Sejarah Kesultanan Islam Demak ; Kekuasaan dan Kejayaannya

Kesultanan Demak merupakan negara Islam pertama di Jawa, yang berdiri pada abad ke 15. Setelah didaulat menjadi Sultan Demak, Jin Bun menggunakan gelar Al Fatah dengan nama lengkapnya ; Sultan Fattah Syeh Alam Akbar Panembahan Jinbun Abdul Rahman Sayyidin Panatagama Sirullah Khalifatullah Amiril Mukminin Hajjudin Khamid Khan Abdul Suryo Alam di Bintoro Demak”.

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_De_moskee_van_Demak_TMnr_60054754

 

Genealogi Demak

Tanda tanda keruntuhan majapahit mulai nampak sejak wafatnya Patih Gajah Mada (1364 M), beberapa dekade berikutnya Prabu Hayam Wuruk mangkat. Penggantinya, Wikramawardhana, ternyata tidak mampu menjadi pemersatu, sehingga majapahit keropos. Majapahit juga lemah dalam menjaga wilayah demarkasinya dari pengaruh luar. Pada tahun 1405 M utusan Dinasti Ming, Laksamana Ceng Ho mulai mengadakan ekspansi ke nusantara. Ceng ho tampil sebagai tokoh muslim yang berhasil mewujudkan asimilasi Cina,Islam dengan masyarakat nusantara.

Keroposnya majapahit disebabkan karena terjadinya perang saudara (perang paregreg) antara Wikramawardhana (menantu Hayam Wuruk) dengan Bre Wirabumi (Putra Hayam Wuruk dari selir). Perang ini agak mereda setalah Bre Wirabumi dapat dikalahkan oleh oleh Wikramawardhana dalam sebuah penyerbuan ke istana Bre Wirabumi.  Namun akibat penyerangan ini 170 orang Cina tewas secara tidak sengaja oleh pasukan Wikramawardhana. Para penyerbu tidak menyadari kehadiran orang Cina yang sedang singgah di istana Bre Wirabumi. Atas peristiwa ini Wikramawardhana dituntut membayar ganti rugi 60 ribu tail emas kepada Cina.

Majapahit pun akhirnya menjalin kerjasama dengan dinasi ming (Cina).

Menurut Prof.Slamet Muljana, hegemoni Cina terjadi melalui pernikahan raja-raja majapahit dengan selir selir Cina.  Diantaranya Wikramawardhana memiliki anak dari selir Cina bernama Swan Lion alias Aria Damar (Adipati di Palembang)

Setelah Wikramawardhana mangkat, Ratu Suhita putrinya menjadi penguasa majapahit (1426 M). ketika Ratu Suhita mangkat adik laki-lakinya Kertawijaya naik tahta, yang bergelar Brawijaya I.

Sampailah dimasa Brawijaya V, raja majapahit ini mempunyai dua orang selir (Cina dan Campa), karena terjadi perselisihan diantara dua selir ini. Akhirnya selir Cina di asingkan ke Palembang (Adipati di Palembang) . Disana dia melahirkan anak laki-laki yang bernama Jin Bun (Raden Patah). Pernikahan selir Cina denan Adipati Palembang melahirkan anak yang bernama Kin San (Raden Kusen).

Saat dewasa kedua anak ini kembali ke Jawa menemui Raja Brawijaya V, sang raja memberi Jin Bun untuk membuka pemukiman baru di daerah Glagah Wangi Bintoro Demak.

Jin Bun dan Kin San dididik dalam tatanan warna budaya Cina dan Islam. Atas bujukan Sunan Ampel, Raja Brawijaya V menunjuk Jin Bun menjadi Adipati Demak.

Inilah cikal bakal kekuasaan Demak yang menjelma menjadi sebuah wilayah dengan kekuasaan bercorak Islam.

Meskipun baru berusia 23 tahun, dia dengan mudah menaklukan ayahnya Brawijaya V, ditawan dengan penuh kehormatan.

