik dan dominasi kekuasaan Belanda. Ia hidup di tengah-tengah rakyat dan banyak belajar agama kepada para ulama, dan hidup dengan berdagang dan bertani.

Pengetahuannya yang dalam tentang Islam, ketaatannya melaksanakan ajaran-ajaran Islam, ikhlas, jujur dan pemurah adalah merupakan akhlaq yang dimiliki Pangeran Antasari. Pandangan yang jauh dan ketabahannya dalam menghadapi setiap tantangan, menyebabkan ia dikenal dan disukai oleh rakyat. Dan ia menjadi pemimpin yang ideal bagi rakyat Kalimantan Selatan, khususnya Banjarmasin. Wafatnya Sultan Tahmidillah II digantikan oleh Sultan Sulaiman (1824-1825) yang memerintah hanya dua tahun; kemudian digantikan oleh Sultan Adam (1825-1857).

Pada masa ini kesultanan Banjar hanya tinggal Banjarmasin, Martapura dan Hulusungai.

Selebihnya telah dikuasai oleh Belanda. Setelah Sultan Adam wafat, Belanda

mengangkat Pangeran Tamjidillah menjadi Sultan Banjar, sedangkan rakyat menghendaki Pangeran Hidayat; karena ia adalah putra langsung dari Sultan Adam.

Dalam menghadapi keruwetan ini Belanda tetap mempertahankan pangeran Tamjidillah

menjadi sultan dan mengangkat Pangeran Hidayat menjadi Mangkubumi.

Perlakuan sewenang-wenang yang dilakukan oleh Belanda terhadap kesultanan Banjar

dan penindasan terhadap rakyat membangkitkan kemarahan rakyat untuk menentang

Belanda. Dalam kondisi seperti ini adalah wajar jika Pangeran Antasari sebagai

pemimpin rakyat tampil ke depan untuk memimpin perlawanan ini.

Dalam usaha menghadapi kekuasaan Belanda yang besar, Pangeran Antasari berusaha

untuk menghimpun semua potensi rakyat, termasuk pangeran Hidayat yang menjabat

sebagai Mangkumi. Pada pertengahan April, dua minggu sebelum pecah perang Banjar

tanggal 28 April 1859, terjadi dialog yang tegang dan penting antara Pangeran Antasari

dengan Pangeran Hidayat, dalam rangka mengajak Pangeran Hidayat untuk bersamasama

melakukan perlawanan terhadap Belanda.

Dialog yang terjadi di rumah kediaman Pangeran Hidayat, antara lain berbunyi sebagai

berikut.

“Begini, Hidayat! Aku kemari atas nama rakyat dan semua pejuang-pejuang Banjar ….”

“…Sebentar !” Pangeran Hidayat memutus. “Siapa yang Paman maksudkan, dengan

rakyat dan pejuang-pejuang Banjar itu ?”

Pangeran Antasari dengan sabar menjawab: “Rakyat yang selama ini ditindas dan

diperlakukan sewenang-wenang, semua pejuang-pejuang Banjar yang berjuang untuk

mengakhiri penindasan dan perlakuan yang sewenang-wenang itu !”.

“Dan Paman termasuk pula di antara pejuang-pejuang itu?” sela Pangeran Hidayat.

“Itu bukan suatu hal yang aib!” Jawab Pangeran Antasari dengan tajam. “Dan kau pun

akan bangga menjadi salah seorang dari mereka, jika kau tahu untuk apa dan siapa kau

baktikan hidupmu ini sebaik-baiknya”.

“Jadi apa yang Paman harapkan dari saya ?” tanya Pangeran Hidayat.

“Kesediaanmu untuk berjuang bersama kami. Kesediaanmu untuk memimpin semua

perjuangan ini nanti !” Jawab Pangeran Antasari dengan tegas.

Pangeran Hidayat bangkit. Ia berjalan-jalan mondar-mondir sambil berpikir. “Tapi ini

berarti pemberontakan besar-besaran, Paman !”

