Perang Sabil vs Perang Salib V ; PERANG PADRI

Apabila diteliti masa Perang Padri di daerah Sumatera Barat dalam abad ke-19 dapat digolongkan kepada beberapa priode, yaitu:

(a) Priode 1809 – 1821

Priode ini adalah merupakan pembersihan yang dilakukan oleh kaum Padri terhadapgolongan penghulu adat yang dianggap menyimpang dan bertentangan dengan syari’atIslam. Dalam masa ini terjadilah pertempuran antara kaum Padri melawan golonganpenghulu adat.

(b) Priode 1821 – 1832

Priode ini adalah merupakan pertempuran antara kaum Padri dengan Belanda-Kristen yang dibantu sepenuhnya oleh golongan penghulu adat. Dalam masa ini sifat pertempuran telah berubah antara penguasa kolonial Belanda-Kristen yang maumenjajah Sumatera Barat yang dibantu oleh para penguasa bangsa sendiri yangberkolaborasi untuk mempertahankan eksistensinya sebagai penguasa yang ditentang secara gigih oleh kaum Padri.

(c) Priode 1832 – 1837

Priode ini adalah merupakan perjuangan seluruh rakyat Sumatera Barat, dimana kaum Padri dan golongan penghulu adat telah barsatu melawan penguasa kolonial Belanda- Kristen. Dalam masa ini rakyat Sumatera Barat dengan dipelopori dan dipmimpin oleh para ulama yang tergabung dalam kaum Padri bahu-membahu di medan pertempuran untuk mengusir penguasa kolonial Belanda-Kristen dari Sumatera Barat.

Latar belakang lahirnya kaum Padri mempunyai kaitan dengan gerakan Wahabi yang muncul di Saudi Arabia, yaitu gerakan yang dipimpin oleh seorang ulama besar bernama Muhammad bin Abdul Wahab (1703-1787). Nama gerakan Wahabi sesungguhnya merupakan nama yang mempunyai konotasi yang kurang baik, yang diberikan oleh lawan-lawannya, sedangkan gerakan ini lebih senang dan menamakan

dirinya sebagai kaum ‘Muwahhidin’ yaitu kaum yang konsisten dengan ajaran tauhid, yang merupakan landasan asasi ajaran Islam.

Paham kaum Muwahhidin (Wahabi) ini antara lain:

(a) Yang boleh dan harus disembah hanyalah Allah semata; dan siapa saja yang menyembah selain Allah, adalah musyrik;

(b) Umat Islam yang meminta safaat kepada para wali, syeikh atau ulama dan kekuatan ghaib yang dipandang memiliki dan mampu memberikan safaat adalah suatu kemusyrikan;

(c) Menyebut-nyebut nama Nabi, wali, ulama untuk dijadikan perantara dalam berdo’a adalah termasuk perbuatan syirik;

(d) Mengikuti shalat berjamaah adalah merupakan kewajiban;

(e) Merokok dan segala bentuk candu adalah haram;

(f) Memberantas segala bentuk kemungkaran dan kemaksiatan;

(g) Umat Islam, harus hidup sederhana, segala macam pakaian mewah dan berlebihlebihan diharamkan.

Sifat gerakan Wahabi yang keras ini, benar-benar merupakan tenaga penggerak yang sanggup membangkitkan kembali kesadaran kaum muslimin yang sedang tidur lelap dalam keterbelakangannya. Dibantu dengan para sahahatnya seperti Ibnu Sa’ud dan Abdul Azis Ibnu Sa’ud, pemikiran dan cita-cita ini diwujudkan dalam gerakan yang keras, akhirnya pada tahun 1921 menjelma menjadi satu pemerintahan yang berdaulat di Saudi Arabia dengan ibukotanya Riyadh.

Paham dan gerakan Wahabi inilah yang mewarnai pandangan Haji Miskin dari Pandai Sikat (Luhak Agam), Haji Abdur Rahman dari Piabang (Luhak Lima Puluh) dan Haji Muhammad Arief dari Sumanik (Luhak Tanah Datar) yang bermukim di Mekah Saudi Arabia dan pada tahun 1802 mereka kembali ke Sumatera Barat.

Sesampainya di Sumatera Barat, mereka berpendapat bahwa umat Islam di Minangkabau baru memeluk Islam namanya saja, belum benar-benar mengamalkan ajaran Islam yang sejati. Berdasarkan penilaian semacam itu, maka di daerahnya masing-masing mereka mencoba memberikan fatwanya. Haji Muhammad Arifin di

Sumanik mendapat tantangan hebat di daerahnya sehingga terpaksa pindah ke Lintau.

Haji Miskin mendapat perlawanan hebat pula di daerahnya dan terpaksa harus pindah ke Ampat Angkat. Hanya Haji Abdur Rahman di Piabang yang tidak banyak mendapat

halangan dan tantangan.

Kepindahan Haji Miskin ke Ampat Angkat membawa angin baru, karena di sini ia mendapatkan sahabat-sahabat perjuangan yang setia; diantaranya yaitu Tuanku Nan Renceh di Kamang, Tuanku di Kubu Sanang; Tuanku di Ladang Lawas, Tuanku di Koto di Padang Luar, Tuanku di Galung, Tuanku di Koto Ambalau, Tuanku di Lubuk Aur. Itulah tujuh orang yang berbai’ah (berjanji sehidup semati) dengan Tuanku Haji Miskin. Jumlah para ulama yang berbai’ah ini menjadi delapan orang, yang kemudian terkenal dengan sebutan ‘Harimau Nan Salapan’.

Harimau Nan Salapan ini menyadari bahwa gerakan ini akan lebih berhasil bilamana mendapat sokongan daripada ulama yang lebih tua dan lebih berpengaruh, yaitu Tuanku Nan Tuo di Ampat Angkat. Oleh sebab itu Tuanku Nan Renceh yang lebih berani dan lebih lincah telah berkali-kali menjumpai Tuanku Nan Tuo untuk meminta agar ia bersedia menjadi ‘imam’ atau pemimpin gerakaa ini. Tetapi setelah bertukar-pikiran berulang kali, Tuanku Nan Tuo menolak tawaran itu. Sebab pendirian Harimau Nan Salapan hendak dengan segera menjalankan syari’at Islam di setiap nagari yang telah ditaklukkannya. Kalau perlu dengan kekuatan dan kekuasaan.

Tetapi Tuanku Nan Tuo mempunyai pendapat Yang berbeda; ia berpendapat apabila telah ada orang beriman di satu nagari walaupun baru seorang, tidaklah boleh nagari itu diserang. Maka yang penting menurut pandangannya ialah menanamkan pengaruh yang besar pada setiap nagari. Apabila seorang ulama di satu nagari telah besar pengaruhnya,

ulama itu dapat memasukkan pengaruhnya kepada penghulu-penghulu, imam-khatib mantri dan dubalang.

Pendapat yang berbeda dan bahkan bertolak belakang antara Tuanku Nan Tuo dengan Harimau Nan Salapan sulit untuk dipertemukan, sehingga tidak mungkin Tuanku Nan

Tuo dapat diangkat menjadi imam atau pemimpin gerakan ini. Untuk mengatasi masalah ini, Harimau Nan Salapan mencoba mengajak Tuanku di Mansiangan, yaitu putera dari Tuanku Mansiangan Nan Tuo, yakni guru daripada Tuanku Nan Tuo Ampat Angkat.

Rupanya Tuanku yang muda di Mansiangan ini bersedia diangkat menjadi imam atau pemimpin gerakan Harimau Nan Salapan, dengan gelar Tuanku Nan Tuo.

Karena yang diangkat menjadi imam itu adalah anak daripada gurunya sendiri, sulitlah

bagi Tuanku Nan Tuo Ampat Angkat itu untuk menentang gerakan ini. Padahal

hakikatnya yang menjadi imam dari gerakan Hariman Nan Salapan adalah Tuanku Nan Renceh; sedangkan Tuanku di Mansiangan hanya sebagai simbol belaka.

Kaum Harimau Nan Salapan senantiasa memakai pakaian putih-putih sebagai lambang kesucian dan kebersihan, dan kemudian gerakan ini terkenal dengan nama ‘Gerakan Padri’.

Setelah berhasil mengangkat Tuanku di Mansiangan menjadi imam gerakan Padri ini, maka Tuanku Nan Renceh selaku pimpinan yang paling menonjol dari Harimau Nan

Salapan mencanangkan perjuangan padri ini dan memusatkan gerakannya di daerah

Kameng. Untuk dapat melaksanakan syari’at Islam secara utuh dan murni, tidak ada alternatif lain kecuali memperoleh kekuasaan politik. Sedangkan kekuasaan politik itu berada di tangan para penghulu. Oleh karena itu untuk memperoleh kekuasaan politik itu, tidak ada jalan lain kecuali merebut kekuasaan dari tangan para penghulu. Karena Kamang menjadi pusat perjuangan Padri, maka kekuasaan penghulu Kamang harus diambil alih oleh kaum Padri, dan berhasil dengan baik.

Sementara itu para penghulu di luar Kamang yang telah mendengar adanya gerakan Padri ini, ingin membuktikan sampai sejauh mana kemampuan para alim-ulama dalam perjuangan mereka untuk melaksanakan syari’at Islam secara utuh dan murni. Bertempat di Bukit Batabuah dengan Sungai Puar di lereng Gunung Merapi, para penghulu dengan sengaja dan mencolok mengadakan penyabungan ayam, main judi dan minum-minuman keras yang diramaikan dengan bermacam pertunjukan. Para penghulu itu dengan para pengikutnya seolah-olah memancing apakah para alim-ulama mampu merealisasikan ikrarnya untuk betul-betul melaksanakan syari’at Islam secara keras.