Sejak saat itu majapahit masih eksis, dengan raja baru Brawijaya VI, tetapi menjadi negara bawahan Demak. Pada 1527 M imperium majapahit runtuh sama sekali setelah mendapat serangan dari pasukan Sunan Gunung Jati. Karena terbukti majapahit menjalin kerjasama dengan Portugis.

Kesultanan Demak merupakan negara Islam pertama di Jawa, yang berdiri pada abad ke 15. Setelah didaulat menjadi Sultan Demak, Jin Bun menggunakan gelar Al Fatah dengan nama lengkapnya ; Sultan Fattah Syeh Alam Akbar Panembahan Jinbun Abdul Rahman Sayyidin Panatagama Sirullah Khalifatullah Amiril Mukminin Hajjudin Khamid Khan Abdul Suryo Alam di Bintoro Demak”.

Dalam Babad Tanah Jawi menyebutnya sebagai Raden Fattah. Adik tirinya Raden Kusen diserahi penguasaan atas wilayah semarang.

Pada tahun 1479 M , Raden Fattah meresmikan Mesjid Agung Demak.masjid-demak-1

Mesjid ini menjadi sebuah Mahakarya Kesultanan Demak, berlokasi di sebelah barat alun alun kota Demak. Ini menjadi pakem denah yang berlaku pada kerajaan kerajaan muslim di Jawa selanjutnya.

Mesjid Demak merupakan mesjid tertua di pulau Jawa. Menempati lahan seluas 1,5 hektar, mesjid ini terdiri atas tiga bagian, yakni ruang utama, pawestren, dan serambi. Serambi mesjid adalah ruang terbuka yang dinaungi atap berbentuk limas. Jaman sekarang mesjid Demak dilengkapi dengan museum yang menampilkan lebih dari 60 koleksi tentang Kesultanan Demak.

Tatanan Demak

Sejak masih menjadi kadipaten Demak dibangun bersama sama Raden Fattah dengan Wali Songo. Mereka mempunyai visi tentang kebesaran Islam di tanah Jawa. Negara Demak memberi ruang pada prinsip prinsip musyawarah mufakat, alih alih pengutamaan pada kedudukan raja.

Rendra (pidato Magatruh,10 Nopember 1997)  menyebutnya bahwa zaman Kesultanan Demak “orang-orang Jawa menguasai setiap jengkal tananya. Tidak ada kekuatan asing yang bisa melecehkan kedaulatan tanah air mereka”.

Prof Hamka (buku ; sejarah umat islam) mengatakan “bahwa raja raja hindu diJawa tampaknya lebih takut pada perkembangan islam dari timur dibanding ekspansi kristen dari barat.

Tahun 1511 M armada Portugis dibawah pimpinan Alfonso de Albuquerque menaklukan Malaka. Praktis Demak menjadi satu-satunya kedaulatan islam di nusantara. Dengan suatu perjanjian Kerajaan Padjadjaran dengan Portugis (1522 M), didirikanlah benteng Portugis di Sunda Kelapa.

Kondisi ini menyulut perlawanan Demak, tahun 1526 M de Albuquerque menerjunkan enam kapal perang, 600 prajurit, dibawah pimpinan Fransisco de sa ke sunda kelapa. Demak dipimpin oleh Sultan Trenggono (putra Raden Fattah) untuk mengantisipasi pasukan Fransisco de sa dengan mengirim 20 kapal perang, 1500 prajurit dibawah komando Fattahilah.

Pasukan Fattahillah tidak langsung menuju sunda kelapa, melainkan ke Banten. Tujuannya untuk mempertahankan dan menjadikan daerah sekitar pelabuhan sebagai basis kekuatan.

Akhir 1526 M banten dapat dikendalikan dengan menempatkan Maulana Hassanudin Putra Sunan Gunung Jati sebagai wakil Demak.