Pangeran Antasari menjawab: “Pemberontakan adalah bahasa yang dipergunakan oleh

Belanda. Dan ini kedengaran sumbang di telinga kita. Kita tidak pernah menganggap

kompeni itu memerintah dengan sah di kerajaan ini. Karena itu, kita memakai bahasa

kita sendiri. Perang ! Perang mengusir penjajah asing !”

“Apapun bahasa yang Paman pakai, semuanya berakibat pertumpahan darah. Dan saya

telah melihat bahwa telah banyak darah mengalir di kerajaan ini. Ini sudah cukup dan

harus segera kita akhiri. Bukan sebaliknya akan kita mulai”.

“Bagus, dan ironis. Kamu mempergunakan bahasa perikemanusiaan. Dan ini memang

merdu menggugah perasaan seperti suara bilal pada azan subuh. Tapi dapatkah kau

harapkan Kompeni akan mengucapkan apalagi mengamalkan bahasa yang serupa itu

terhadap kita ? Tidak, tidak dapat ! Kompeni akan mempergunakan bahasa kegemaran

mereka: merabit-rabit kita sekaum dan pertumpahan darah! Coba kau tunjukkan

kepadaku, bagaimana caranya kita menunjukkan sikap kemanusiaan kita terhadap

perlakuan yang tidak berperikemanusiaan ini ?”

Pangeran Hidayat nadanya melemah: “Saya hanya benci dan jemu melihat pertumpahan

darah yang sia-sia, Paman. Rakyat telah banyak berkorban untuk kita.”

“Kau lupa, Hidayat. Peperangan ini baru hendak kita mulai. Adapun pertumpahan darah

yang kau takutkan itu sebenarnya belum lagi sungguh-sungguh terjadi. Agama kita akan

membenarkan peperangan ini sebagai perang sabil. Dan kematian yang dituntut dari

perjuangan ini tidaklah sia-sia, melainkan syahid. Kita hidup untuk Allah dan mati

untuk Allah!” ucap Pangeran Antasari bersemangat.

Namun Pangeran Hidayat merasa belum yakin. “Tidakkah ada jalan lain selain

pertumpahan darah ini, Paman” tanyanya kemudian.

“Ada!” Pangeran Antasari menjawab dengan tegas. “Dan jalan satu sudah dan sedang

kau tempuh untuk menghindari pertumpahan darah itulah kau mau menjadi apa saja,

sekalipun kau korban harga dirimu pada kompeni dan Tamjid!”

Pangeran Hidayat tersinggung. “Jika kata pengkhianat yang Paman maksudkan dengan

kata-kata: mau menjadi apa saja, maka saya berhak menolak tuduhan itu,” bantahnya.

“Kecintaan saya kepada rakyat dan bumi di mana kita hidup dan bernapas ini, sama

besarnya dengan apa yang Paman rasakan. Dan apa artinya harga diri saya. Jika karena

itu saya harus menumpahkan sekian banyak darah mereka “.

“Aku tidak menyangkal bahwa kau pun mencintai rakyat dan kerajaan ini,” Pangeran

Antasari balas menyanggah. “Karena itulah seluruh rakyat dan pejuang-pejuang Banjar

masih menaruh kepercayaan penuh kepadamu; masih menggantungkan keyakinan yang

sebesar-besarnya kepadamu, bahwa kelangsungan hidup kerajaan ini ada di tanganmu.”

“Hanya yang tidak bisa kupahami ialah caramu menyatakan dan menunjukkan

kecintaanmu itu! Untuk mencegah pertumpahan darah kau bersedia ditunjuk oleh

Kompeni sebagai Mangkubumi!”

“Belum lagi kering air mata di atas jenazah kakekmu Sultan Adam yang disusul dengan

penobatan Tamjid, kau dengan kebencianmu kepada pertumpahan darah dan

kepercayaanmu yang penuh kepada Kompeni merupakan satu-satunya yang dapat

mencegah malapetaka yang tak berperikemanusiaan itu, telah sengaja atau tidak

menyerahkan pamanmu sendiri, Perabu Anom, yang menyebab pembuangannya!”