Tentu saja tantangan ini menimbulkan kemarahan dari pihak kaum Padri. Dengan segala persenjataan yang ada pada mereka, seperti setengger (senapan balansa), parang, tombak, cangkul, sabit, pisau dan sebagainya kaum Padri pergi ke Bukit Batabuh tersebut untuk membubarkan pesta ‘maksiat’ yang diselenggarakan oleh golongan penghulu (penguasa). Sesampainya pasukan kaum Padri di Bukit Batabuh disambut dengan pertempuran oleh golongan penghulu. Dengan sikap mental perang sabil dan mati syahid, pertempuran yang banyak menelan korban di kedua belah pihak, akhirnya dimenangkan oleh pasukan kaum Padri. Dengan peristiwa Bukit Batabuh, berarti permulaan peperangan Padri.

Kemenangan pertama yang gemilang bagi kaum Padri, mendorong Tuanku Nan Renceh sebagai pimpinan gerakan ini untuk memperkuat dan melengkapi persenjataan pasukan

Padri. Tindakan ofensif bagi daerah-daerah yang menentang kaum Padri segera

dilakukan. Daerah Kamang Hilir ditaklukkan, kemudian menyusul daerah Tilatang.

Dengan demikian seluruh Kamang telah berada di tangan kaum Padri.

Dari Kamang operasi pasukan Padri ditujukan ke luar yaitu Padang Rarab dan Guguk

jatuh ketangan kaum Padri. Lalu daerah Candung, Matur dan bahkan pada tahun 1804

seluruh daerah Luhak Agam telah berada di dalam kekuasaan kaum Padri.

Keberhasilan kaum Padri menguasai daerah Luhak Agam, selain kesungguhan yang

keras, tetapi juga kondisi masyarakatnya memang sangat memungkinkan untuk cepat

berhasil. Sebab daerah Luhak Agam terkenal tempat bermukimnya ulama-ulama besar

seperti Tuanku Pamansiangan dan Tuanku Nan Tuo, sedangkan pengaruh para penghulu

sangat tipis. Wibawa para penghulu berada di bawah pengaruh para ulama.

Operasi pasukan Padri ke daerah Luhak Lima Puluh Kota berjalan dengan damai. Sebab

penghulu daerah ini bersedia menyatakan taat dan patuh kepada kaum Padri serta siap

membantu setiap saat untuk kemenangan kaum Padri.

Dengan berkuasanya kaum Padri; maka daerah-daerah yang berada di dalam

kekuasaannya diadakan perubahan struktur pemerintahan yaitu pada setiap nagari

diangkat seorang ‘Imam dan seorang Kadhi’. Imam bertugas memimpin peribadahan

seperti sembahyang berjamaah lima waktu sehari semalam, puasa, dan lain-lain yang

berhubungan dengan masalah-masalah ibadah. Kadhi bertugas untuk menjaga

kelancaran dijalankannya syari’at Islam dalam arti kata lebih luas dan menjaga

ketertiban Umum.

Di daerah Luhak Tanah Datar, pasukan kaum Padri tidak semudah dan selicin di daerah

Luhak Adam dan Lima Puluh Kota untuk memperoleh kekuasaannya. Di sini

pasukan kaum Padri mendapat perlawanan yang sengit dari golongan penghulu dan

pemangku adat. Sebab Luhak Tanah Datar adalah merupakan pusat kekuasaan adat

Minangkabau. Kekuasaan itu berpusat di Pagaruyung yang dipimpin oleh Yang

Dipertuan Minangkabau. Di waktu itu Yang Dipertuan atau Raja Minangkabau adalah

Sultan Arifin Muning Syah.

Pada pemerintahan Minangkabau yang berpusat di Pagaruyung terdapat tiga orang raja

yang berkuasa yang dikenal dengan nama Raja Tigo Selo, yaitu :

(a) Raja Alat atau Yang Dipertuan Pagaruyung, adalah yang memegang kekuasaan

tertinggi di seluruh Minangkabau.

(b) Raja Adat, adalah yang memegang kekuasaan dalam masalah adat.

(c) Raja Ibadat adalah yang memegang kekuasaan dalam masalah agama.

Dalam pelaksanaan pemerintah sehari-hari Raja Tigo Selo dibantu oleh Basa Empat

Balai yang berkedudukan sebagai menteri dalam pemerintahan Minangkabau di

Pagaruyung. Mereka itu adalah :

  • Bandaharo atau Tuan Tittah di Sungai Tarab, yang mengepalai tiga oranglainnya atau dapat dikatakan sebagai Perdana Menteri;
  • Makkudun di Sumanik, yang menjaga kewibawaan istana dan menjaga bubungandengan daerah rantau dan daerah-daerah lainmya;
  • Indomo di Suruaso, yang bertugas menjaga kelancaran pelaksanaan adat;
  • Tuan Kadhi di Padang Ganting; yang bertugas menjaga kelancaran syari’at atau

Di samping Basa Empat Balai ada seorang lagi, yaitu Tuan Gadang di Batipuh yang

bertindak sebagai Panglima Perang, kalau Pagaruyung kacau dialah bersama

pasukannya untuk mengamankannya.

Kekuasaan Raja Minangkabau sebetulnya tidak begitu terasa oleh rakyat dalam

kehidupan sehari-hari, karena nagari-nagari di Minangkabau mendapat otonomi yang

sangat luas, sehingga segala sesuatu di dalam nagari dapat diselesaikan oleh kepala

nagari melalui kerapatan adat nagari. Kalau masalahnya tidak selesai dalam nagari baru

dibawa ke pimpinan Luhak (kira-kira sama dengan kabupaten sekarang). Kalau masih

belum selesai diteruskan ke Basa Empat Balai untuk selanjutnya diteruskan ke Raja

Adat atau Raja Ibadat, tergantung pada masalahnya. Kalau semuanya tak dapat

menyelesaikan masalahnya, maka akan diputuskan oleh Raja Minangkabau.

Oleh karena itu gerakan Padri oleh Raja Minangkabau dan stafnya dianggap satu bahaya

besar, sebab gerakan ini akan mengambil kekuasaan mereka. Selain itu para bangsawan

pun cemas, karena khawatir adat nenek-moyang yang telah turun-menurun akan lenyap,

jika kaum Padri berkuasa.

Pertempuran sengit di daerah Luhak Tanah Datar antara pasukan Padri dengan pasukan

Raja berjalan sangat alot. Perebutan daerah Tanjung Barulak, salah satu jalan untuk

masuk ke pusat kekuasaan Minangkabau dari Luhak Agam, sering berpindah tangan,

terkadang dikuasai pasukan Padri, terkadang dapat direbut kembali oleh pasukan raja.

Walaupun begitu, pasukan Padri makin hari makin maju, sehingga daerah kekuasaan

para penghulu makin lama makin kecil. Untuk mencegah hal-hal yang lebih buruk bagi

para penghulu, akhirnya atas persetujuan Yang Dipertuan di Pagaruyung, Basa Empat

Balai mengadakan perundingan dengan kaum Padri.

Perundingan itu dilaksanakan di nagari Koto Tangah pada tahun 1808, sesudah enam

tahun gerakan kaum Padri melancarkan aksinya. Kaum Padri dalam perundingan itu

dipimpin oleh Tuanku Lintau yang datang dengan seluruh pasukannya, sedangkan para

penghulu dipimpin oleh Raja Minangkabau sendiri. Seluruh staf raja dan sanak

keluarganya hadir dalam pertemuan tersebut, tanpa menaruh curiga sedikit juga, karena

gencatan senjata telah disepakati sebelumnya.

Tetapi sekonyong-konyong keadaan menjadi kacau sebelum perundingan dimulai.

Karena kesalah-pahaman antara bawahan Tuanku Lintau yang bernama Tuanku Belo

dengan para staf raja, yang berakibat meledak menjadi perkelahian dan pertumpahan

darah.

Raja dan hampir sebagian terbesar staf dan keluarganya mati terbunuh dalam

perkelahian itu, hanya ada beberapa orang dari para penghulu dan seorang cucu raja

yang dapat selamat meloloskan diri sampai ke Kuantan.

Mendengar peristiwa berdarah ini, Tuanku Nan Renceh sebagai pimpinan tertinggi

gerakan Padri sangat marah terhadap Tuanku Lintau dan pasukannya, karena dianggap

melanggar gencatan senjata yang telah disepakati dan berarti menggagalkan usaha

perdamaian.

Dengan peristiwa ini, maka praktis seluruh Luhak Tanah Datar menyerah kepada kaum

Padri tanpa perlawanan, karena takut melihat pengalaman di Koto Tangah.

Untuk mengokohkan gerakan kaum Padri, Tuanku Nan Renceh telah memerintahkan

salah seorang muridnya yang bernama Malin Basa atau Peto Syarif atau Muhammad

Syahab, untuk membuat sebuah benteng yang kuat, sebagai markas gerakan kaum Padri.

Pemilihan Malin Basa, yang kemudian bergelar Tuanku Mudo nntuk membuat benteng

besar, guna menjadi pusat gerakan kaum Padri, disebabkan karena Malin Basa (Tuanku

Mudo) seorang murid yang pandai, alim dan berani.