Pada tahun 1527 M barulah Fattahillah menyerang Sunda Kelapa, dan berhasil dikuasai. Pasukan Portugis kembali ke Malaka. Sejak tanggal 22 Juni 1527 kota pelabuhan ini berganti nama menjadi Jayakarta ( berarti ; Kemenangan Besar). tanggal itu sampai sekarang diperingati sebagai hari lahir Kota Jakarta.

Era Sultan Trenggono merupakan era kejayaan Kesultanan Demak. Penduduk daerah pedalam Jawa Tengah dan Jawa Timur berangsur-angsur masuk islam. Bahkan pengaruh Demak menjalar sampai ke Banjar dan Kutai. Selain berjaya dalam urusan syiar agama, Demak juga berjaya dalam urusan ekonomi. Dengan bertumpu pada jalur maritim, pesisir utara Jawa menjadi pusat perdagangan. Masyarakat pesisir utara Jawa juga menolak berkongsi dengan bangsa asing.

Pada 1546 M Sultan Trenggono wafat, penggantinya putranya sendiri Raden Prawoto, tidak mampu mempertahankan pusat kendali kekuasaan Demak. Daerah Jawa Timur mulai lepas dari Demak. Tiga tahun berselang Raden Prawoto tewas menjadi korban pembunuhan yang dilakukan Arya Penangsang.

Yang menjadi alasannya karena Raden Prawoto dituduh dalang dalam pembunuhan atas Surowiyoto (ayah kandung Arya Penangsang). Arya Penangsang kemudian dibunuh oleh persekutuan Joko Tingkir, Ki Ageng Pamanahan, Raden Sutowijaya, dan Ki Penjawi. Joko Tingkir dikenal sebagai pendiri Kesultanan Pajang (sekitar daerah Boyolali dan Klaten).  Semasa Sultan Trenggono, Joko Tingkir menjadi Adipati Pajang dengan Gelar Hadiwijaya.

Pada 1568 M, Joko Tingkir melakukan kesepakatan dengan para adiapati di Jawa Timur sehingga mengakui kedaulatan Pajang.

Sejak itulah berdirilah Kesultanan Pajang yang berorientasi pedalaman. Joko Tingkir beranggapan Pajang sebagai penerus Demak yang berdaulat di Jawa Tengah. Kelak tahun 1587 M, Pajang dapat disisihkan Mataram yang didirikan oleh Sutawijaya yang bergelar Panembahan Senopati, merupakan Raja Mataram I.

Tafsir Riwayat Kesultanan Demak

Sejarawan UGM, Prof Kuntowijoyo menafsirkan bahwa pendirian Demak menandakan kemenangan kelas saudagar yang bermental maritim atas kelas aristokrat yang bermental agraris (representasi raja-raja majapahit).

Era Demak menunjukan kedaulatan ekonomi nusantara yang bertumpu pada perdagangan laut. Namun jatuhnya Malaka ke tangan Portugis mulai menumpulkan harapan ini.

Dengan kegagalan Demak menyerang Malaka 1546 M dan diperparah dengan kemunculan negara agraris (Mataram) yang mulai memerintah pulau Jawa. Sejak saat itu daulah Islam yang hadir di Jawa cenderung memunggungi laut. Ditambah dengan kedatangan bangsa Belanda memperparah kondisi saat itu.

Pada jaman Demak telah mulai nampak untuk memadukan dakwah dengan politik. Para ulama, khususnya Walisongo berperan penting sebagai penasehat penguasa, bahkan menentukan jalannya pemerintahan.

Keadaan sebaliknya terjadi saat Demak mengalami kemunduran. Raja raja Jawa kehilangan kehormatan dimata bangsa eropa yang hadir di nusantara.

Pada masa Mataram inilah muncul perpecahan antara agama dan politik atau islam dengan negara. Mataram menyibukan diri menegakan kekuasaanya dengan menyerang kaum pedagang muslim. Keraton Mataram secara ironis hanya dapat bertahan dengan bantuan kekuasaan Belanda tulis Kuntowijaya dalam bukunya Paradigma Islam.

Dikutip dari Islam Digest HU.Republika 1 April 2018 hal 15-16.