“Kemudian baru-baru ini kudengar lagi kabar, bahwa kau telah menyanggupi kepada

Residen Belanda untuk mendamaikan perlawanan rakyat dengan janji kepada mereka

yang melakukan perlawanan itu, pemeriksaan yang teliti dan keputusan hukuman yang

seadil-adilnya! Tentu saja aku termasuk pula di dalamnya, bukan ?” Jawab Pengeran

Antasari dengan getir.

“Ingatan paman sangat baik,” jawab Pangeran Hidayat. “Apa yang Paman katakan itu

semua benar. Tentu Paman ingin menambahkan pula, bahwa karena tindakan-tindakan

itu semua, saya telah merugikan perjuangan rakyat. Saya bukan lagi menolongnya

malah menjerumuskannya!”

“Paman, saya tidak bermaksud membela diri. Semua itu saya lakukan karena pada dasar

hati saya, saya mempunyai kepercayaan penuh kepada manusia. Saya percaya bahwa

sebagian besar manusia menyukai hidup tenteram dan membenci pertumpahan darah.

Saya percaya bahwa segala macam pertentangan dapat diselesaikan dengan perundingan

tanpa kita harus saling membunuh.”

“Sungguh akan menjadi khotbah yang menarik. Hanya jangan kau harapkan bahwa

Kompeni akan berbondong-bondong datang mendengarkan khotbahmu! Hidayat, apa

kamu masih juga percaya, bahwa kemerdekaan kita yang telah diinjak-injak oleh

Kompeni sekarang ini dapat ditebus dengan berunding hanya karena sebagian besar

umat manusia di muka bumi ini menyukai hidup tenteram dan membenci pengaliran

darah?”

Sejurus Pangeran Antasari berhenti sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Kita yang

sudah banyak mengaji mengetahui benar,” lanjutnya, “bahwa Allah tidak akan

mengubah nasib kita, jika kita sendiri tidak berusaha mengubahnya”.

“Saya tidak tahu lagi, Paman,” Pangeran Hidayat terdesak. “Saya tidak tahu lagi apa

yang harus saya katakan.”

“Kamu boleh tidak tahu apa yang harus kau katakan, tapi kau harus tahu apa yang harus

kau lakukan. Dan itu cuma satu. Pimpinlah perjuangan ini!” desak Pangeran Antasari.

“Mengapa Paman masih terus mengharapkan supaya saya memimpinnya?”

“Karena kau adalah ahli waris yang sah dari kerajaan ini.”

Pangeran Hidayat menyanggah : “Saya tidak terlalu gembira dengan sebutan ahli waris

yang sah, karena saya tahu Paman pun berhak penuh atas kerajaan ini,” katanya jujur.

“Saya tidak terlalu berterima kasih kepada leluhur saya yang menyebabkan saya

mendapat kehormatan dengan sebutan putera mahkota, karena saya tahu mereka telah

merebutnya dari datu-datu Paman. Turun-temurun keluarga Paman telah berjuang

mengusir Kompeni. Sedangkan saya…,” ia menggeleng-geleng. “Tidak, Paman.

Mengapa tidak Paman sendiri meneruskan memimpinnya.”

“Jangan kita seperti anak kecil, Hidayat,” keluh orang tua itu kesal. “Membangkitbangkit

kesalahan orang yang telah dikubur. Apapun yang telah terjadi diantara mereka,

tidak menghapuskan adanya pertalian darah diantara kita. Aku sudah lanjut usia. Jika

Allah membenarkannya, sebenarnya aku tidak mengharapkan lebih daripada

kedudukanku yang sekarang ini. Tambahan pula rakyat masih percaya penuh kepada

wasiat kakekmu almarhum.”