Perintah Tuanku Nan Renceh sebagai pimpinan tertinggi gerakan Padri dan guru dari

Tuanku Mudo, dilaksanakan dengan penuh kesungguhan dan keberanian dan berhasil

memilih tempat di sebelah timur Alahan Panjang, di kaki bukit yang bernama Bukit

Tajadi. Dengan bantuan seluruh umat Islam yang tinggal di sekitar Alahan Panjang,

dimana setiap hari bekerja tidak kurang dari 5000 orang, akhirnya ‘Benteng Bonjol’

yang terletak di bukit Tajadi itu menjelma menjadi kenyataan dengan ukuran panjang

kelilingnya kira-kira 800 meter dengan areal seluas kira-kira 90 hektar, tinggi tembok

empat meter dengan tebalnya tiga meter. Di sekelilingnya ditanami pagar aur berduri

yang sangat rapat.

Di tengah-tengah benteng Bonjol berdiri dengan megahnya sebuah masjid yang lengkap

dengan perkampungan pasukan Padri dan rakyat yang setiap saat mereka dapat

mengerjakan sawah ladangnya untuk keperluan hidup sehari-hari. Sesuai dengan

fungsinya, maka benteng Bonjol juga diperlengkapi dengan persenjataan perang, guna

setiap saat siap menghadapi pertempuran. Benteng Bonjol itu dipimpin langsung oleh

Tuanku Mudo yang bertindak sebagai ‘imam’ dari masyarakat benteng Bonjol, yang

sesuai dengan struktur pemerintahan kaum Padri. Oleh sebab itu, Tanku Mudo digelari

dengan ‘Imam Bonjol’.

Setelah benteng Bonjol selesai dan struktur pemerintahan lengkap berdiri, Imam Bonjol

memulai gerakan Padrinya ke daerah-daerah sekitar Alahan Panjang dan berhasil

dengan sangat memuaskan. Keberbasilan Imam Bonjol dengan pasukannya

menimbulkan kecemasan para penghulu di Alahan Panjang seperti antara lain Datuk

Sati. Kecemasan ini melahirkan satu gerakan para penghulu di Alahan Panjang untuk

menyerang pasukan Imam Bonjol dan merebut benteng sekaligus. Pada tahun 1812

Datuk Sati dengan pasukannya menyerbu benteng Bonjol, tetapi sia-sia dan kekalahan

diderita olehnya. Untuk mencegah hal-hal yang lebih buruk, maka Datuk Sati mengajak

diadakannya perdamaian antara para penghulu dengan Imam Bonjol.

Keberhasilan Imam Bonjol menguasai seluruh daerah Alahan Panjang, ia kemudian

diangkat menjadi pemimpin Padri untuk daerah Pasaman. Untuk meluaskan kekuasaan

kaum Padri, Imam Bonjol mengarahkan pasukannya ke daerah Tapanuli Selatan. Mulai

Lubuk Sikaping sampai Rao diserbu oleh pasukan Imam Bonjol. Dari sana terus ke

Talu, Air Bangis, Sasak, Tiku dan seluruh pantai barat Minangkabau sebelah utara.

Setelah seluruh Pasaman dikuasai, maka untuk memperkuat basis pertahanan untuk

penyerangan ke utara, didirikan pula benteng di Rao dan di Dalu-Dalu. Benteng ini

terletak agak ke sebelah utara Minangkabau. Benteng Rao dikepalai oleh Tuanku Rao,

sedangkan benteng Dalu-Dalu dikepalai oleh Tuanku Tambusi. Kedua perwira Padri ini

berasal dari Tapanuli dan berada di bawah pimpinan Imam Bonjol.

Dengan mengangkat Tuanku Rao dan Tuanku Tambusi sebagai pimpinan kaum Padri di

Tapanuli Selatan, gerakan Padri berjalan dengan sangat berhasil, tanpa menghadapi

perlawanan yang berarti. Daerah-daerah di sini begitu setia untuk menjalankan syari’at

Islam secara penuh, sesuai dengan misi yang diemban oleh gerakan Padri.

Sementara kaum Padri bergerak menguasai Tapanuli Selatan dan daerah pesisir barat

Minangkabau, Belanda muncul kembali di Padang. Tuanku Pamansiangan salah

seorang pemimpin di Luhak Agam mengusulkan kepada Imam Bonjol untuk menarik

pasukan Padri dari Tapanuli Selatan dan menggempur kedudukan Belanda di Padang

yang belum begitu kuat. Karena baru saja serah terima kekuasaan dari Inggris (1819).

Tetapi perwira-perwira Padri seperti Tuanku Raos, Tuanku Tambusi dan Tuanku Lelo

dari Tapanuli Selatan berkebaratan untuk melaksakan usul itu, oleh karena itu Imam

Bonjol hanya dapat memantau kegiatan dan gerakan pasukan Belanda melalui kurirkurir

yang sengaja dikirim ke sana.

Belanda yang tahu bahwa daerah pesisir seperti Pariaman, Tiku, Air Bangis adalah

daerah strategis yang telah dikuasai kaum Padri, maka Belanda telah membagi pasukan

untuk merebut daerah-daerah tersebut. Dalam menghadapi serangan Belanda ini, maka

terpaksa kaum Padri yang berada di Tapanuli Selatan di bawah pimpinan Tuanku Rao

dan Tuanku Tambusi dikirim untuk menghadapinya. Pertempuran sengit terjadi dan

pada tahun 1821 Tuanku Rao gugur sebagai syuhada di Air Bangis. Perlawanan

pasukan Padri melawan pasukan Belanda diteruskan dengan pimpinan Tuanku Tambusi.

Kemenangan yang diperoleh Belanda dalam medan pertempuran menghadapi pasukan

Padri, menumbuhkan semangat bagi golongan penghulu, yang selama ini kekuasaannya

telah lepas. Dengan secara diam-diam para penghulu Minangkabau mengadakan

perjanjian kerjasama dengan Belanda untuk memerangi kaum Padri. Para penghulu

yang mengatasnamakan yang Dipertuan Minangkabau langsung mengikat perjanjian

kerjasama dengan Residen Belanda di Padang yang bernama Du Puy.

Dengan terjalinnya kerjasama antara para penghulu dengan Belanda, maka berarti kaum

Padri akan menghadapi bahaya besar. Dalam kondisi demikian, tiba-tiba Tuanku Nan

Renceh, Yang menjadi pimpinan tertinggi kaum Padri yang gemilang pada tahun 1820

wafat. Kekosongan ini secara demokrasi diisi oleh Iman Bonjol. Atas persetujuan para

perwira pasukan Padri, Imam Bonjol langsung memimpin gerakan Padri untuk

menghadapi pasukan gabungan Belanda-Penghulu.

Pada tahun 1821 pertahanan Belanda di Semawang diserang oleh pasukan Padri;

sedangkan pasukan Belanda yang mencoba memasuki Lintau dicerai-beraikan. Untuk

menguasai medan, pasukan Belanda membuat benteng di Batusangkar dengan nama

‘Benteng atau Fort van der Capellen’. Berulang kali pasukan Belanda-Penghulu

menyerang kedudukan pasukan Padri di Lintau, tetapi selalu mendapati kegagalan,

bahkan pernah pasukan Belanda-Penghulu terjebak.

Perlawanan yang sengit dari pasukan Padri, mendorong Belanda untuk memperkuat

pasukannya di Padang. Pada akhir tahun 1821 Belanda mengirimkan pasukannya dari

Batavia di bawah pimpinan Letnan Kolonel Raaff. Dengan bantuan militer yang

lengkap persenjataannya, pasukan Belanda melakukan ofensif terhadap kedudukan

pasukan Padri.

Operasi militer yang dilakukan oleh pasukan Belanda-Penghulu ditujukan ke daerah

yang dianggap strategis yaitu Luhak Tanah Datar. Dengan menaklukkan Luhak TanahDatar, yang berpusat di Pagaruyung, menurut dugaan Belanda perlawanan pasukan

Padri akan mudah ditumpas. Oleh karena itu pada tahun 1822 pasukan Belanda-

Penghulu di bawah pimpinan Letnan Kolonel Raaff menyerang Pagaruyung.

Pertempuran sengit terjadi, korban dari kedua pihak banyak yang berjatuhan. Karena

kekuatan yang tidak seimbang, akhirnya pasukan Padri mengundurkan diri ke daerah

Lintau setelah meninggalkan korban di pihak Belanda yang cukup besar.

Usaha pengejaran dilakukan terus oleh pasukan Belanda dengan jalan mendatangkan

bantuan dari Batusangkar. Tetapi pasukan Belanda sesampainya di Lintau seluruhnya

dapat dipukul mundur dan terpaksa kembali ke pangkalan mereka di Batusangkar.

Setelah Belanda memperkuat diri, ofensif dilakukan kembali dengan jalan memblokade

daerah Lintau, sehingga terputus hubungannya dengan Luhak Lima Puluh Kota dan

Luhak Agam. Walaupun nagari Tanjung Alam dapat direbut oleh pasukan Belanda,

tetapi usahanya untuk merebut Lintau dapat dipatahkan, karena pasukan Padri di Luhak

Agam di bawah pimpinan Tuanku Pamansiangan memberikan perlawanan yang sengit.

Kemudian Letnan Kolonel Raaff menyusun kembali pasukannya untuk merebut Luhak

Agam, Koto Lawas, Pandai Sikat dan Gunung; dan kali ini berhasil, setelah melalui

pertempuran dahsyat, di mana Tuanku Pamansiangan dapat tertangkap, yang kemudian

dihukum gantung oleh Belanda.

