TRIK MENGHINDARI SIKAP DEFENSIF

Didalam proses komunikasi bisa saja seseorang dapat menjadi defensif (bertahan diri) bila ia merasa terancam atau tersinggung harga dirinya. Orang yang memiliki sikap defensif akan berkurang keefektifan komunikasinya. Mengapa ?, karena ia sibuk dengan usaha mengembalikan dan melindungi gengsinya di hadapan orang lain. Kesepakatan dan keputusannya menjadi sulit diambil. Demikian juga pengertian dan dukungan terhadap gagasannya menjadi sukar didapat.

Berikut ini ada beberapa cara untuk menghindari munculnya sikap defensif dari lawan bicara kita.

  1. Bicaralah deskriptif dan jangan evaluatif.

Berbicara deskriptif adalah memaparkan keadaan atau pendapat tanpa menilai pendapat orang lain. Berbicara evaluatif yaitu membandingkan pendapat kita dengan pendapat orang lain atau menyatakan kualitas pendapat orang lain. Pernyataan-pernyataan evaluatif memiliki potensi untuk merangsang sikap defensif. “saya suka mobil yang warnanya biru”. Pernyataan deskriptif dari lawan bicara seperti “O ya, memang saya suka lihat mobil yang warnanya biru. Saya sendiri suka mobil yang warnanya kuning” lebih baik daripada pernyataan evaluatif seperti “Saya kira warna biru terlalu gelap untuk mobil. Warna kuning lebih bagus”.

  1. Berorientasi pada masalahnya, bukan pada orangnya.

Berorientasi pada masalah berarti mementingkan aspek “apa” bukan aspek “siapa”. Orang menjadi defensif bila dirinya atau kelompoknya didefenisikan atau dikategorikan secara tertentu oleh orang lain. Contoh pernyataan, “Saya kira masalah terbesar di Indonesia dewasa ini adalah rendahnya mutu pendidikan”. Kalau dijawab dengan pernyataan yang berorientasi pada orang dari lawan bicara’ “Ya, orang-orang pendidikan memang selalu menyatakan demikian karena mereka kurang melihat masalah secara keseluruhan. Sebenarnya masih banyak masalah lain yang tak kalah pentingnya, misalnya rendahnya produksi pertanian”. Bandingkan dengan pernyataan “Ya, saya kira begitu. Disamping itu, masalah rendahnya produksi pertanian juga merupakan masalah penting”.

Pernyataan yang berorientasi pada orang dalam bentuk mengontrol integritas perilaku orang juga dapat dilihat dalam bentuk “mengejar jawaban”, sehingga lawan bicara terpojok.

  1. Berbicaralah secara spontan dan jangan secara strategis.

Berbicara spontan adalah menyatakan pendapat secara tulus dan tanggap sesuai dengan perkembangan pembicaraan. Jika anda berbicara secara straregis, berbelit-belit dan tidak jelas maksudnya, orang akan merasakan bahwa anda sedang menyembunyikan sesuatu. Kekhawatiran seperti ini dapat menimbulkan sikap defensif lawan bicara kita. “Bagaimana pendapat anda mengenai usul saya agar kita menerbitkan majalah khusus anggota”.

Pernyataan secara strategis dari lawan bicara, “saya bukan tidak setuju. Tapi, apakah itu memang yang kita perlukan saat ini ? Saya sudah hubungi anggota lain, kelihatannya ada perbedaan pendapat. Nantilah saya bicara dulu dengan saudara ketua, tampaknya dia juga punya rencana lain”.

  1. Bersikaplah tenggang rasa (empathy) dan jangan bersikap netral.

Bersikap tenggang rasa (empathy) yaitu berusaha untuk menempatkan diri pada kondisi atau perasaan orang lain. Orang yang berempati berusaha memahani orang lain, sebaliknya sikap netral adalah cerminan ketidakpedulian dan menunjukkan sikap superior. “Bagaimana, apa saudara setuju ?” Pernyataan sikap netral dari lawan bicara, “Kalau itu yang diinginkan, ya terserah saja”.

  1. Bersikaplah nisbi dan jangan bersikap mutlak.

Bersikap nisbi artinya memberi peluang adanya kemungkinan kekeliruan. Sikap mutlak tidak memberi peluang itu. Orang cenderung menjadi deskriptif bila ia dihadapkan kepada hal yang mutlak yang tidak memberi alternatif lain. “Apakah si Badu bisa datang ?” Pernyatan yang bersikap mutlak dari lawan bicara, “Dia pasti datang. Sudah saya hubungi”.

  1. Bersikaplah sama-rendah dan jangan bersikap unggul-diri.

Sikap unggul diri (superior) merupakan penyebab paling ampuh untuk menimbulkan sikap defensif pada orang lain. Menggurui adalah salah satu bentuk dari sikap merasa unggul diri. Begitu juga sikap diam yang tidak pada tempatnya atau sikap netral yang bersumber dari ketidakpedulian adalah bentuk lain dari sikap unggul diri.

Sikap unggul diri tidak hanya tampak secara verbal, tetapi juga secara non-verbal, seperti gerajk tubuh, mimik, menggunakan jarak dan ruang, penekanan suara dan sebagainya. Unggul diri adalah sikap khas orang otoriter. Sikap ini perlu dihindari bila komunikasi ingin berjalan efektif.