“Tetapi wasiat itu telah beliau batalkan sendiri dengan pengangkatan saya sebagai

Mangkubumi sekarang ini…Namun demikian”, jawab Pangeran Antasari, “Bagi mereka

kau tidak saja ahli waris yang sah dari kerajaan ini, tetapi juga yang maha utama bagi

mereka. Kau merupakan lambang dari perasaan mereka yang ingin bebas, lambang dari

perjuangan mereka untuk satu. Karena itulah mereka mempertaruhkan segala-galanya

untukmu.”

Pangeran Hidayat berjalan mondar-mandir, dan rupanya mulai termakan di hatinya.

“Siapa diantara pemuka-pemuka rakyat yang ikut…?” tanyanya.

“Aku telah menghimpun semua mereka. Pasukan dari daerah Barito, Kapuas, dan

Kahayan dipimpin oleh Tumenggung Surapati. Dari daerah Hulu Sungai dan Tanah

Laut dipimpin oleh tangan kananmu sendiri; Demang Lehman, bersama-sama

Tumenggung Antaluddin, Haji Buyasin, dan lain-lain. Benar-benar tenaga-tenaga muda

yang jarang ada tandingannya. Adapun pasukan dari daerah Benua lima, juga dipimpin

oleh orang kepercayaanmu sendiri, Jalil; dan Aling dari Muning telah memihak kepada

kita.”

“Yang terakhir ini sudah saya dengar juga. Rupanya Paman tidak saja berhasil untuk

menyatukan Gerakan Benua Lima dengan Gerakan Maning, tapi sempat juga

menjadikannya besan.”

“Ini suratan jodoh semata-mata,” jawab Pangeran Antasari.

Setelah itu keduanya terdiam merenung sejenak. “Jadi semuanya mereka telah satu

mufakat ?” tanya Pangeran Hidayat.

“Kau jangan menyangsikan lagi”, sahut pengeran Antasari tegas.

“Apakah Paman yakin bahwa Paman akan memenangkun peperangan ini?”

“Kita harus yakin, bahwa kita akan memenangkan kebenaran dari peperangan ini,”

Dua minggu kemudian, tepatnya tanggal 28 April 1859, Perang Banjar yang dipimpin

oleh Pangeran Antasari meletus, dengan jalan merebut benteng Pengaron milik Belanda

yang dipertahankan mati-matian. Pertempuran di benteng pengaron ini disambut dengan

pertempuran-pertempuran di berbagai medan yang tersebar di Kalimantan Selatan, yang

dipimpin oleh Kiai Demang Lehman, Haji Buyasin, Tumenggung Antaluddin, Pangeran

Amrullah dan lain-lain.

Pertempuran mempertahankan benteng Tabanio bulan Agustus 1859, pertempuran

mempertahankan benteng Gunung Lawak pada tanggal 29 september 1859;

mempertahankan kubu pertahanan Munggu Tayur pada bulan Desember 1859;

pertempuran di Amawang pada tanggal 31 Maret 1860. Bahkan Tumenggung Surapati

berhasil membakar dan menenggelamkan kapal Onrust milik Belanda di Sungai Barito.

Sementara itu Pangeran Hidayat makin jelas menjadi penentang Belanda dan memihak

kepada perjuangan rakyat yang dipimpin oleh Pangeran Antasari. Penguasa Belanda

menuntut supaya Pangeran Hidayat menyerah, tetapi ia menolak. Akhirnya penguasa

kolonial Belanda secara resmi menghapuskan kerajaan/kesultanan Banjar pada tanggal

11 Juni 1860. Sejak itu kesultanan Banjar langsung diperintah oleh seorang Residen

Hindia Belanda.