Pada akhir tahun 1822 pasukan Padri di bawah pimpinan Imam Bonjol melakukan

serangan balasan terhadap pasukan Belanda di berbagai daerah yang pernah

didudukinya. Pertama-tama Air Bangis mendapat serangan pasukan Padri. Operasi ke

Air Bangis ini langsung dipimpin oleh Imam Bonjol dibantu oleh perwira-perwira

pasukan Padri dari Tapanuli Selatan. Hanya dengan pertahanan yang luar biasa dan

dibantu dengan tembakan-tembakan meriam laut, Air Bangis dapat selamat dari

serangan pasukan Padri. Kegagalan ini, pasukan Padri mencoba merebut kembali daerah

Luhak Agam. Serangan pasukan Padri ke daerah ini berhasil merebut kembali daerah

Sungai Puar, Gunung, Sigandang dan beberapa daerah lainnya.

Awal tahun 1823 Kolonel Raaff mendapatkan tambahan pasukan militer dari Batavia.

Dengan kekuatan baru, pasukan Belanda mengadakan operasi militer besar-besaran

untuk merebut seluruh Luhak Tanah Datar. Tetapi di bukit Marapalam terjadi

pertempuran sengit antara pasukan Belanda dengan pasukan Padri selama tiga hari tiga

malam, sehingga Belanda terpaksa harus mengundurkan diri. Tetapi operasi militer

Belanda itu diarahkan ke Luhak Agam seperti daerah Biaro dan Gunung Singgalang.

Pertempuran sengit terjadi antara pasukan Belanda dengan pasukan Padri, tetapi karena

kekuatan pasukan Belanda jauh lebih besar, akhirnya daerah-daerah itu dapat

direbutnya. Kemenangan pasukan Belanda diikuti oleh tindakan biadab dengan jalan

melakukan pembunuhan massal terhadap penduduk, besar-kecil, laki-laki maupun

perempuan.

Pengalaman pertempuran selama tahun 1823, membuat Belanda berhitung dua kali.

Sebab banyak daerah yang telah direbutnya, ternyata dapat kembali diambil oleh

pasukan Padri. Operasi militer besar-besaran dengan tambahan pasukan dari Batavia

terbukti tidak dapat menumpas pasukan Padri. Oleh karena itu, untuk kepentingan

konsolidasi, Belanda berusaha untuk mengadakan perjanjian gencatan senjata. Usaha ini

berhasil, sehingga pada tanggal 22 Januari 1824 perjanjian gencatan senjata di Masang

ditanda-tangani oleh Belanda dan kaum Padri.

Perjanjian Masang hanya dapat bertahan kira-kira satu bulan lebih sedikit. Sebab

Belanda dengan tiba-tiba mengadakan gerakan militer ke daerah Luhak Tanah Datar dan

Luhak Agam. Melalui pertempuran dahsyat, pusat Luhak Tanah Datar dan Luhak Agam

dapat sepenuhnya dikuasai pasukan Belanda, dan mereka mendirikan benteng dengan

nama Fort de Kock di sana. Dengan kekalahan pasukan Padri di Luhak Tanah Datar dan

Luhak Agam, maka Imam Bonjol memusatkan kekuatan kaum Padri di benteng Bonjol

dan sekitarnya sambil sekaligus melakukan konsolidasi pasukan yang telah jenuh

berperang selama lebih dari dua puluh tahun lamanya.

Sementara itu pada tahun 1825 di Jawa telah pecah perang Jawa. Dengan timbulnya

perang Jawa ini, kekuatan pasukan Belanda menjadi terpecah dua: sebagian untuk

menghadapi perang Padri yang tak kunjung selesai, dan yang sebagian lagi harus

menghadapi Perang Jawa yang baru muncul. Karena perang Jawa dianggap oleh

Belanda lebih strategis dan dapat mengancam eksistensi Belanda di Batavia, pusat

pemerintahan kolonial Belanda (Hindia Belanda), maka mau tidak mau semua kekuatau

militer harus dipusatkan untuk menghadapi perang Jawa.

Untuk itu perlu ditempuh satu kebijaksanaan guna mengadakan perdamaian kembali

dengan kaum Padri di Sumatera Barat. Pada tahun 1825 usaha perdamaian dan gencatan

senjata dengan kaum Padri berhasil dicapai, dengan jalan mengakui kedaulatan kaum

Padri di beberapa daerah Minangkabau yang memang masih secara penuh dikuasainya.

Perjanjian damai dan gencatan senjata dipergunakan oleh Belanda untuk menarik

pasukannya dari Sumatera Barat sebanyak 4300 orang, dan mensisakannya hanya 700

orang saja lagi. Pasukan sisa sebanyak 700 orang serdadu itu, digunakan hanya untuk

menjaga benteng dan pusat-pusat pertahanan Belanda di Sumatera Barat.

Setelah Perang Jawa selesai dan kemenangan diperoleh oleh penguasa kolonial Belanda,

maka kekuatan militer Belanda di Jawa sebagian terbesar dibawa ke Sumatera Barat

untuk menghadapi Perang Padri. Dengan kekuatan militer yang besar Belanda

melakukan serangan ke daerah pertahanan pasukan Padri. Pada akhir tahun 1831,

Katiagan kota pelabuhan yang menjadi pusat perdagangan kaum Padri direbut oleh

pasukan Belanda. Kemudian berturut-turut Marapalam jatuh pada akhir 1831, Kapau,

Kamang dan Lintau jatuh pada tahun 1832, dan Matur serta Masang dikuasai Belanda

pada tahun 1834.

Kejatuhan daerah-daerah pelabuhan ke tangan Belanda mendorong kaum Padri, yang

memusatkan kekuatannya di benteng Bonjol, mencari jalan jalur perdagangan melalui

sungai Rokan, Kampar Kiri dan Kampar Kanan, di mana sebuah anak sungai Kampar

kanan dapat dilayari sampai dekat Bonjol. Hubungan Bonjol ke timur melalui anak

sungai tersebut sampai ke Pelalawan, dan dari sana bisa terus ke Penang dan Singapura,

dapat dikuasai. Tetapi jalur pelayaran ini, pada akhir tahun 1834 dapat direbut oleh

Belanda. Dengan demikian posisi pasukan Padri yang berpusat di benteng Bonjol

mendapat kesulitan, terutama dalam memperoleh suplai bahan makanan dan

persenjataan.

Kemenangan yang gilang-gemilang diperoleh pasukan Belanda menimbulkan

kecemasan para golongan penghulu, yang selama ini telah membantunya. Kekuasaan

yang diharapkan para penghulu dapat dipegangnya kembali, ternyata setelah

kemenangan Belanda menjadi buyar. Sikap sombong dan moral yang bejat yang

dipertontonkan oleh pasukan Belanda-Kristen, seperti menjadikan masjid sebagai

tempat asrama militer dan tempat minum-minuman keras, mengusir rakyat kecil dari

rumah-rumah mereka, pembantaian massal, pemerkosaan terhadap wanita-wanita,memanjakan orang-orang Cina dengan memberi kesempatan menguasai perekonomian

rakyat, akhirnya menimbulkan rasa benci dan tak puas dari golongan penghulu kepada

Belanda. Kebencian dan kemarahan para penghulu menumbuhkan rasa harga diri untuk

mengusir Belanda dari daerah Minangkabau untuk melakukan perlawanan terhadap

Belanda secara sendirian tidak mampu, karenanya perlu adanya kerjasama dengan kaum

Padri.

Uluran tangan golongan penghulu disambut baik oleh kaum Padri. Perjanjian kerjasama

dan ikrar antara golongan penghulu dengan kaum Padri untuk mengusir Belanda, dari

tanah Minangkabau dilaksanakan pada akhir tahun 1832 bertempat di lereng gunung

Tandikat. Gerakan perlawanan rakyat Sumatera Barat terhadap Belanda dipimpin

langsung oleh Imam Bonjol.

Dalam perjanjian dan ikrar rahasia di lereng gunung Tandikat itu, telah ditetapkan

bahwa tanggal 11 Januari 1833, kaum Padri dan golongan penghulu beserta rakyat

Sumatera Barat secara serentak melakukan serangan kepada pasukan Belanda. Awal

serangan rakyat Minangkabau ini terhadap pasukan Belanda banyak mengalami

kemenangan, terutama di daerah sekitar benteng Bonjol, di mana pasukan Belanda

ditempatkan untuk melakukan blokade. Pasukan Belanda yang langsung dipimpin oleh

Letnan Kolonel Vermeulen Krieger, pimpinan tertinggi militer di Sumatera Barat, di

daerah Sipisang diporak-porandakan oleh pasukan Padri, sehingga, banyak sekali

serdadu Belanda yang mati terbunuh. Hanya Letnan Kolonel Vermeulen Krieger dan

beberapa orang anak buahnya yang dapat menyelamatkan diri dari pembunuhan itu.

Karena semua jalan terputus maka terpaksa Letnan Kolonel Vermeulen Krieger dengan

anak buahnya yang tinggal beberapa orang itu menempuh jalan hutan belantara untuk

bisa kembali ke Bukittinggi.

Apabila di daerah Alahan Panjang, serangan secara serentak dapat dilakukan oleh rakyat

Minangkabau dan berhasil memukul mundur pasukan Belanda, tetapi di Luhak Tanah

Datar dan Luhak Agam, serangan itu tidak dapat dilaksanakan. Faktor penyebabnya

ialah banyak daerah-daerah di sini belum menerima informasi dari hasil Ikrar Tandikat;

disamping banyak daerah-daerah strategis yang dikuasai Belanda. Bahkan ada juga

informasi ikrar ini jatuh ke tangan Belanda, sehingga orang-orang yang dicurigai segera

ditangkap. Di samping itu memang masih banyak para penghulu atau kepala adat yang

tetap setia kepada Belanda.