Perlawanan semakin meluas, kepala-kepala daerah dan para ulama ikut memberontak,

memperkuat barisan pejuang Pangeran Antasari bersama-sama pangeran Hidayat,

langsung memimpin pertempuran di berbagai medan melawan pasukan kolonial

Belanda. Tetapi karena persenjataan pasukan Belanda lebih lengkap dan modern,

pasukan Pangeran Antasari dan Pangeran Hidayat terus terdesak serta semakin lemah

posisinya. Setelah memimpin pertempuran selama hampir tiga tahun, karena kondisi

kesehatan, akhirnya Pangeran Hidayat menyerah pada tahun 1861 dan dibuang ke

Cianjur, Jawa Barat.

Setelah Pangeran Hidayat menyerah, maka perjuangan umat Islam Banjar dipimpin

sepenuhnya oleh pangeran Antasari, baik sebagai pemimpin rakyat yang penuh dedikasi

maupun sebagai pewaris kesultanan Banjar. Untuk mengokohkan kedudukannya

sebagai pemimpin perjuangan umat Islam tertinggi di Kalimantan Selatan, maka pada

tanggal 14 Maret 1862, bertepatan dengan 13 Ramadhan 1278 Hijriah, dimulai dengan

seruan: “Hidup untuk Allah dan Mati untuk Allah,” seluruh rakyat, pejuang-pejuang,

para alim ulama dan bangsawan-bangsawan Banjar; dengan suara bulat mengangkat

Pangeran Antasari menjadi ‘Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin’.

Tidak ada alasan lagi bagi Pangeran Antasari untuk menolak, ia harus menerima

kedudukan yang dipercayakan kepadanya dan bertekad melaksanakan tugasnya dengan

rasa tanggung jawab sepenuhnya kepada Allah dan rakyat.

Dengan pengangkatan ini menyebabkan ia sekaligus secara resmi memangku jabatan

sebagai Kepala Pemerintahan, Panglima Perang dan Pemimpin Tertinggi Agama Islam.

Pertempuran yang berkecamuk makin sengit antara pasukan Khalifatul Mukminin

dengan pasukan Belanda, berlangsung terus di berbagai medan. Pasukan Belanda yang

ditopang oleh bala bantuan dari Batavia dan persenjataan modern, akhirnya berhasil

mendesak terus pasukan Khalifah. Dan akhirnya Khalifah memindahkan pusat benteng

pertahanannya di hulu Sungai Teweh. Pada awal Oktober 1862, bertempat di markas

besar pertahanan Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin (Pangeran Antasari) di

hulu Sungai Teweh diselenggarakan rapat para panglima, yang dihadiri oleh Khalifah

sendiri, Gusti Muhammad Seman, Gusti Muhammad Said (keduanya putera khalifah

sendiri), Tumenggung Surapati dan Kiai Demang Lehman. Sedangkan para panglima

yang lain-lain tidak bisa hadir, karena perhubungan yang sulit dan letaknya jauh-jauh.

“Adakah kabar penting Lehman ?” Khalifah membuka percakapan.

“Oo tidak … Tidak ada hal-hal yang terlalu luar biasa,” jawab Lehman. “Hanya saja

kami semua mendengar bahwa Khalifah-sakit.”

“Seperti yang kamu lihat sendiri, Lehman …. penyakit orang-orang telah berumur. Tapi

Insya Allah, aku akan sehat kembali. Hanya buat sementara pimpinan perjuangan di sini

kuserahkan kepada mereka bertiga ini ….,” jawab Khalifah, Gusti Muhammad Seman,

Gusti Muhammad Said dan Tumenggung Surapati mengangguk, yang dibalas pula oleh

Kiai Demang Lehman.

Selanjutnya Kiai Demang Lehman menyampaikan pesan para panglima dari Hulu

Sungai dan Tanah Laut, yaitu Haji Buyasin dan Kiai Langlang, yang tidak sempat hadir

pada saat pelantikan Khalifah serta permohonan maaf dan doa semoga khalifah cepat

sembuh. “Kami para panglima yang berada di daerah Hulu Sungai dan Tanah Laut telah

berikrar dan bertekad bulat dibawah pimpinan Khalifah untuk berjuang dan bertempur

terus di mana pun kami berada, selama Allah subhanahu wata’ala memberikan daya dan

kemampuan kepada kami.”

“Alhamdulillah…,” ucap Khalifah. “Aku mengucapkan syukur dan terima kasih, kamu

semua masih tetap menaruh kepercayaan yang begitu besar demi kelangsungan

perjuangan kepadaku. Karena itu aku sungguh-sungguh yakin dan percaya, sekalipun

aku kelak sudah tidak ada lagi, kamu sekalian yang masih muda-muda ini, akan terus

memimpin dan melanjutkan perjuangan membela rakyat dan menegakkan syari’at Islam.

Kepadamu semua aku tidak dapat mewariskan apa-apa kecuali perjuangan ini. Kapan

berakhirnya perjuangan ini aku sendiri tidak tahu. Hanya yang pasti, perjuangan

manusia untuk menegakkan kebenaran dan keadilan akan terus berlangsung sepanjang

usia umat manusia.

Pembicaraan dalam pertemuan ini beralih kepada Muhammad Said, putera Khalifah,

dimana antara lain ia berucap: “Sulit menemukan kesempatan seperti dalam pertemuan

ini. Medan yang terpencar-pencar memaksa kita tidak dapat selalu bertempur bersama,

bertemu dan apalagi memperbincangkan sesuatu. Namun demikian kita diikat oleh satu

persamaan cita-cita dan tujuan, yang dihidupkan dan digerakkan oleh semangat perang

sabil.

“Inilah…,” tekannya. “Tiga setengah tahun sudah kita menjalani perang ini. Korban

benda dan jiwa sudah tidak terkatakan. Korban harta dan orang-orang yang kita cintai.

Dan saya sendiri sudah kehilangan seorang isteri, ipar dan mertua dalam perang ini.

Allah Maha Tahu apa artinya mereka semua bagiku..”

Kembali ia terdiam merenung, lanjutnya: “Perang adalah sungguh-sungguh

kesengsaraan. Siapapun harus mengakui ini. Tetapi menyesalkah kita telah

melakukannya? Tidak! Karena kita tahu untuk apa kita ini berjihad!” katanya

bersemangat.

“Biar seribu kali Nieuwenhuyzen mengeluarkan maklumat proklamasinya yang

menyebut-nyebut bahwa tujuan pemerintah Belanda sekarang ialah menciptakan

kemakmuran rakyat, memegang teguh keadilan, ketertiban dan keamanan serta

menganggap kita binatang buruan yang mengembara dalam rimba-rimba belantara dan

menuduh kita menyalahgunakan nama Agama dan tanah air untuk membenarkan tujuan

perang kita, semuanya itu tidak ada artinya dan tidak melemahkan iman kita! Kompeni

boleh membunuh kita, tetapi tidak semangat kita! Lalu menyerah … Menyerah setelah

sekian banyak korban, sekian banyak kesengsaraan? Lalu apa artinya korban dan

kesengsaraan selama tiga setengah tahun perang ini? Inilah yang menjadi tanda tanya

tentang menyerahkan kak Hidayat kepada Belanda. Kiai Demang Lehman adalah orang

yang paling dekat dengan kak Hidayat, tolong jelaskan.”

Kiai Demang Lehman mengangguk, menunduk sebentar kemudian mengangkat muka.

“Mungkin sebagian kesalahan itu ada pada saya,” ia mulai dengan suatu pengakuan

yang jujur. “Dan jika itu dinamakan kesalahan juga, maka kesetiaan itulah saya kira

asal-mula sebabnya. Hanya, kesetiaan saya itu bukanlah karena saya dari seorang

pemuda tanggung bernama Idis yang diangkatnya menjadi Lalawangan di Riam Kanan

dengan gelar Kiai Demang Lehman dan kemudian mendapat hadiah kedua macam

senjata ini,” katanya sambil memperlihatkan senjata-senjatanya.