Timbulnya perlawanan serentak dari seluruh rakyat Minangkabau, sebagai realisasi

ikrar Tandikat, memaksa Gubernur Jenderal Van den Bosch pergi ke Padang pada

tanggal 23 Agustus 1833, untuk melihat dari dekat tentang jalannya operasi militer yang

dilakukan oleh pasukan Belanda. Sesampainya di Padang, ia melakukan perundingan

dengan Jenderal Riesz dan Letnan Kolonel Elout untuk segera menaklukkan benteng

Bonjol, yang dijadikan pusat meriam besar pasukan Padri, Riesz dan Elout

menerangkan bahwa belum datang saatnya yang baik untuk mengadakan serangan

umum terhadap benteng Bonjol, karena kesetiaan penduduk Agam masih disangsikan,

dan mereka sangat mungkin kelak menyerang pasukan Belanda dari belakang. Tetapi

Jenderal Van den Bosch bersikeras untuk segera menaklukkan benteng Bonjol, dan

paling lambat tanggal 10 september 1833 Bonjol harus jatuh. Kedua opsir tersebut

meminta tangguh enam hari lagi, sehingga jatuhnya Bonjol diharapkan pada tanggal 16

September 1833.

Meskipun demikian, kedua opsir tersebut belum yakin dapat melaksanakan rencana

yang telah diputuskannya, sebab besar sekali kesulitan-kesulitan yang harus

dihadapinya. Pertama, karena mereka harus rnengerahkan tiga kolone: satu kolonne

harus menyerang Bonjol dengan melalui Suliki dan Puar Datar di Luhak Lima Puluh

Kota, dan satu kolonne dari Padang Hilir melalui Manggopoh dan Luhak Ambalau, dan

kolonne ketiga dari Ram melalui Lubuk Sikaping. Dan disamping itu harus disiapkan

pula satu kolonne yang pura-pura menyerang Padri di daerah Matur, supaya pasukan

Padri mengerahkan pasukannya ke sana. Sebelum pasukan menyerbu ke Bonjol,

kolonne-kolonne itu harus mampu menundukkan dan menaklukkan daerah-daerah di

sekelilingnya, dan merusakkan semua pertahanan rakyat di Luhak Agam.

Rakyat Padang Datar umumnya marah betul kepada tentara Belanda, karena melihat

kekejaman dan kesadisannya di Guguk Sigadang; dan rasa benci kepada kaki-tangan

Belanda yang bersifat sewenang-wenang serta mencurigai dan menangkap rakyat awam.

Sementara itu, Mayor de Quay mengutus Tuanku Muda Halaban untuk membujuk

Imam Bonjol supaya suka berunding dan berdamai dengan Belanda. Imam Bonjol

menyatakan kepada Tuanku Muda Halaban, bahwa ia bersedia berunding di suatu

tempat yang telah ditetapkan. Akhirnya perundingan itu dapat dilaksanakan.

Dalam kesempatan perundingan ini, tenggang waktu yang tersedia itu digunakan

dengan sebaik-baiknya oleh Belanda untuk menyiapkan pasukannya, di samping

diharapkan pasukan Padri menjadi lengah. Untuk memudahkan mencapai Bonjol, maka

Mayor de Quay mengerahkan pasukannya yang dibantu oleh 1500 penduduk dari Lima

Puluh Kota untuk membuat jalan melalui hutan-hutan lebat, yang membatasi Luhak

Lima Puluh Kota dengan Lembah Alahan Panjang.

Pasukan Padri ternyata tidak lengah untuk terus mengamat-amati semua persiapan

tentara Belanda itu, sehingga semua jalan masuk ke Lambah Alahan Panjang ditutupnya

dengan pelbagai rintangan, di kiri kanan jalan dipersiapkan kubu-kubu pertahanan.

Di satu bukit, di tepi jalan ke Tujuh Kota, di dekat Batu Pelupuh, di puncaknya yang

kerap kali ditutupi kabut dan awan, dibuat oleh pasukan Padri sebuah kubu pertahanan.

Dari sini dapat diperhatikan segala gerak-gerik pasukan Belanda dari jarak jauh. Kubu

pertahanan pasukan Padri yang strategis ini diketahui oleh Belanda. Karenanya pada

tanggal 10 September 1833, Jenderal Riesz mengerahkan rakyat Agam yang setia

kepada Belanda untuk menaklukkan kubu tersebut. Usaha penaklukan kubu ini gagal

total, dimana sebagian besar pasukan rakyat Agam mati dan luka-luka, dan memaksa

mereka kembali ke Bukittinggi.

Besok paginya, yakni tanggal 11 September 1833, Belanda mengerahkan 200 orang

tentaranya yang dilengkapi dengan meriam dan diperkuat oleh pasukan golongan adat

dari Batipuh dan Agam. Pada Jam 05.00 pagi pasukan Belanda telah dapat mendaki

bukit pertahanan pasukan Padri. Tetapi kira-kira 150 langkah mendekati kubu

pertahanan, dengan sekonyong-konyong pasukan Padri mendahului menyerang pasukan

Belanda. Pertempuran sengit terjadi, diantara kedua belah pihak banyak korban

berjatuhan. Tetapi karena kekuatan yang tak seimbang, akhirnya pasukan Padri

mengundurkan diri turun ke desa Batu Pelupuh dan bertahan di belakang pematangpematang sawah.

Belanda mengerahkan pasukannya untuk mengejarnya, dengan sangat

cerdik pasukan Padri bersembunyi ke hutan-hutan lebat yang sulit untuk dikejar oleh

pasukan Belanda. Desa Batu Pelupuh dan tujuh desa lainnya yang ditinggalkan pasukan

Padri habis dirampok dan dibumi-hanguskan oleh pasukan Belanda. Walaupun pasukan

Padri kalah, tetapi di pihak Belanda pun banyak sekali yang mati dan luka-luka; dan

dengan susah payah mereka dapat kembali ke Bukittinggi.

Setelah kubu pertahanan di bukit dekat Alahan Panjang dapat direbut pasukan Belanda,

maka Jenderal Riesz memusatkan serangan tipuan ke Matur. Sebagian pasukannya

diharuskan menduduki daerah Pantar, sebuah desa yang letaknya di seberang jurang

dekat kubu pertahanan pasukan Padri. Pasukan Belanda ini dibantu oleh pasukan ada

600 orang dari Batipuh, 400 orang dari Banuhampu, 300 orang dari Sungai Puar, 340

orang dari Empat Kota, 604 orang dari Ampat Angkat, dan 240 orang dari Tambangan;

seluruhnya berjumlah 2400 orang. Tetapi sebelum tentara Belanda datang di Pantar,

pada pagi-pagi sekali tanggal 12 September 1833, desa tersebut telah dibumi-hanguskan

oleh pasukan Padri. Di selatan Pantar yang telah menjadi lautan api, Belanda membuat

kubu pertahanan untuk menahan serangan-serangan pasukan Padri. Tetapi pasukan

Padri pun mengerti bahwa serangan pasukan Belanda ini hanya merupakan pancingan,

karenanya mereka tetap bertahan di kubu-kubu pertahanan mereka masing-masing.

Sementara itu pasukan Padri memperkuat Kota Lalang guna menahan tentara Belanda

yang datang dari arah Suliki yang dipimpin oleh Mayor de Quay. Pada tanggal 13

September 1833 pasukan Belanda telah dihadang oleh pasukan rakyat dari Tanah Datar,

sehingga perjalanannya terhambat. Dan baru pada tanggal 14 September 1833 tentara

Belanda melanjutkan serangannya ke Kota Lalang, yang dipertahankan dengan gigih

oleh pasukan Padri. Tentara Belanda banyak yang mati dan luka-luka. Pertempuran

berlangsung siang-malam dengan dahsyatnya, yang masing-masing pihak mengerahkan

semua kekuatannya. Karena kekuatan pasukan Padri yang jauh lebih kecil dan lebih

sederhana persenjataannya, akhirnya mengundurkan diri ke hutan belantara yang sulit

dikejar oleh tentara Belanda.

Kota Lalang yang ditinggalkan pasukan Padri dijaga oleh pasukan Jawa dan Adat; dan

tentara Belanda yang dibantu oleh ratusan pasukan adat dari Batipuh dan Lima Puluh

Kota meneruskan penyerbuannya menuju Bonjol. Dalam perjalanan yang sulit ini

pasukan Belanda senantiasa terjebak dengan serangan pasukan Padri dari belakang yang

bersembunyi di hutan lebat.

Serangan gerilya pasukan Padri dengan taktik “serang dengan tiba-tiba dan lenyap

secara tiba-tiba”, menimbulkan kerugian yang besar bagi pasukan Belanda; dan

karenanya menimbulkan rasa takut bagi pasukan-pasukan adat yang membantunya.

Dengan diam-diam pasukan adat meninggalkan pasukan Belanda, sehingga menyulitkan

pasukannya untuk melanjutkan penyerbuan. Hujan yang turun terus-menerus menambah

kesulitan lagi bagi pasukan Belanda, selain pasukan yang basah kuyup hampir mati

kedinginan, juga pasukan pembawa makanan dan perlengkapan perang yang terdiri dari

pribumi, banyak yang tak tahan dan akhirnya melarikan diri. .