“Kesetiaan saya adalah kesetiaan seorang rakyat biasa terhadap pemimpin yang

dicintainya dan sebaliknya menyintai pula rakyatnya; kesetiaan kepada pemimpin yang

diharapkan membimbing rakyatnya keluar dari penindasan dan kesengsaraan. Dan di

atas segala-galanya kesetiaan kepada manusia.”

Pembicaraannya terhenti. Kemudian ia lanjutkan: “Saya iba melihat Pangeran Hidayat

dan keluarganya terlunta-lunta dalam buruan Kompeni. Mengingat kekurangan senjata

dan penghidupan rakyat semakin sulit karena pertumpahan darah yang berlarut-larut,

maka saya mengusahakan penyerahannya dengan kepercayaan, tadinya, bahwa

penyerahannya akan mengakhiri semua kekalutan dan kesengsaraan itu. Tetapi diluar

dugaan saya, ia menerima begitu saja tekanan yang ditetapkan oleh Mayor Verspyck

tentang pengasingannya ke Jawa dan pengumuman kepada rakyat untuk meletakkan

senjata.”

“Ini menyalahi sama sekali janji Mayor Koch kepada saya yang menjamin bahwa

Pengeran Hidayat tidak akan diasingkan ke Jawa! Akhirnya saya insaf bahwa saya telah

menempuh suatu cara yang salah, terlalu cepat percaya kepada apa yang seharusnya

haram untuk dipercayai!” Kiai Demang Lehman berhenti sebentar untuk menekankan

rasa geramnya atas pengkhianatan Belanda.

“Tetapi ketika Kompeni membawa Pangeran Hidayat dari Martapura ke Banjarmasin,

saya kerahkan rakyat Martapura, untuk membebaskannya kembali dari kapal api

tersebut; dan berhasil. Hanya pada akhirnya, belum sebulan kemudian ia kembali

menyerah untuk kedua kalinya,” katanya menyesal.

“Adapun saya sendiri, Insya Allah pantang untuk mengulang kembali kesalahan itu buat

kedua kalinya. Dan saya bersumpah untuk menebus kesalahan pertama itu, kalau tadi

dinamakan juga kesalahan, dengan seluruh jiwa raga saya!” ujarnya dengan hati

berkobar tapi penuh taqwa. “Baru kemudian terasa, bahwa selain keimanan terhadap

Agama, kesetiaan terhadap perjuangan juga menuntut dan mengatasi kesetiaankesetiaan

lainnya”

Khalifah yang semenjak tadi berdiam diri, mulai sngkat bicara: “Yah…, kesalahan

semacam itu bukan tidak mungkin dapat juga kami perbuat. Hanya yang penting

sekarang ialah bahwa kita telah belajar dari pengalaman pahit,” ujar khalifah lebih

lanjut.

“Mayor Verspyck ini telah mengirim surat kepadaku dengan perantaraan orang

kepercayaannya Kiai Rangga Niti Negara. Katanya, bahwa bilamana aku dan kawankawan

seperjuangan ingin memperbaiki kesalahan dan berhajat minta ampun kepada

Kompeni, maka Kiai itu berkuasa membawa kami ke Mentalat untuk mendapatkan

pengampunan dari Kompeni! Begitu kira-kira bunyi suratnya, Surapati?” tanyanya

kepada Tumenggung Surapati.

“Sungguh surat yang mentertawakan,” jawab Tumenggung Surapati. “Menyerah dan

meminta ampun dengan perantaraan surat ? Bah…! Dengan meriam-meriamnya pun

haram kami menyerah, apalagi hanya dengan selembar kertas yang dibawa oleh kaki

tangan Kompeni semacam Niti Negara itu !”

Khalifah mengangguk, membenarkan pandangan itu. “Aku telah membalas surat itu,

Lehman”, katanya. Kukatakan, bahwa aku berterima kasih atas segala perhatiannya!

Aku menyadari bahwa sebagai manusia aku mempunyai banyak kesalahan. Tetapi

kesalahan yang dimaksudnya adalah dari sudut pandangannya, pandangan seorang

kompeni terhadap seorang pribumi yang hina-dina!”