Dengan sisa-sisa kekuatan, pasukan Belanda sampai memasuki lembah Air Papa. Di

lembah ini, yang sisi-sisi tebingnya cukup curam, digunakan oleh pasukan Padri sebagai

kubu pertahanan dengan mudah menembak pasukan Belanda yang berada di bawah

lembah. Dalam posisi yang demikian, terpaksa pasukan Belanda memusatkan

pasukannya di lembah yang agak gersang, yang jauh dari jangkauan pasukan Padri.

Daerah terbuka yang digunakan pasukan Belanda memudahkan serangan bagi Pasukan

Padri. Kelemahan ini benar-benar digunakan oleh pasukan Padri. Serangan yang datang

dengan tiba-tiba, menyebabkan timbulnya kepanikan di kalangan pasukan Belanda,

dimana akhirnya tidak ada jalan lain kecuali mengundurkan diri dan membatalkan

rencana penyerbuan selanjutnya. Dengan diam-diam pasukan Belanda pada malam hari

meninggalkan medan pertempuran kembali ke Payakumbuh, dengan meninggalkan

korban yang mati maupun yang luka-luka banyak sekali.

Dari front barat, pasukan Padri telah mengetahuinya bahwa tentara Belanda akan

menyerang dari Manggopoh. Rakyat yang tinggal di sekitar Manggopoh seperti Bukit

Maninjau dan Lubuk Ambalau diyakinkan dan diancam oleh pasukan Padri untuk tidak

membantu pasukan Belanda.

Kolonne Belanda yang menyerang dari jurusan Manggopoh itu dipimpin oleh Letnan

Kolonel Elout. Mereka berangkat ke Tapian Kandi tanggal 11 September 1835. Di

daerah ini saja pasukan Belanda telah mendapat perlawanan pasukan Padri yang cukup

sengit, hanya karena tembakan meriam yang bertubi-tubi pasukan Padri terpaksa

mundur ke daerah Pangkalan. Pasukan Belanda terus mendesak pasukan Padri di

Pangkalan; pertempuran sengit terjadi hampir tiap langkah dari perjalanan pasukan maju

Belanda. Hanya dengan pengorbanan yang besar pasukan Padri dapat dipukul mundur

dan pasukan Belanda dapat sampai di Kota Gedang.

Dari dataran tinggi Kota Gedang ini ada dua jalan; yaitu ke utara menuju Bonjol dengan

melalui Tarantang Tunggang, dan ke timur menuju XII Kota. Letnan Kolonel Elout

pergi ke Tanjung untuk bertemu dengan Tuanku nan Tinggi dari Sungai Puar guna

mendapat petunjuk jalan yang terbaik untuk mencapai Bonjol. Tuanku dari Sungai Puar

memberi petunjuk jangan pergi ke Bonjol melalui XII Kota, karena rakyat di sana pasti

akan menghambatnya. Karenanya ia kembali ke Kota Gedang, tetapi gudang perbekalan

pasukan Belanda yang dikawal tidak begitu kuat disaat ditinggalkan telah habis dibakar

oleh rakyat. Dalam kondisi seperti ini, Letnan Kolonel Elout sebagai komandan pasukan

Belanda dari sektor barat memutuskan untuk mengundurkan diri.ke Kota Merapak.

Gerakan mundur pasukan Belanda diketahui oleh pasukan Padri, kesempatan dan

peluang ini digunakan sebaik-baiknya untuk melakukan pengejaran, dengan taktik

gerilya.

Serangan gerilya yang dilakukan pasukan Padri berhasil dengan gemilang bukan saja

ratusan tentara Belanda dan pasukan adat yang mati terbunuh, tetapi juga hampir semua

perlengkapan perang seperti meriam dan perbekalan semuanya dapat dirampas. Pasukan

Belanda hanya dapat membawa senjata dan pakaian yang melekat di tangan dan

badannya.

Kolonne ketiga dari pasukan Belanda yang datang dari jurusan utara melalui Rao

dipimpin oleb Mayor Eilers. Pasukan Eilers yang memang tidak begitu kuat, diberikan

kelonggaran, jika pasukannya tidak mampu melawan pasukan Padri di sebelah utara

Alahan Panjang, ia boleh maju hanya sampi Lubuk Sikaping saja. Di sini pasukannya

harus bertahan sambil menunggu informasi kolonne yang lain, yang menyerang dari

timur dan barat daerah Bonjol. Sambil menunggu berita dari kolonne-kolonne yang lain,

Mayor Eilers menghimpun pasukan dari kepala-kepala adat dari Tuanku Yang

Dipertuan di Rao dan Mandahiling untuk memperkuat pasukannya yang hanya terdiri

atas 80 orang serdadu. Usahanya berhasil dengan 1000 orang Rao, 400 orang

Mandahiling dan 500 orang Batak lainnya. Dengan kekuatan sekitar 2000 orang; Mayor

Eilers maju menuju Bonjol. Sepanjang perjalanan pasukan Belanda mendapat

perlawanan sengit dari pasukan Padri, baik dalam bentuk serangan gerilya maupun

pertempuran frontal dari benteng ke benteng.

Pada tanggal 18 September 1833 pasukan Belanda telah sampai di Alai, kira-kira dua

kilometer dari benteng Bonjol. Di sini pasukan Belanda telah mendapat perlawanan

yang luar biasa oleh pasukan Padri, pertempuran sudah sampai satu lawan satu.

Akibatnya korban di pihak pasukan Belanda banyak sekali baik yang mati maupun lukaluka. Untuk menghindari korban yang lebih banyak, akhirnya-pasukan Belanda

mengundurkan diri ke Bonjol Hitam. Pengunduran diri pasukan Belanda ini diikuti terus

dengan serangan-serangan pasukan Padri, baik siang maupun malam hari.

Karena terancam oleh kehancuran total, disamping ternyata dua kolonne dari timur

maupun barat telah mengundurkan diri, maka Mayor Eilers, pada tanggal 19 September

1833 memutuskan untuk mengundurkan diri, kembali ke pangkalan. Agar selamat dari

sergapan pasukan Padri di tengah jalan, pengunduran diri harus dilakukan tengah

malam.

Pada saat maghrib tiba, disaat tentara Belanda sedang sibuk berkemas-kemas untuk

melarikan diri, tiba-tiba menjadi panik, karena pasukan Padri menyerbu dengan cepat

dan keras. Pasukan Rao dan Mandahiling berhamburan keluar mencari selamat dengan

meninggalkan segala persenjataan dan perlengkapannya. Tentara Belanda juga tak

mampu menguasi keadaan dan bahkan turut lari tanpa menghiraukan teriakan

komandannya Mayor Eilers. Keadaan panik dan kacau, menyebabkan pasukan Belanda.

meninggalkan begitu saja meriam dan granat-granat serta senjata-senjata lainnya.

Bahkan pasukan yang luka parah sebanyak 50 orang ditinggalkan begitu saja, sampai

mati terbunuh semuanya. Hanya dengan susah payah, sisa-sisa pasukan Belanda pada

tanggal 20 September 1833, baru dapat selamat ke pangkalan.

Pengunduran diri pasukan Belanda adalah atas persetujuan Jenderal Van den Bosch;

karenanya ia datang sendiri ke Guguk Sigandang untuk menerima pasukan-pasukan

yang kalah itu. Dihadapan pasukannya, Jenderal Van den Bosch berucap: “Bila keadaan

memang tidak mengizinkan, dan kesulitan begitu besar, sehingga sulit diatasi, pasukan

boleh ditarik mundur; menunggu waktu yang tepat. Tetapi bagaimana pun Bonjol harus

ditaklukkan”.

Pada tanggal 21 september 1833, Jenderal Van den Bosch memberi laporan ke Batavia

bahwa penyerangan ke Bonjol gagal dan sedang diusahakan untuk konsolidasi guna

penyerangan selanjutnya.

Selama tahun 1834 tidak ada usaha yang sungguh-sungguh yang dilakukan oleh

pasukan Belanda untuk menaklukkan Bonjol, markas besar pasukan Padri, kecuali

pertempuran kecil-kecilan untuk membersihkan daerah-daerah yang dekat dengan pusat

pertahanan dan benteng Belanda. Selain itu pembuatan jalan dan jembatan, yang

mengarah ke jurusan Bonjol terus dilakukan dengan giat, dengan mengerahkan ribuan

tenaga kerja paksa. Pembuatan jalan dan jembatan itu dipersiapkan untuk memudahkan

mobilitas pasukan Belanda dalam gerakannya menghancurkan Bonjol.

Baru pada tanggal 16 April 1835, pasukan Belanda memutuskan untuk mengadakan

serangan besar-besaran untuk menaklukkan Bonjol dan sekitarnya. Operasi militer

dimulai pada tanggal 21 April 1835, dimana dua kolonne pasukan Belanda yang

berkumpul di Matur dan Bamban, bergerak menuju Masang. Meskipun sungai itu

banjir, mereka menyeberangi juga dan terus masuk menyelusup ke dalam hutan rimba;

mendaki gunung dan menuruni lembah; guna meghindarkan dari kubu-kubu pertahanan

Padri yang dipasang disekitar tepi jalan.

Pada tanggal 23 April 1835 pasukan Belanda telah sampai di tepi sungai Batang

Ganting, terus menyeberang dan kemudian berkumpul di Batu Sari. Dari sini hanya ada

satu jalan sempit menuju Sipisang, daerah yang dikuasai oleh pasukan Padri. Jalan

sepanjang menuju Sipisang dipertahankan oleh pasukan Padri dengan pimpinan Datuk

Baginda Kali. Serangan-serangan pasukan Padri untuk menghambat laju pasukan

Belanda memang cukup merepotkan dan melelahkan, tetapi tidak berhasil menahan

secara total.

Sesampainya di Sipisang, pertempuran sengit antara pasukan Belanda dengan pasukan

Padri berjalan sangat kejam, tiga hari tiga malam pertempuran berlangsung tanpa henti,

sampai korban di kedua belah pihak banyak yang jatuh. Hanya karena kekuatan yang

jauh tak sebanding, pasukan Padri terpaksa mengundurkan diri ke hutan-hutan rimba

dan menyeberangi kali. Jatuhnya daerah Sipisang, dijadikan oleh pasukan Belanda

untuk kubu pertahanannya, sambil menunggu pembuatan jembatan menuju Bonjol.

Selain itu, satu kolonne pasukan Belanda pada tanggal 24 April 1835 berangkat menuju

daerah Simawang Gedang, yaitu daerah yang dikuasai pasukan Padri. Dengan kekuatan

hanya 500 orang pasukan Padri mencoba menahan tentara Belanda yang jumlah dan

kekuatannya jauh lebih besar. Pertempuran dahsyat tak terhindari lagi, berjalan alot;

walau akhirnya pasukan Padri mengundurkan diri.

Satu kompi pasukan tentara Bugis yang dibantu oleh pasukan adat dari Batipuh dan

Tanah Datar bertugas untuk mengusir pasukan Padri yang berada di luar daerah

Simawang Gadang. Bahkan pasukan Bugis bersama-sama pasukan adat Batipuh dan

Tanah Datar berhasil mendesak pasukan Padri sampai ke Batang Kumpulan. Tetapi

disini telah menunggu 1200 orang pasukan Padri untuk menghadang gerakan maju

pasukan Belanda. Usaha ofensif pasukan Belanda yang terdiri dari pasukan Bugis,

Batipuh dan Tanah Datar diporak-porandakan oleh pasukan Padri, hampir-hampir

sebagian terbesar mati terbunuh.

Kalaulah tidak segera bala bantuan pasukan Belanda datang dengan cepat dan dalam

jumlah besar, dapat diduga bahwa pasukan Belanda yang terdepan itu akan musnah

seluruhnya. Datangnya bala bantuan pasukan Belanda bukan dapat menyelamatkan sisasisa

pasukannya yang telah cerai-berai; tetapi juga mampu mendesak pasukan Padri,

sehingga daerah Kampung Melayu yang menjadi ajang pertempuran dapat dikuasai oleh

Belanda.

Kampung Melayu terletak di tepi sebatang sungai kecil, Air Taras namanya. Tidak

berapa jauh ke hilir sungai itu bertemu dengan sungai Batang Alahan Panjang.

Kampung Melayu tersembunyi di dalam sebuah lembah yang dilingkari oleh bukit-bukit

tinggi yang terjal.

Pasukan Padri yang mengundurkan diri dari daerah Kampung Melayu, bersembunyi di

bukit-bukit terjal dengan kubu-kubu pertahanan yang tersembunyi, untuk menjepit

pasukan Belanda yang ada di Air Taras. Pada tanggal 27 April 1835, pasukan Belanda

mencoba menyerang pasukan Padri yang berada di bukit-bukit terjal itu; tetapi hasilnya

nihil, bahkan puluhan tentaranya yang mati dan luka-luka.

Selama tiga hari pasukan Belanda melakukan konsolidasi dengan menambah

pasukannya. Baru pada tanggal 3 Mei 1835 operasi militer dapat dilanjutkan. Tetapi,

baru saja dimulai, Letnan Kolonel Bauer komandan pasukan Belanda telah terluka kena

ranjau. Di saat pasukan Belanda menyeberangi sungai Air Taras diserang oleh pasukan

Padri, sehingga banyak pasukannya yang tenggelam dan mati, karena senjata yang

digunakan macet terendam air. Pertempuran kemudian berkembang menjadi perang

tanding, yang tentunya menguntungkan pasukan Padri. Tetapi karena pasukan Belanda

jauh lebih besar, akhirnya pasukan Padri terdesak dan meninggalkan kubu-kubu pertahanan yang ada di bukit-bukit terjal itu. Kemajuan yang diperoleh pasukan Belanda

di daerah ini tidak langgeng karena tidak berapa lama pasukan Padri datang menyerang

dengan kekuatan sekitar 500 orang.

Karena merasa daerah ini kurang aman, maka pasukan Belanda sebelum

meninggalkannya telah melakukan perampokan dan pembakaran rumah-rumah

penduduk dan ladang-ladang, sehingga menjadi daerah yang hangus terbakar.

Laju pasukan Belanda menuju Bonjol sangat lamban, hampir sebulan waktu yang

diperlukan untuk bisa mendekati daerah Alahan Panjang. Front terdepan dari Alahan

Panjang adalah Padang Lawas, yang secara penuh dikuasai oleh Pasukan Padri. Pada

tanggal 8 Juni 1835 pasukan Belanda yang mencoba maju ke front Padang Lawas

dihambat dengan pertempuran sengit oleh pasukan Padri. Hanya dengan pasukan yang

besar dan kuat persenjataannya dapat memukul mundur pasukan Padri, dan menguasai

front Padang Lawas.

Pada tanggal 11 Juni 1835 pasukan Belanda menuju sebelah timur sungai Alahan

Panjang, sedangkan pasukan Padri berada di seberangnya pasukan musuh yang

bersembunyi di benteng-benteng partahanannya senantiasa mendapat serangan gerilya

dari pasukan Padri, sehingga selama lima hari-lima malam, pasukan musuh tidak dapat

maju dan bahkan kehilangan 7 orang serdadunya mati dan 84 orang luka-luka.

Kampung Bonjol kira-kira 1200 hasta panjangnya dan 400 sampai 700 hasta lebarnya,

sebab bagian selatan dari dinding barat mundur kira-kira 200 hasta ke belakang. Letak

kampung ini antara 1000 atau 1200 hasta dari tepi timur suang Batang Alahan Panjang.

Di timur dan tenggaranya terdapat tebing terjal dan sebuah bukit yang tegak hampir

lurus keatas, yang dengan Bonjol dipisahkan oleh sebatang anak sungai kecil. Bukit ini

Tajadi namanya, menguasai lapangan di setelah barat dan timurnya. Di atas bukit ini

pasukan Padri membuat beberapa kubu pertahanan yang kuat dan baik letaknya, dan

dari sana mereka menembakkan meriam yang bermacam kaliber kepada musuh di

seberang barat Alahan Panjang.

Di kampung itu banyak rumah yang terbuat dari kayu, yang sebagian besar dinaungi

oleh hutan bambu, pohon-pohon kelapa dan pohon buah-buahan. Di sebelah barat dan

utara kampung Bonjol terbentang sawah luas.

Di sebelah timur Bonjol membujur bukit barisan tinggi membujur, yang diselimuti oleh

hutan lehat. Di balik timur bukit barisan itulah terletak tanah Lima Puluh Kota. Tanah di

sebelah selatan dan tenggara Lambah Alahan Panjang ini bergunung-gunung dan berbukit

batu yang benjal-benjol. Keadaan alam ini dipergunakan oleh pasukan Padri

sebagai benteng pertahanan yang paling besar dan menjadi markas besar Imam Bonjol.

Pada umumnya, semak, belukar dan hutan yang sangat tebal di sekitar Bonjol ini,

sehingga kubu-kubu pertahanan pasukan Padri tidak mudah dilihat dari luar. Di tengah

lembah mengalir dan berliku-liku sungai Batang Alahan Panjang dari utara ke selatan.

Pada tengah malam tanggal 16 Juni 1835 pasukan Belanda membuat kubu pertahanan

yang kira-kira hanya 250 langkah dari Bonjol. Dengan menggunakan houwitser, mortir

dan meriam besar, menembaki benteng Bonjol, yang dibalas kontan oleh meriammeriam

pasukan Padri yang berada di bukit Tajadi. Karena posisi yang kurang

menguntungkan pasukan musuh maka banyak pasukannya yang mati dan terluka, oleh

karena itu Letnan Kolonel Bauer meminta kepada Residen Francis untuk memberikan

bala bantuan sebanyak 2000 orang lagi. Dan pada tanggal 17 Juni 1835 bala bantuan itudatang. Pada tanggal 21 Juni 1835, dengan kekuatan yang besar pasukan Belanda

memulai gerakan maju menuju sasaran akhir yaitu Bonjol. Sebelum pasukan musuh

sampai pada sasaran terakhir, di kampung Jambak dan Kota mendapat perlawanan yang

sengit dari pasukan rakyat dan Padri.

Di Bonjol yang merupakan markas besar pasukan Padri telah berkumpul komandankomandan

pasukan Padri yang datang dari daerah-daerah yang telah ditaklukkan

pasukan Belanda, yaitu dari Tanah Datar, Lintau, Bua, Lima Puluh Kuta, Agam, Rao

dan Padang Hilir. Semua bertekad bulat untuk mempertahankan markas besar Bonjol

sampai titik darah penghabisan, hidup mulia atau mati syahid.

Melihat kokohnya benteng Bonjol, disamping banyak tentaranya yang mati dan lukaluka,

pasukan Belanda tidak melakukan gerakan ofensif menyerang Bonjol tetapi

melakukan blokade terhadap Bonjol, dengan tujuan untuk melumpuhkan suplai bahan

makanan dan senjata pasukan Padri. Blokade yang dilakukan Belanda, ternyata tidak

efektif, karena justru benteng-benteng pertahanan pasukan musuh dan bahan

perbekalannya yang banyak diserang oleh pasukan gerilya Padri yang memang berada

di belakang pasukan musuh.