“Semua orang-kultt putih di Banjarmasin telah digaji oleh kompeni untuk mengadakan

segala macam perbuatan terkutuk, haram dan durhaka! Selanjutnya kukatakan, bahwa

mungkin usulnya akan kupertimbangkan jika ada surat resmi dari Gubernur Jenderal

dimana ditetapkan tegas-tegas, bahwa kesultanan Banjar dikembalikan sepenuhnya

kepada kami! Adapun usulnya supaya kami minta ampun kutolak dengan tegas. Kami

akan berjuang terus menuntut hak kami, hak kita semua! Inilah antara lain yang penting,

Lehman.”

“Kita tidak akan mendapatkan apa-apa dari peperangan ini dengan berunding apalagi

menyerah! Kalau kita melakukannya juga, anak cucu kita sebagai pelanjut perjuangan

kita, akan menyalahkan kita, menghukum tindakan kita sebagai suatu kelemahan

perangai atau iman. Janji-janji kompeni membuat saya semakin jijik. Terutama dengan

pengalaman Hidayat yang dibuang sebagai rakyat jajahan ke Jawa. Jangankan Hidayat,

orang kepercayaannya sendiri seperti Tamjid dibuangnya, apalagi kita semua orang

yang terang-terangan menentangnya mati-matian.”

Pertemuan diakhiri setelah mendengar suara azan Maghrib yang terdengar dari

kejauhan. Dan beberapa hari kemudian, pada tanggal 11 Oktober 1862, Panembahan

Amiruddin Khalifatul Mukminin (Pangeran Antasari) wafat; dan dimakamkan di Bayan

Begok, Hulu Teweh.

Walaupun Khalifah telah wafat, namun perlawanan berjalan terus, dipimpin oleh puteraputeranya

seperti Gusti Muhammad Seman, Gusti Muhammad Said dan para panglima

yang gagah perkasa. Pada tahun 1864, pasukan Belanda berhasil menangkap banyak

pemimpin perjuangan Banjar yang bermarkas di gua-gua.

Mereka itu ialah Kiai Demang Lehman dan Tumenggung Aria Pati. Kiai Demang

Lehman kemudian dihukum gantung. Sedangkan yang gugur banyak pula dari para

panglima, seperti antara lain Haji Buyasin pada tahun 1866 di Tanah Dusun, kemudian

menyusul pula gugur penghulu Rasyid, Panglima Bukhari, Tumenggung Macan Negara,

Tumenggung Naro.

Dalam pertempuran di dekat Kalimantan Timur, menantu Khalifah Pangeran Perbatasari

tertangkap oleh Belanda dan pada tahun 1866 diasingkan ke Tondano, Sulawesi Utara.

Kemudian Panglima Batur dari Bakumpai tertangkap oleh Belanda dan dihukum

gantung pada tahun 1905 di Banjarmasin.Terakhir Gusti Muhamad Seman wafat dalam

pertempuran di Baras Kuning, Barito pada bulan Januari 1905.

Gambaran singkat dari Perang Banjar yang berlangsung dari tahun 1859 dan berakhir

tahun 1905, terlihat dengan jelas bahwa landasan ideologi yang diperjuangkan adalahIslam, dengan semboyan “Hidup untuk Allah dan mati untuk Allah”, dengan jalan

perang Sabil dibawah pimpinan seorang Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin,

dan targetnya berdaulatnya kembali kesultanan Banjar. Dengan kata lain perang Banjar

adalah perang untuk menegakkan negara Islam yang utuh.

 

Sumber : PERANG SABIL versus PERANG SALIB

Ummat Islam Melawan Penjajah Kristen Portugis dan Belanda

Oleh: ABDUL QADIR DJAELANI/Anggota DPR RI

Penerbit:

YAYASAN PENGKAJIAN ISLAM MADINAH AL-MUNAWWARAH

Jakarta 1420 H / 1999 M