Usaha untuk melakukan serangan ofensif terhadap Bonjol masih menunggu bala

bantuan tentara, walau di sekitar Bonjol pasukan Belanda telah berkumpul, pada awal

Agustus 1835, sekitar 14.000 orang. Baru setelah datang bala bantuan tentara Belanda

yang terdiri dari pasukan Bugis; pada pertengahan Agustus 1835 penyerangan dilakukan

terhadap kubu-kubu pertahanan pasukan Padri yang berada di bukit Tajadi. Satu persatu

kubu-kubu pertahanan strategis pasukan Padri ini jatuh ke tangan pasukan musuh.

Pada tanggal 5 September 1835 pasukan Bonjol menyerbu ke luar benteng

menghancurkan kubu-kubu pertahahan musuh yang dibuat sekitar benteng. Dengan

keberanian yang luar biasa pasukan Padri menyerang benteng-benteng Belanda, yang

banyak menelan korban di kedua belah pihak. Setelah serangan dilakukan, pasukan

Padri segera masuk kembali ke dalam benteng.

Sementara itu pasukan Belanda yang berada di Puar Datar diperintahkan oleh Letnan

Kolonel Bauer maju menuju Bonjol. Dalam perjalanannya pasukan Belanda ini harus

melalui desa Talang. Sesampainya di sini pasukan Padri yang dibantu oleh rakyat

melakukan perlawanan yang sengit, sehingga memaksa pasukan musuh kembali ke Air

Papa dan terus ke Puar Datar. Usaha mendatangkan bantuan untuk menyerang Bonjol

dari jurusan Luhak Lima Puluh Kota gagal.

Kegagalan menyerang Bonjol dari jurusan Luhak Lima puluh Kota, pada tanggal 9

September 1835, serangan ditempuh melalui Padang Bubus. Hasilnya sama, gagal,

bahkan pasukan Belanda banyak yang mati dan luka-luka. Dan Letnan Kolonel Bauer

yang menderita sakit, terpaksa dikirim ke Bukittinggi dan digantikan oleh Mayor

Prager.

Kebijaksanaan Mayor Prager tidak melakukan serangan ofensif ke Bonjol sampai

datangnya bala bantuan baru dari markas besarnya di Bukittinggi. Dalam kesempatan

yang terluang ini, pasukan Padri melakukan serangan gerilya terhadap kubu-kubu

pertahanan Belanda, memusnahkan gudang-gudang perbekalan dan gudang mesiu

bukan saja daerah di sekitar Bonjol, tetapi sampai jauh menyelinap ke Kumpulan,

Sirnawang Gadang dan Puar Datar.

Blokade yang berlarut-larut, menimbulkan keberanian rakyat untuk memberontak

terhadap pasukan Belanda, sehingga pada tanggal ll Desember 1835 rakyat desa Alahan

Mati dan Simpang mengangkat senjata kembali. Tentara Belanda tak mampu mengatasi

pemberontakan rakyat desa-desa ini, sehingga mendatangkan pasukan bantuan dari

serdadu-serdadu Madura. Hanya dengan bantuan pasukan Madura, Belanda dapat

memadamkan pemberontakan ini. Di desa Kumpulan juga terjadi peristiwa yang sama,

yaitu pemberontakan terhadap pasukan musuh.

Gerakan maju pasukan Belanda menyerbu benteng Bonjol yang tinggal beberapa ratus

kilometer, dalam tiga bulan ini, hampir-hampir tidak mengalami kemajuan yang berarti,

malah sebaliknya daerah-daerah yang telah ditaklukkan kembali memberontak; dan

tidak sedikit menimbulkan korban bagi pasukan musuh. Sambil menunggu bala bantuan

dari Batavia, Belanda mencoba melakukan perundingan dengan pasukan Padri.

Perundingan, yang sebenarnya hanya untuk mengulur-ulur waktu saja, ternyata ditolak

oleh ImamnBonjol. Peluang waktu ini dipergunakan oleh Imam Bonjol untuk

membangkitkan rakyat yang tinggal di garis belakang pasukan musuh untuk berontak.

Setelah kegagalan perundingan ini, dan tambahan pasukan dari Batavia telah tiba, maka

pada tanggal 3 Desember 1836, pasukan Belanda melakukan serangan besar-besaran

terhadap benteng Bonjol, sebagai pukulan terakhir penaklukkan Bonjol. Serangan

dahsyat mampu menjebol sebagian benteng Bonjol, sehingga pasukan Belanda masuk

menyerbu dan berhasil membunuh putera serta keluarga Imam Bonjol. Tetapi serangan

balik pasukan Bonjol (Padri) mampu memporak-porandakan musuh sehingga terusir

keluar benteng dengan meninggalkan banyak sekali korban.

Kegagalan penaklukkan benteng Bonjol sekarang ini benar-benar memukul

kebijaksanaan Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia. Oleh karena itu Gubernur

Jenderal Hindia Belanda mengirimkan panglima tertingginya Mayor Jenderal Coclius

ke Bukittinggi untuk memimpin langsung serangan ke benteng Bonjol untuk kesekian

kalinya. Dengan mengunakan pasukan artileri yang bersenjatakan meriam-meriam besar

untuk memboboIkan benteng; diperkuat dengan pasukan infantri dan kavaleri, pasukan

Belanda memulai lagi serangannya ke benteng Bonjol.

Serangan yang bertubi-tubi dan dahsyat dengan hujan peluru meriam, masih memerlukan

waktu yang cukup lama, kira-kira 8 bulan lamanya. Setelah bukit Tajadi jatuh pada

tanggal 15 Agustus 1837, maka pada tanggal 16 Agustus 1837 benteng Bonjol yang

anggun dapat ditaklukkan. Tetapi tak berhasil menangkap Imam Bonjol, karena sempat

mengundurkan diri keluar benteng dengan pasukan Padri yang mendampinginya dan

terus menuju daerah Marapak. Imam Bonjol mencoba mengadakan konsolidasi terhadap

pasukannya yang telah bercerai-berai dan lemah, karena telah lebih 3 tahun bertempur

melawan Belanda, ternyata sia-sia. Hanya sedikit saja lagi pasukan yang masih siap

bertempur.semuanya. Dalam kondisi seperti ini, tiba-tiba datang surat tawaran dari Residen Francis di Padang untuk mengajak Imam Bonjol berunding.

Melihat kenyataan semacam ini, Imam Bonjol menyerukan kepada pasukannya yang

terserak di mana-mana untuk kembali ke kampung halamannya masing-masing, untuk

memulai hidup baru sebagai rakyat biasa. Dan yang memang benar-benar tak ada lagi

semangat berjuang, dibenarkan untuk menyerah kepada Belanda.

Dalam pelarian dan persembunyiannya Imam Bonjol dengan pengawalnya dari hutan ke

hutan, lembah dan ngarai, memang sangat melelahkan, penderitaan kurang makan,

kurang tidur, sakit dan lelah mengakibatkan para pengawalnya hampir-hampir matisemuanya. Dalam kondisi seperti ini, tiba-tiba datang surat tawaran dari Residen Francis di Padang untuk mengajak Imam Bonjol berunding.

Setelah dirundingkan bersama antara Imam Bonjol dan para stafnya, tawaran

perundingan dari Residen Francis di terima. Daerah perundingan dipilih Pelupuh, di

mana Imam Bonjol akan bertemu langsung dengan Residen Francis. Pada tanggal 28

Oktober 1837 Imam Bonjol dengan stafnya keluar dari Bukit Gadang menuju Pelupuh.

Sesampainya di Pelupuh, bukannya perundingan yang terjadi, tetapi sepasukan Belanda

telah siap menangkap Imam Bonjol dengan stafnya. Karena Imam Bonjol dan stafnya

tidak membawa senjata, sesuai dengan syarat-syarat perundingan akhirnya dengan

mudah pasukan Belanda menangkap Imam Bonjol dan stafnya. Dari Pelupuh Imam

Bonjol di bawa ke Bukittinggi dan terus ke Padang. Pada tanggal 23 Januari 1838

dipindahkan ke Cianjur, dan pada akhir tahun 1838 itu juga Imam Bonjol dipindahkan

ke Ambon. Baru tanggal 19 Januari 1839 Imam Bonjol dipindahkan ke Menado. Di sini

ia menemui ajalnya pada tanggal 8 Nopember 1864, setelah menjalani masa

pembuangan selama 27 tahun lamanya.

Dari fakta-fakta sejarah yang terungkap di muka, terlihat dengan gamblang bahwa sejak

awal timbulnya gerakan Padri sampai meletusnya Perang Padri dan tertangkapnya Imam

Bonjol sebagai pemimpin Padri terbesar, adalah satu usaha perjuangan politik merebut

kekuasaan guna dapat menjalankan Syari’at Islam dengan utuh dan murni. Umat Islam

Sumatera Barat dengan kaum Padrinya, sama dengan Diponegoro dengan Perang

Jawanya, mempunyai tujuan politik yang sama yaitu berdirinya satu negara yang

melaksanakan ajaran Islam secara utuh dan konsekwen. Dengan kata lain, perjuangan

Diponegoro dan Imam Bonjol mempunyai tujuan yang satu yaitu berdirinya Negara

Islam.

Sumber : PERANG SABIL versus PERANG SALIB Ummat Islam Melawan Penjajah Kristen Portugis dan Belanda

Oleh: ABDUL QADIR DJAELANI/Anggota DPR RI

Penerbit:YAYASAN PENGKAJIAN ISLAM MADINAH AL-MUNAWWARAH

Jakarta 1420 H / 1999 M